BLITAR - KENAIKAN pajak pada 2025 menjadi tantangan besar para pelaku usaha. Tak kecuali bagi para pelaku bisnis pariwisata di Kabupaten Blitar.
Beban produksi yang meningkat akibat kenaikan pajak bakal disikapi dengan peningkatan dan inovasi dalam pelayanan.
“Karena ini adalah aturan sudah pasti harus dilaksanakan. Meskipun kemungkinan nanti ada goncangan pada pengunjung,” kata owner wisata edukasi dan kuliner Kampung Coklat, Kholid.
Bagi pelaku usaha, satu persen memiliki pengaruh signifikan. Karena itu, jika masih ada ruang evaluasi, diharapkan kebijakan tersebut dikaji ulang. Sebab, hampir bisa dipastikan kenaikan pajak itu bakal berdampak pada beban operasional.
“Kami belum memahami betul soal kenaikan ini. Tapi kenaikan harga bahan bakar minyak membawa dampak pada banyak. Mudah-mudahan kebijakan ini tidak membawa dampak signifikan untuk ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Terlepas dari kebijakan pusat tersebut, Kampung Coklat berencana memperkuat daya tariknya melalui program wisata edukasi yang lebih menarik dan ramah keluarga. Misalnya menambah wahana bermain serta mempertajam materi edulkasi.
“Selain pembibitan, pengunjung juga bisa ke kebun untuk belajar merawat hingga panen coklat. Ada juga bagunan dan geleri baru,” katanya.
Dia memahami bahwa tuntutan pelayanan prima dibutuhkan dalam bisnis pariwisata. Karena itu, sumber daya manusia pengelola wisata perlu ditingkatkan sehingga performa pelayanan lebih maksimal. “Kami tambah kulitas dan jumlah SDM untuk pelayanan yang prima,” tandasnya.
Menurut dia, tren kunjungan wisata pada 2024 memang lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Namun, jumlahnya tidak begitu signifikan. Momentum libur dan akhir tahun masih menjadi harapan bagi pelaku usaha wisata meraup laba.
“Ada kenaikan sekitar 30 persen kunjungan maupun daya beli. Mudah-mudahan tren positif ini bertahan hingga tahun depan,” terangnya.
Hal serupa juga terjadi di destinasi wisata edukasi dan sejarah De Karanganyar. Kondisi ekonomi masih sulit dan berpengaruh pada kunjungan pariwisata.
“Pengunjung atau wisatawan kini semakin selektif dan melek pariwisata. Jadi mereka akan memilih tempat yang tepat untuk berlibur atau bersantai dengan keluarga,” katanya.
Karakter menjadi salah satu modal untuk bertahan pada bisnis pariwisata. Pengelola destinasi wisata harus paham pangsa pasarnya yang bakal dibidik.
“Mau ambil pasar lokal, nasional, atau internasional. Ini harus jelas dulu karena harga dan pelayanan harus mengikuti standar pasar tersebut,” tuturnya.
Dia mengaku, harga murah tidak menjadi jaminan destintasi wisata ramai pengunjung. Sebab, karakter pengunjung kini tidak lagi mempersoalkan harga. Yang mereka butuhkan adalah pengalaman dan pelayanan yang berkualitas.
“Sudah banyak bukti wisata murah tidak pernah bertahan lebih dari dua tahun. Sesuatu yang unik, pengalaman yang berharga lebih dibutuhkan,” tandasnya. (hai/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila