BLITAR - Koptu Iswanto tidak hanya telaten menghadapi warga yang ada di desa binaannya. Namun, dia juga telaten dalam membudidayakan ikan koi yang membawa untung hingga Rp 200 juta tiap kali panen.
Tidak banyak anggota TNI yang memiliki hobi budi daya ikan koi hingga membawa banyak rezeki.
Seperti yang dirasakan oleh Babinsa Koramil 13 Doko, Kopral Satu (Koptu) Iswanto. Selain sibuk menjadi pembinaan pertahanan desa, dia juga sukses jadi pembudi daya ikan koi.
Iswanto, sapaan akrabnya, mampu meraup untung ratusan juta sekali panen dari hasil budi daya ikan koi.
Usaha yang digelutinya sejak delapan tahun lalu ini telah menjadikan pundi-pundi rupiah bagi keluarganya.
Meskipun hanya usaha sampingan, uang ratusan juta berhasil dikumpulkannya tiap kali panen.
“Awalnya saya dan istri hobi memelihara koi di rumah. Bahkan dulu pertama hanya beli 10 ekor, yang hidup dalam kolam kecil di rumah dengan air sumber. Ternyata dari ikan koi itu, alhamdulilah bernasib mujur hingga sekarang,” ujar Iswanto kepada Jawa Pos Radar Blitar.
Dia menceritakan, usai membeli 10 ekor koi, dia langsung memposting ikan itu di sosial media dan ternyata ada temannya yang berminat.
Akhirnya dari penjualan itu, dia memiliki kolam fet yang ukurannya lebih besar dari sebelumnya. Yakni berdiameter 2 meter dengan 6 kolam fet.
Kesuksesan prajurit TNI berpangkat tamtama dalam menjalani budi daya ikan koi ini terus lancar tiap tahunnya.
Hingga akhirnya, Iswanto dapat memiliki sebuah farm kobal koi di rumahnya. Tidak hanya itu, kesuksesannya ini mengantarkannya mencari lahan persawahan yang tidak efektif untuk media kolam.
Baca Juga: Yayang Meilinda Putri, Model-Pegiat Lingkungan, Getol Kampanye hingga Eksperimen Cinta Lingkungan
Warga Desa Plumbangan, Kecamatan Doko, ini menemukan beberapa lahan persawahan di Kecamatan Wlingi yang tidak dipakai oleh pemiliknya. Akhirnya dibeli untuk dijadikan kolam koi.
Kini, dia memiliki enam kolam petak berukuran 10x30 meter. Dari kolam itu, populasi per petak antara 300 hingga 400 ekor kopi sehingga Iswanto bisa meraup hasil lebih Rp 200 juta dalam sekali panen per dua bulan.
“Bagi saya, budi daya ikan koi sangatlah tidak sulit. Hanya butuh ketelatenan, terutama dalam melakukan pemijahan ikan. Selain itu, kolam harus terjaga kebersihannya dari kotoran yang bisa mengganggu pertumbuhan ikan,” ungkapnya.
Iswanto menyebut harga koi miliknya mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu. Harga tergantung dari jenis dan kualitas ikan.
Cara memasarkannya menggunakan sistem online dengan sosial media dan offline antar mulut ke mulut atau pertemanan.
“Ada macam-macam ikan koi yang saya miliki pada enam kolam ini. Di antaranya, koi red karasi, karasi, sowa, kohaku, sankai, soragoi, dan kojaku. Perawatannya, semua jenis ikan koi sama saja,” tuturnya.
Peminat koi miliknya banyak berasal dari berbagai daerah di tanah air. Di antaranya, Palembang, Lampung, Sulawesi, Kalimantan, Bali, dan berbagai kota di Jawa. Bahkan, dia juga melayani kiriman ke luar negeri seperti Uni Emirat Arab, Ceko, Afrika Selatan, Jepang, Malaysia, dan Singapura.
“Saya berusaha terus mengembangkan budi daya koi dengan menambah jumlah kolam di lahan persawahan yang kurang produktif. Karena ini menjadi sampingan saya ketika sudah selesai kerja jadi babinsa,” pungkasnya.(*/c1/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila