Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Menengok Usaha Batik Lokal dari Desa Kemirigede Blitar, Upaya Emak-Emak Angkat Wisata Lokal lewat Karya Sederhana

Muhamad Ilham Baha’udin • Jumat, 29 November 2024 | 18:00 WIB
GUYUB RUKUN: Sekumpulan ibu-ibu yang terkena PHK masal akibat pandemi kembangkan batik dengan mengusung motif lokal.
GUYUB RUKUN: Sekumpulan ibu-ibu yang terkena PHK masal akibat pandemi kembangkan batik dengan mengusung motif lokal.

BLITAR - Di tengah rindangnya Desa Kemirigede, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, suara riuh para ibu rumah tangga berpadu dengan aroma khas malam (lilin untuk batik, Red) yang menjadi bahan utama dalam proses membatik.

Di salah satu bagian desa, sekelompok perempuan sibuk menyelesaikan karya seni mereka. Di tangan-tangan kreatif mereka, kain polos berubah menjadi batik bernilai tinggi dengan motif yang terinspirasi oleh keindahan alam sekitar. Hampir semua pembatik adalah kalangan emak-emak.

Salah satu penggerak usaha batik ini, Mujiati, mengenang awal mula perjalanan mereka pada tahun 2020.

Pandemi COVID-19 menghantam keras banyak sektor ekonomi. Banyak perempuan yang sebelumnya bekerja di pabrik kehilangan mata pencaharian.

Di tengah kebingungan itu, sebuah pelatihan membatik yang diadakan oleh pemerintah desa menjadi secercah harapan.

“Setelah pelatihan, kami sepakat untuk mencoba dengan modal awal patungan. Kami beli kain, malam, kuas, dan pewarna. Nekat, tapi kami yakin ini bisa menjadi peluang,” ungkapnya mengawali pembicaraan.

Dari sinilah usaha mereka dimulai, dengan mengandalkan kreativitas dan kerja keras, kelompok yang beranggotakan sepuluh ibu rumah tangga ini mulai menekuni seni membatik dan menjadikannya sebagai sumber penghasilan tambahan.

Tidak sembarang motif yang mereka pilih. Batik karya perempuan Desa Kemirigede mengangkat kisah alam dan ikon wisata lokal.

Salah satu motif andalan mereka adalah motif bunga pinus yang terinspirasi dari Taman Ayu Gogoniti, destinasi wisata alam yang menjadi kebanggaan Kesamben.

Selain itu, mereka juga menciptakan motif Cakrapalah, ikon batik khas Kabupaten Blitar. “Kami ingin setiap kain batik ini tidak hanya cantik, tapi juga bercerita tentang kekayaan alam dan budaya daerah kami,” ujar Mujiati.

Dengan harga Rp 200 ribu per lembar, kelompok ini mampu memproduksi hingga 10 lembar kain batik setiap harinya. Pemasaran dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari metode tradisional seperti dari mulut ke mulut hingga memanfaatkan media sosial.

Dua anggota muda dalam kelompok ini secara khusus bertugas mengelola pemasaran online. Dari sinilah, permintaan mulai berdatangan tidak hanya dari Kabupaten Blitar, tetapi juga dari kota besar seperti Malang dan Surabaya, hingga luar pulau seperti Kalimantan dan Bali.

“Media sosial sangat membantu. Banyak yang melihat karya kami di sana dan itu membawa pembeli dari berbagai daerah,” bebernya.

Proses pengeringan kain setelah pewarnaan masih menjadi tantangan tersendiri karena sepenuhnya bergantung pada sinar matahari.

Di musim penghujan, risiko produk gagal meningkat. “Kain yang terkena gerimis sedikit saja bisa rusak, jadi kami harus lebih hati-hati,” pungkasnya. (*/c1/ady)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Kabupaten Blitar #karya seni #ibu rumah tangga #batik