BLITAR - Menjadi tukang pengepul sampah tidak membuat Ahmad Redam Sunalis minder. Justru, warga Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro, ini ingin membuktikan bahwa sampah yang dikumpulkan bisa menjadi barang yang bernilai ekonomis. Caranya dengan menyulap sisa abu pembakaran sampah.
Di tangan Ahmad Redam Sunalis, sampah yang dia kumpulkan dari masyarakat bisa menjadi barang bernilai.
Selama ini, sisa abu pembakaran sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPSP) tidak dibiarkan menumpuk begitu saja. Dia berupaya untuk memanfaatkannya menjadi barang-barang bernilai ekonomi tinggi.
Redam – sapaan akrabnya – mengatakan, dalam dua bulan terakhir menerima pesanan pembuatan patung burung garuda dan miniatur Candi Penataran. Orderan itu rata-rata datang dari instansi pemerintahan yang ada di Kecamatan Kanigoro.
“Saya menekuni bisnis kerajinan miniatur candi dan patung burung garuda ini masih dua bulan. Sebelumnya, saya buat kerajinan tangan berupa pot bunga berbahan popok bayi bekas,” ujar Redam yang ditemui di rumahnya, Senin (6/1).
Meskipun tergolong masih baru. sudah banyak orang yang pesan kerajinan tangan milik Redam. Sebab, karya kerajinannya unik dan ramah lingkungan.
Bagaimana tidak, bahan utama pembuatan miniatur candi itu berupa abu sisa pembakaran sampah. Dengan bahan tersebut dia mampu menciptakan karya seni yang indah.
Bagi pria 40 tahun ini, sampah merupakan teman sehari-harinya. Pasalnya, dia merupakan petugas di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPSP) Punokawan Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro.
Kegiatan sehari-harinya adalah mengangkut sampah rumah tangga dari tempat tinggal warga lalu memilih dan memilahnya. Sampah yang sudah tidak bisa didaur ulang dimusnahkan dengan cara dibakar di TPSP.
Sedangkan abu sisa pembakaran sampah di TPSP itu biasanya dibuang atau diambil warga untuk pemupukan tanah persawahan.
“Sebagian dari abu itu saya manfaatkan untuk kerajinan. Ini semua berawal dari coba-coba hingga ternyata lama-kelamaan ketagihan,” ungkapnya.
Untuk menciptakan sebuah miniatur candi, Redam harus menggunakan maket. Awalnya, dia sempat mengalami kesulitan saat membuat maket candi. Redam tidak menyerah dan akhirnya berhasil membuat maket.
Pembuatan miniatur candi diawali mencampur abu dengan semen dan tetes tebu. Ini agar hasil cetakan padat dan kuat.
Campuran bahan itu lalu dimasukkan ke cetakan yang telah disiapkan. Setelah itu dikeringkan dan cetakan dilepas setelah benar-benar kering. Langkah terakhir, yakni melakukan pewarnaan.
”Mudah kok pembuatannya. Yang penting telaten. Jika sudah terbiasa akan cepat,” kata pria ramah ini.
Hasil dari karya miniatur candi Redam itu awalanya untuk koleksi pribadi. Tetapi, banyak temannya yang tertarik, termasuk pemerintah desa setempat. Dari situlah, pesanan demi pesanan datang silih berganti.
Pemerintah desa yang lain juga keblinger dengan hasil karya milik Redam. Alasannya, barang unik dan menunjukkan kreatifitas karena dapat memanfaatkan barang-barang yang selama ini dianggap tidak berguna.
Redam menjelaskan kerajinan tangannya lebih padat dan ringan serta dijamin awet. Dia optimis karyanya diminati masyarakat bumi penataran karena tak banyak yang menekuni. Apalagi berbahan dasar limbah yang mudah didapatkan.
“Sementara ini karya saya tawarkan kepada pemerintah desa, ke depannya bisa ke dinas-dinas. Utamanya miniatur patung burung garuda. Untuk harga, miniatur candi Rp 75 ribu per biji dan miniatur burung garuda dijual dengan harga Rp 150 ribu per biji,” pungkasnya. (*/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila