BLITAR - Berbicara tentang Korea Selatan seperti tidak ada habis-habisnya seiring dengan terpaan “Korean wave” yang mengguncang tanah air.
Hal itu juga dimanfaatkan kalangan pengusaha kuliner untuk menggaet para pencinta Korea. Seperti inovasi Korean food (K-food) ala Panca Marfuan, warga Desa Purworejo, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar.
Suasana kedai K-food yang berada di Kelurahan Rembang, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, begitu riuh. Waiters hilir mudik mengantarkan pesanan para pelanggan.
Sesosok pria tampak duduk santai menerima pesanan pelanggan. Dengan ramah, dia menyapa pelanggan yang hendak memesan. Dia adalah owner kedai K-food, Panca Marfuan.
“Saya dulu kerja di Korea selama sepuluh tahun. TKI di bidang pabrik pipa tambang. Nah, kalau weekend kan libur tuh, saya kerja part time di salah satu resto di sana,” ungkapnya, membuka obrolan.
Pria yang tak ingin selamanya terbuai dengan kenikmatan menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) ini menceritakan bahwa titik baliknya memulai usaha bermodalkan pengalaman tinggal di Korea.
Kembali ke Indonesia pada 2020 silam, dia bersama sang istri melakukan banyak trial dan error untuk mencoba resep masakan khas Korea.
“Saya juga banyak research, bagaimana hidangan Korea ini bisa cocok untuk lidah masyarakat lokal ya. Memang, basic masakan Korea itu hambar, jadi di sini kalau masak itu lebih ditajamkan bumbu-bumbunya untuk menyesuaikan lidah orang Indonesia,” jelas pria berkacamata itu.
Bisnis yang digelutinya ini mulanya dijalankan melalui daring dengan sistem order by request, atau baru dimasak ketika ada pembeli yang pesan.
Setahun setelahnya, pada awal 2021, dia memberanikan diri membuka outlet yang berada di Kelurahan Rembang ini.
Baca Juga: Megawati dan Rombongan Dijadwalkan Hadiri Haul Sang Ayah di Blitar, Pemkot Sibuk Persiapkan Hal Ini
“Kami menawarkan tujuh menu utama. Tentu tiap menu punya varian turunan lagi. Omzet harian bisa Rp 2-3 juta. Kalau diakumulasi dari tiga outlet, ya kisaran Rp 5 juta per harinya,” ucapnya sambil tertawa.
Dia mengaku, bahan untuk saus oriental didatangkan langsung dari Korea. Akan tetapi, pengolahan saus dilakukan sendiri olehnya untuk menyesuaikan dengan lidah Indonesia, khususnya pelanggan dari Blitar.
“Ya karena ada bahan yang tidak bisa digunakan karena non-halal. Kalau di sana kan masaknya juga pakai arak atau alkohol, ada yang pakai minyak babi juga.
Tentu di sini, dengan masyarakat yang mayoritas muslim, harus diracik sedemikian rupa agar rasanya tetap oriental dan halal untuk masyarakat,” pungkas pengusaha yang kini memiliki tiga outlet khusus berjualan masakan ala Korea ini. (*/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila