BLITAR - Bumi Penataran terkenal dengan produsen nanas karena berada di dekat Gunung Kelud. Hal itu dimanfaatkan oleh Samrotul Azizah, warga Desa Sidorejo, yang beromzet Rp 10 juta tiap hari dari sari nanas buatannya.
Tidak banyak orang tahu bahwa Kabupaten Blitar memiliki produk minuman olahan buah yang sudah terkenal hingga luar kota. Yakni, sari nanas, yang diproduksi oleh Samrotul Azizah, warga Desa Sidorejo, Kecamatan Ponggok.
Banyak cerita latar belakang Azizah, sapaan akrabnya, memilih untuk membuat usaha minuman sari nanas ini.
Paling utama karena buah nanas di tempatnya cukup melimpah sehingga tidak perlu khawatir kekurangan bahan baku. Selain itu, dia berasal dari keluarga pelaku usaha nanas. Yakni, suami dan mertuanya merupakan pedagang dan petani nanas.
“Mertua saya itu pedagang nanas kawakan yang banyak mengirim ke luar kota, dari Bandung hingga Jakarta. Beliau mengirim buah nanas yang berukuran besar saja dari kebun. Sedangkan nanas ukuran kecil kadang ditinggal di kebun dan tidak dipetik. Bila dijual, harganya cukup murah,” ujar Azizah.
Dari hal itu, jiwa kaum hawa Azizah meronta-ronta. Menurut dia, nanas yang tidak dipetik ini mubazir bila tidak dimanfaatkan.
Maka dari itu, Azizah berpikir untuk bisa mengolahnya. Apalagi, rasa nanas semua ukuran sama, terpenting tingkat kematangannya yang perlu diperhatikan.
Ternyata di balik itu juga ada cerita haru dari Azizah. Dia terinspirasi dari mertua yang menderita asam urat dan kolesterol, yang ketika kambuh kakinya merasa panas. Setiap pulang dari kebun, mertuanya selalu membawa nanas untuk direbus dan diminum sarinya.
“Maka dari itu, saya membuat sari nanas. Bila di pasaran sudah ada sari apel, saya buat yang nanas. Selain itu, saya buat sari nanas ini juga otodidak dari YouTube. Alhamdulilah belajar kurang lebih setahun,” ungkapnya.
Dia menceritakan mulai memproduksi sari nanas ini sejak 2017. Sebelumnya, dia dan suaminya sibuk dengan usaha bengkel motor, tambang pasir, dan ternak bebek. Lalu, dia memilih hijrah dan fokus usai menemukan ide sari nanas.
Pertama kali produksi bukan langsung membuka pabrik seperti saat ini. Awalnya dari modal awal disisihkan, akhirnya cukup untuk membeli alat produksi. Dengan begitu, kapasitas produksi sari nanas olahannya pun bertambah. Ingatan itu tidak pernah hilang dari benaknya.
“Dulu tidak sebesar ini dapurnya, sekarang sudah ada mesin sederhana untuk bantu produksi,” terang perempuan berjilbab ini.
Azizah berusaha membuat produk sari nanasnya berkualitas. Yakni dengan bahan perasa buah asli nanas, gula asli, dan air yang direbus. Karena itu, produknya aman dan tidak membuat batuk. Produk ini pun banyak dicari konsumen hingga membuatnya kewalahan.
Perempuan 43 tahun ini mengaku setiap hari memproduksi 2 ribu cup dengan waktu produksi dari pukul 07.00 pagi hingga pukul 16.00.
Dia akan lebih sibuk ketika menjelang bulan puasa karena produksi 24 jam, dengan 5 ribu dus yang per dusnya berisi 32 cup.
“Usaha saya ini kan produk musiman, terutama puasa dan Idul Fitri banyak dicari konsumen. Sebelum puasa diusahakan stok banyak agar bisa melayani permintaan. Banyak konsumen dari Kediri, Tulungagung, Surabaya, Malang, Ponorogo, Bali, dan Lampung,” pungkasnya. (*/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila