BLITAR - Komunitas yang berisi anak-anak muda, namun penyuka barang-barang antik dan vintage?.
Jangan salah, komunitas ini tak ingin barang antik itu terkait dengan hal-hal berbau keramat. Ya, mereka bergabung untuk mengingatkan kembali berbagai barang lawas yang lebih identik ke budaya industrial.
ADA yang berbeda di salah satu stand Blitar Tempoe Doeloe (BTD) 2024. Ya, di sela sela stand makanan, ada salah satu stand yang menjajakan sekumpulan barang antik dan vintage.
Stand ini diatur sedemikian rupa hingga tersaji sebuah ruang apik berisi aneka macam barang-barang lama, mulai dari kamera klise, proyektor, buku dan komik lama, lampu meja, rokok-korek lama, helm, kaset pita, tape recorder, koran lama, neon box, dan iklan-iklan lama yang terbuat dari seng, serta aneka barang lainnya.
Koordinator Komunitas Antikan Masa Iyaa, Nanda Dwi Asmara ini mengaku, bahwa bergabungnya teman-teman sehobi, dan senang mengoleksi barang-barang antik adalah awal mulai komunitas terbentuk.
Kurang lebih sejak 2017 lalu kerap menggelar kegiatan dan menggelar pameran antik dan vintage.
“Biasanya kami rutin mengadakan kopdar, dan di saat kopdar tersebut kami biasanya sharing antar anggota mengenai informasi barang-barang yang kami suka,” ungkap pria yang juga guru di salah satu sekolah dasar ini.
Menurut Nanda, untuk mendapatkan unit koleksi barang antik dari berbagai sumber, ada yang memang khusus untuk hunting barang, kemudian ada yang memasarkan, dan biasanya barang-barang tersebut disebarkan antar-anggota lebih dahulu, baru kemudian dijual baik secara online maupun offline.
“Teman-teman yang tergabung dalam komunitas memiliki tugas masing-masing, dan rata-rata teman-teman ini memiliki gallery di rumahnya masing-masing.
Semoga ke depan ada salah satu lokasi untuk pemasaran barang-barang antik, seperti bazar Blitar jadoel ini,” terang owner dari Mahija Vintage Market.
Anggota lain, Hidayat Dhasar Sujanmo mengaku, tidak menutup kemungkinan untuk menjual koleksi barang-barang antiknya jika ada penawaran yang menarik, dan untuk harganya juga bervariasi, tergantung pada jenis suatu barang.
Baca Juga: DPRD Kota Blitar Ikut Semarakkan Blitar Djadoel 2024, Event Inovatif untuk Dongkrak Potensi UMKM
“Kalau untuk harga sendiri bervariasi, mulai dari sepuluh ribu hingga ratusan ribu, bahkan sampai jutaan jika memang benar-benar antik. Bisa dibilang kami ini adalah kolekdol alias koleksi dan di-dol,” ungkap pria ramah ini.
Komunitas ini, jelas Dayat, beranggotakan teman-teman muda, mereka ingin agar orang-orang penyuka antik ini tidak identik dengan barang-barang yang keramat dan bertuah.
Karena memiliki konsep berbeda dengan komunitas dan kolektor barang antik yang selama ini dipandang sebelah mata oleh masyarakat.
“Kami menjual barang-barang antik dan vintage yang lebih industrial. Saya dan teman-teman ini ingin mengubah image yang beredar di masyarakat selama ini, bahwa koleksi barang antik identik dengan barang keramat dan bertuah, zamannya antikan sekarang sudah berubah,” ungkapnya.
Dia berharap, di Blitar Raya komunitas dan kolektor-kolektor barang antik dan vintage semakin berkembang.
Prinsipnya barang-barang ini bukan untuk disimpan, tapi justru dipajang dan menjadi interior maupun eksterior yang membuat ruang atau bagian rumah semakin indah dan terkesan lama.
“Semoga kedepannya dunia barang antik semakin berkembang, dan makin banyak event untuk mewadahi penggemar dan komunitas barang antik, mengingat penggemarnya sendiri semakin banyak di Blitar raya,” pungkasnya. (ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila