Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Economic Security dan Kehidupan Usaha Mikro: Pelajaran dari Kasus Penjual Es Teh dan Gus Miftah

Anggi Septian A.P. • Kamis, 5 Desember 2024 | 00:49 WIB
Bapak penjual es teh yang diolok oleh pemuka agama, menjadi contoh bagaimana kata-kata bisa mempengaruhi economic security seseorang, merusak kepercayaan dan pendapatan.
Bapak penjual es teh yang diolok oleh pemuka agama, menjadi contoh bagaimana kata-kata bisa mempengaruhi economic security seseorang, merusak kepercayaan dan pendapatan.

Ketika video Gus Miftah bercanda tentang penjual es teh viral di media sosial, gelombang kritik dari masyarakat segera muncul.

Insiden ini tidak hanya menjadi bahan diskusi tentang etika dan adab seorang tokoh publik, tetapi juga membuka wacana yang lebih luas tentang bagaimana hal kecil dapat berdampak besar pada keberlanjutan ekonomi seseorang.

Dalam perspektif Human Security, kasus ini menggambarkan ancaman terhadap economic security salah satu pilar yang sering kali diabaikan, tetapi sangat mendasar dalam kehidupan sehari-hari.

Apa Itu Economic Security dalam Human Security?

Human Security adalah pendekatan yang menempatkan manusia sebagai pusat keamanan. Berbeda dengan konsep tradisional yang fokus pada perlindungan negara dari ancaman eksternal, Human Security berusaha menjawab kebutuhan dasar manusia, seperti keamanan ekonomi, lingkungan, kesehatan, dan martabat individu.

Salah satu aspek terpentingnya adalah economic security, yaitu kemampuan individu untuk memenuhi kebutuhan dasarnya melalui pekerjaan atau penghasilan yang stabil.

Di Indonesia, sektor informal seperti penjual es teh memainkan peran besar dalam menopang ekonomi rakyat. Namun, pelaku usaha mikro ini sering kali rentan terhadap ancaman ekonomi dan sosial.

Mereka bergantung pada dukungan komunitas dan kepercayaan konsumen. Ketika kepercayaan itu goyah entah karena stigma, diskriminasi, atau peristiwa viral konsekuensinya bisa sangat besar, baik secara ekonomi maupun psikologis.

Dampak Kasus Penjual Es Teh

Dalam kasus ini, candaan yang dianggap merendahkan oleh Gus Miftah menciptakan gelombang reaksi negatif di media sosial. Bagi seorang penjual es teh, persepsi buruk dari masyarakat dapat langsung memengaruhi kepercayaan konsumen.

Penurunan kepercayaan ini bukan hanya masalah personal tetapi juga ancaman nyata terhadap penghasilan harian yang menjadi tumpuan hidup.

Tidak hanya itu, stigma yang muncul akibat peristiwa semacam ini dapat menimbulkan efek psikologis yang memengaruhi motivasi untuk terus berdagang.

Dalam banyak kasus, tekanan sosial seperti ini menghambat pelaku usaha mikro untuk bertahan, bahkan membuat mereka menyerah.

Akibatnya, ancaman terhadap economic security juga berdampak pada stabilitas ekonomi komunitas lokal, terutama ketika usaha mikro adalah sumber utama perputaran ekonomi setempat.

Mengapa Mahasiswa Hubungan Internasional Perlu Peduli?

Sebagai mahasiswa Hubungan Internasional, kita sering diajarkan untuk memikirkan isu-isu besar seperti diplomasi, geopolitik, atau perang. Namun, kasus ini menunjukkan bahwa keamanan manusia juga sangat penting, bahkan dalam skala lokal. Isu-isu seperti economic security memiliki relevansi global.

Ketika kita berbicara tentang pembangunan berkelanjutan atau pengentasan kemiskinan, usaha mikro di sektor informal menjadi bagian tak terpisahkan dari stabilitas ekonomi negara.

Selain itu, peran figur publik seperti Gus Miftah juga menarik untuk dianalisis dari perspektif soft power.

Dalam konteks ini, tindakan atau ucapan seorang tokoh berpengaruh dapat memperkuat atau melemahkan solidaritas sosial. Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini dapat memicu ketegangan sosial yang berdampak pada stabilitas komunitas, dan pada akhirnya, stabilitas negara.

Pelajaran dari Kasus Ini

Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari insiden ini. Pertama, pentingnya sensitivitas sosial dari figur publik. Gus Miftah mungkin tidak berniat merendahkan, tetapi sebagai tokoh agama yang dihormati, ucapannya memiliki bobot yang besar.

Sensitivitas terhadap bagaimana ucapan dapat memengaruhi kehidupan seseorang adalah bentuk tanggung jawab moral yang harus diemban oleh siapa pun yang berada dalam posisi berpengaruh.

Kedua, pemerintah dan masyarakat harus lebih serius melindungi sektor informal. Usaha mikro adalah tulang punggung ekonomi Indonesia.

Kebijakan yang mendukung mereka, seperti akses mudah terhadap pendanaan dan perlindungan dari stigma sosial, dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman secara ekonomi bagi masyarakat kecil.

Ketiga, media dan opini publik juga memiliki tanggung jawab untuk mendorong narasi yang konstruktif.

Daripada memperkeruh suasana, media seharusnya menjadi jembatan untuk membangun pemahaman dan solidaritas antar lapisan masyarakat.

Kasus ini mungkin tampak sederhana, tetapi mengajarkan kita tentang kompleksitas economic security. Keamanan ekonomi bukan hanya soal angka atau statistik, tetapi juga soal martabat dan kepercayaan.

Sebagai mahasiswa, kita harus memahami bahwa keamanan manusia tidak bisa dipisahkan dari interaksi sosial sehari-hari. Dengan memperhatikan isu-isu seperti ini, kita tidak hanya menjadi pemikir kritis tetapi juga pembangun masyarakat yang lebih inklusif dan berkeadilan.

Penulis adalah Diandra Jasmine Fasabrina Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional, Universitas Brawijaya Malang.(*)

Editor : Anggi Septian A.P.
#economic security #gus miftah #human security