Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Hasil Hortikultura Melimpah, Kelompok Tani di Blitar Ini Manfaatkan Untuk Olahan Makanan Ringan

Didin Cahya Firmansyah • Jumat, 25 Oktober 2024 | 22:00 WIB
INOVASI: Kelompok tani Desa Ponggok manfaatkan hasil buah melimpah jadi olahan keripik.
INOVASI: Kelompok tani Desa Ponggok manfaatkan hasil buah melimpah jadi olahan keripik.

BLITAR - Potensi di suatu daerah perlu dikemas dengan baik. Termasuk di Desa/Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar.

Kelompok tani desa setempat ubah potensi buah yang melimpah menjadi olahan pangan lezat dan bergizi.

Desa Ponggok dikenal sebagai desa wisata karena memiliki bermacam tempat wisata yang cukup menarik.

Tak hanya menawarkan potensi wisata wilayahnya, desa yang tak jauh dari Gunung Pegat ini memiliki potensi buah yang sangat melimpah.

Dengan melimpahnya hasil buah di daerah tersebut, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Ponggok tergerak ambil peluang produksi olahan pangan yakni keripik buah.

Menurut Ketua Kelompok Tani Tumpang Sewu Desa Ponggok, Sunarko mengatakan, pembuatan keripik buah ini merupakan sebuah bentuk inovasi.

Karena melihat banyak sekali potensi buah di desanya saat itu. Yakni, pisang, belimbing, dan nangka.

Selain itu, harga buah pada saat itu murah terutama belimbing, menjadikan pemerintah desa (pemdes) harus putar otak. Hingga berinisiatif membuat olahan pangan dari buah-buahan tersebut.

“Karena harganya murah, jadi kemungkinan gak nyucuk (balik modal),” ujarnya, Rabu (16/10).

Hingga pada tahun 2021 lalu, pemdes dan kelompok tani mulai membuat olahan dari belimbing yang tidak laku tersebut dan buah lainnya menjadi keripik.

“Daripada cuma berakhir buat pakan ternak, mending dibuat olahan,” katanya.

Lokasi produksi olahan keripik buah saat ini bertempat di rumah produksi BUMDes yang berada di belakang kantor Desa Ponggok.

Pengolahan keripik buah melewati serangkaian proses. Buah yang siap diolah, lalu dikupas dan dicuci, kemudian dihilangkan bijinya. Setelah itu dipotong-potong dan dimasukkan ke freezer selama semalam, kemudian dimasukkan ke vacuum frying.

Tahap ini merupakan proses penggorengan selama beberapa jam. Selesai digoreng, kemudian diangkat dan masuk ke pengeringan.

Terakhir adalah tahap pengemasan. “Tahapannya seperti itu terus, dan semua buah mengalami tahapan-tahapan sama,” ungkapnya.

Sunarko mengatakan, produksi olahan keripik buah ini tidak selalu setiap hari. Hanya ketika ada pesanan masuk dan menjelang hari raya. “Kalau hari-hari biasa sepi,” tandasnya.

Kini, produk keripik buah masih dipasarkan di daerah lokal Blitar Raya. Namun, pada tahun 2022 lalu, produk keripik buah tersebut sudah pernah dibawa dalam acara pertemuan koordinasi dan pengawalan penumbuhan UMKM hortikultura di Makasar yang diadakan Kementerian Pertanian.

“Saya saat itu diundang dari dinas pertanian. Dan semua produk pertanian, produk olahan makanan satu Indonesia, dikumpulkan jadi satu,” ujarnya.

Untuk kisaran harga, keripik buah ini dijual per kilogram. Harga setiap jenis buah berbeda.

Sebagai ketua kelompok tani, Sunarko juga mengeluhkan ada kekurangan dalam memproduksi olahan keripik buah. Yaitu, produksi.Baca Juga: Direktur dan Manejemen Radar Tulungagung Kunjungi Imigrasi Blitar, Aris Sudanang: Homey Banget

 

Dia mengaku alat produksi di tempat itu sangat kurang efisien, seperti alat penggorengan (vacuum frying) yang kurang besar. “Kalau yang lainnya, alhamdulillah sudah sesuai,” ungkapnya.

Menurut dia, karena Desa Ponggok juga terkenal dengan wisatanya, jadi potensi di semua sektor termasuk olahan pangan harus di maksimalkan. Tujuannya agar mampu memberikan nilai tambah bagi desa dengan optimal.

“Hasil buah yang melimpah sebisa mungkin diolah, dan kita akan berusaha agar semua produk yang dihasilkan di Desa Ponggok ini menjadi produk unggulan,” pungkasnya. (mg3/c1/din)

 

 

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Ponggok #Kabupaten Blitar #olahan pangan #potensi #BUMDes