Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Ciptakan Cuan dari Barang Bekas, Warga Blitar Ini Sulap Paralon Jadi Lampu Hias, Begini Prosesnya

Mohammad Syafi'uddin • Senin, 1 Juli 2024 | 02:28 WIB
KREATIF: Bayhaqi menunjukan salah satu lampu malam dari paralon hasil buatannya.
KREATIF: Bayhaqi menunjukan salah satu lampu malam dari paralon hasil buatannya.

BLITAR - Memulai sebuah usaha tidak perlu biaya mahal. Hal ini dubuktikan oleh Muhammad Baihaki, warga Kelurahan Babatan, Kecamatan Wlingi. 

Dia berinovasi membuat kerajinan dari bahan paralon bekas. Dari keisengannya inilah, pundi-pundi cuan mengalir deras.

MEMBUAT sebuah kerajinan dan menghasilkan uang tidak perlu banyak menghambur-hamburkan uang. Hal ini dibuktikan oleh Muhammad Baihaki.

Dengan keterampilanya, dia mampu menyulap barang bekas menjadi kerajinan yang berkualitas dan memiliki harga jual yang cukup tinggi.

Dia mengaku hanya membutuhkan beberapa alat untuk membuat paralon menjadi lampu hias. 

Seperti gerinda, paralon, amplas, dan bor mini ukuran 0,5 milimeter, 0,6 milimeter, hingga 0,1 milimeter atau menyesuikan dengan lebar kecil bentuk pola.

Setelah itu, penentuan lebar dan panjang paralon yang akan digunakan untuk hiasan lampu malam. 

“Ukurannya ini menentukan lebar gambar dan pesanan klien, jadi tidak bisa asal potong. Biasanya tingginya itu sekitar 30 sentimeter. Untuk memotongnya, saya menggunakan gerinda atau gergaji besi,” terangnya.

Setalah menentukan panjang paralon ini, tahapan selanjutnya ialah membersihkan paralon dengan cara diamplas. 

Tindakan ini diperlukan agar serabut atau sisa potongan dan lapisan melamin yang melekat bisa berkurang. 

Gunanya agar gambar yang diinginkan oleh klien bisa ditransfer pada paralon dan mudah untuk dikerjakan.

“Tentunya, gambarnya sudah saya desain agar sesuai dengan panjang dan lebar paralon. Saat penempelan di paralon juga harus digaris agar gambar ini presisi. Jangan lupa, posisi kertas ini harus mirror agar gambar tidak terbalik saat jadi,” imbuhnya.

Tidak sekadar kertas, pemilihan kertas ditentukan dengan jenis barang yang akan dibuat.

Jika ingin membuat hiasan lampu dari gambar atau foto, penggunaan kertas karton diperlukan. Tujuannya agar garisan foto bisa lebih jelas dan memiliki garis detail yang banyak.

Selain itu, dengan pemanfataan kertas ini, permainan gelap terang pada paralon nantinya bisa dilakukan. Kemudian untuk kaligrafi itu biasa menggunakan kertas foto. 

Kertas ini tidak bisa sama dengan kertas karton. Soalnya tidak bisa digunakan untuk gelap terang.

Selain pemilihan kertas, tinta yang digunakan harus tinta serbuk. Ini karena tinta cair tidak bisa menyalin gambar. 

Sementara untuk proses transfernya, Baihaqi biasanya menggunakan tiner berkualitas dan kapas agar lukisan di kertas bisa tersalin di paralon.

“Kalau di tahap ini tinggal menggosok perlahan hingga merata. Jika sudah, kertas bisa dilepas,” terang pria 29 tahun itu.

Semua proses tersebut masih dalam tahap setengah jadi. Langkah selanjutnya ialah pengukiran.

Dari semua proses, langkah ini merupakan tahap yang paling memakan waktu. Bahkan, jika gambar rumit, pengerjaan satu paralon bisa memakan waktu sebulan.

“Itu wajar soalnya membutuhkan kedetailan dan ketelitian. Setelah itu tinggal pembersihan sisa-sisa yang menempel. Dan terakhir, pembuatan dudukan lampu. Baru bisa selesai semua tahapnya,” terangnya. (mg2/1/ady)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#usaha #Kecamatan Wlingi #lampu hias #barang bekas #paralon