Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Menilik Sentra Produsen Tape di Dusun Pangkru Blitar, Begini Rahasia Menjaga Keotentikan: Jaga Rasa, Jaga Kualitas

Muhamad Ilham Baha’udin • Selasa, 24 September 2024 | 18:00 WIB
LEGENDARIS: Sunarko menata singkong yang telah diberi ragi untuk difermentasi menjadi tape yang berkualitas.
LEGENDARIS: Sunarko menata singkong yang telah diberi ragi untuk difermentasi menjadi tape yang berkualitas.

BLITAR - Menjaga keotentikan jajanan tradisional tape bagi Sunarko menjadi suatu kewajiban. Bahkan, selama hampir 30 tahun, warga Dusun Pangkru, Desa Bendowulung, Kecamatan Sanankulon, ini tetap mengolahnya secara tradisional demi menjaga kualitas produk.

Terik matahari siang itu tak menghalangi Sunarko dan  pekerjanya untuk memproduksi tape. Ketika Jawa Pos Radar Blitar berkunjung ke tempat produksinya, tampak beberapa orang sibuk mengupas singkong yang akan diolah menjadi tape.

Sementara Sunarko turut berada di tengah-tengah memantau dan membantu produksi. Dialah pemilik usaha produksi tape singkong tersebut. Usaha tapenya terbilang legendaris.

“Saya mulai produksi tape pada 1994. Keterampilan membuat tape ini telah dipelajari turun-menurun dari ayah dan kakek. Memang, dulu saya sempat berhenti produksi dan merantau ke Kalimantan, tapi kemudian kembali lagi mengolah tape,” ungkapnya, Senin (16/9) pekan lalu.

Ketika awal memproduksi tape, dia menjajakan sendiri tape buatannya ke berbagai pasar tradisional. Seiring berjalannya waktu, tape produksinya mulai dikenal oleh masyarakat. Namun, usahanya itu tak selamanya berjalan mulus.

“Dulu pernah jualan di Pasar Templek dan rame. Lalu, ada rencana pembangunan, saya pindah sehingga penjualan sepi. Sempat tutup sementara karena bekerja sebagai sopir bus di Kalimantan agar bisa mencukupi kebutuhan keluarga,” kenangnya.

Sejak dulu, pengolahan tape miliknya tidak pernah berubah. Singkong-singkong tersebut diolah secara tradisional untuk mendapatkan rasa yang otentik.

Sebab, menurut dia, pengolahan secara modern justru menghasilkan produk tidak sebaik yang diolah secara tradisional.

“Memang kalau secara modern lebih efisien, baik dari segi tenaga maupun waktu. Tapi, rasa dan teksturnya itu berbeda antara yang diolah secara tradisional maupun modern,” jelas pria yang akrab di sapa Iwig ini.

Singkong yang digunakan untuk tape, dia dapatkan dari petani singkong di daerah Desa Soso, Kecamatan Gandusari, yang berjarak sekitar 30 kilometer dari rumahnya. Dalam sehari, dia biasa mengambil 3 kuintal singkong.

“Dulu waktu masih muda, saya angkut sendiri dengan sepeda motor, sedangkan kalau sekarang sudah diangkut pikap. Singkong dicabut sendiri untuk mendapatkan harga lebih miring,” bebernya.

Baca Juga: Kurangi Golput, Bawaslu Kabupaten Blitar Permudah Akses 22 Daerah Terpencil ke TPS

Dia berharap usaha yang telah dilakoni puluhan tahun ini dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi warga di sekitarnya.

Apalagi, seiring berjalannya waktu, dusun tempat tinggalnya mulai banyak yang memproduksi olahan tape.

“Dusun Pangkru kini bisa dibilang sentra produsen tape di Kabupaten Blitar. Saya sangat senang banyak anak muda yang mau belajar mengolah tape. Semoga usaha ini juga berdampak baik pada warga,” pungkasnya. (*/c1/sub)

 

  

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Kecamatan Sanankulon #kualitas produk #tape #jajanan tradisional #Kota Blitar