BLITAR - Beberapa bulan lalu, harga kopi di Blitar Raya sempat mengalami penurunan hingga menyentuh harga Rp 63 ribu per kilogram (kg).
Akan tetapi, memasuki September ini, harga kopi mengalami kenaikan menjadi Rp 70 ribu per kg setelah panen raya.
Kenaikan harga kopi ini tidak diimbangi dengan persediaan kopi yang melimpah atau stok kopi yang ada di Blitar Raya sangat sedikit.
Hal tersebut bakal berdampak pada para pengusaha kopi yakni kafe dan roastery. Dengan persediaan kopi yang sedikit ini, harga kopi diprediksi tetap akan mengalami kenaikan kembali hingga akhir tahun 2024 dan bertahan sampai masuk ke tahun 2025.
Selain itu, dengan kenaikan harga yang tidak dibarengi persediaan kopi yang ada, kopi di Blitar bakal mengalami kelangkaan.
“Kemungkinan di Blitar bisa jadi akan ada kelangkaan kopi, karena panen tahun ini sangat berbeda dari 2-3 tahun lalu,” ungkap Ketua Asosiasi Kopi Indonesia (ASKI) Blitar Raya, Ahrian Festyananda.
Untuk itu, pria yang akrab disapa Rian ini memberikan masukan bagi para roasterydan pengusaha kafe atau kedai kopi untuk mengantisipasi kelangkaan kopi.
Salah satunya dengan menambah persediaan kopi sebanyak mungkin.
“Jika di pasaran tidak tersedia barang, ya kita masih bisa impor kopi Brazil atau Vietnam,” katanya.
Di Blitar, kopi yang paling populer yakni berjenis robusta dan arabika.
Kopi ini diambil dari beberapa daerah di Blitar Raya yang sudah distandarisasi melalui beberapa grade karena karakteristik tiap biji kopi berbeda-beda.
Sementara itu, kopi arabika merupakan jenis kopi yang sangat populer di dunia dan menyumbang sekitar 60-70 persen dari produksi kopi global. (nan/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila