BLITAR - Aiptu Anang Riza Pratama tidak hanya bekerja sebagai polisi, dia menambah kegiatan dengan usaha bisnis ternak ikan koi. Warga Desa Bendosewu, Kecamatan Talun, ini dapat Rp 5 juta per bulan dari usaha tersebut.
Tidak banyak polisi yang memiliki pekerjaan sampingan, apalagi menghasilkan uang jutaan rupiah. Hal itu terbukti dilakukan Aiptu Anang Riza Pratama yang menekuni bisnis berternak ikan koi.
Dari usaha itu, polisi yang bertugas di Polsek Selopuro meraup untung bersih minimal Rp 5 juta per bulan. Saat ini ikan koi miliknya sedang dalam masa panen.
Saat ditemui, dia masih mengenakan seragam polisi lengkap sedang mengecek kolamnya berada di area persawahan Desa Bendosewu, Senin (16/11).
Dia tampak memilah-milah ikan koi yang baru diangkat dari kolam dan dipindah ke dalam ember berukuran besar.
"Saya baru pulang piket SPKT Polsek Selopuro dan langsung mampir ke kolam. Ikan koi yang baru dipanen, saya bawa ke rumah untuk dilakukan karantina sebelum dijual ke pembeli. Saya juga merapikan pola ikan koi biar lebih bagus dan harganya bisa lebih mahal," ujar Anang ketika mengecek kolam.
Ketika panen ikan koi tentu Anang tidak bisa menanganinya sendiri. Dia mempekerjakan orang untuk memanen ikan di kolam.
Selanjutnya, ikan koi yang baru dipanen, dilakukan karantina di rumah sambil merapikan polanya.
Pria 45 tahun ini menekuni ternak ikan koi sejak pandemi Covid-19 pada 2020 lalu. Saat itu, bisnis ikan hias memang populer untuk masyarakat yang hanya berkegiatan di rumah.
Apalagi di Desa Bendosewu banyak peternak ikan koi. Namun ternak ikan koi ini bukan usaha satu-satunya yang dilakoni Anang.
Sebelumnya, Anang sempat memiliki usaha rental mobil. Sayangnya saat pandemi, usaha persewaan kendaraan roda empat ini sepi.
Akhirnya 4 unit mobil dijual dan dibelikan sawah untuk sarana ternak ikan koi yang tidak jauh dari rumahnya.
Dia belajar lebih dulu kepada peternak senior di desanya. Tak hanya itu, juga lebih dulu mempelajari pasar dan cara penjualan ikan koi.
Awalnya, dia memiliki tujuh petak kolam untuk berternak ikan koi. Selama pandemi, penjualan ikan koi cukup menguntungkan keluarganya.
Dalam sebulan, dia bisa mendapat penghasilan bersih dari penjualan ikan koi minimal Rp 10 juta.
Melihat itu, Anang menambah kolam lagi, sehingga kini memiliki 12 petak kolam dengan luas 7.000 meter persegi atau sekitar tiga perempat hektare.
"Ketika pandemi, banyak orang kaya mendadak dari berternak ikan koi. Kalau sekarang, pokoknya masih bisa bertahan dan masih dapat untung dikit-dikit. Sekarang bisnis ikan koi sedang turun drastis, apalagi penjualan sepi dan harga pakan terus naik,” ungkapnya.
Saat ini, pendapatan Anang dari berternak ikan koi juga menurun, yakni rata-rata hanya Rp 5 juta per bulan.
Kalau kualitas ikan koi sedang bagus, terkadang pendapatannya juga bisa naik tiga kali lipat dari biasanya. Padahal, sekarang, kini dia masih memiliki 12 petak kolam untuk berternak ikan koi.
Kepala SPKT Polsek Selopuro ini menjual hasil panen ikan koi ke pembeli lokal, dengan pemasaran secara daring.
Untuk pemasaran online, pembeli terbanyak dari Jawa Barat hingga Jakarta. Bahkan juga beberapa kali mendapat pembeli dari wilayah Kalimantan.
"Di desa saya, andalannya ikan koi jenis kohaku. Kalau milik saya sendiri, yang menjadi andalan ikan koi jenis kohaku doitsu, ikan koi yang tidak ada sisiknya," tutur Anang.
Menurut dia, beternak ikan koi perawatannya lebih mudah. Dia hanya meluangkan waktu untuk memberi pakan ikan tiap pagi dan sore.
Biasanya, pagi sebelum berangkat berdinas dia pergi ke kolam untuk memberi pakan ikan. Lalu, sore hari setelah pulang dinas kembali ke kolam untuk memberi pakan ikan.
Meskipun Anang memiliki usaha ternak ikan koi, tetap harus membagi waktu dan tidak pernah meninggalkan pekerjaan pokoknya sebagai polisi.
Sehingga usaha ini tidak menghalangi pekerjaan utamanya untuk menjaga keamanan di wilayah hukum kerjanya.
"Pesan saya, kalau ingin mencari penghasilan tambahan senangi dulu pekerjaannya, cari dulu apa yang disenangi selain pekerjaan pokok. Lalu, belajar dulu, kalau sudah matang baru terjun. Lalu, harus tekun, jangan mudah menyerah. Karena, kalau sekali bangkrut menyerah, sulit bisa kembali lagi," pungkasnya. (*/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila