BLITAR - Beberapa produsen produk olahan pangan yang ada di Kabupaten Blitar masih terkendala dengan alat produksi. Seperti yang terjadi pada produsen keripik buah yang ada di Desa/Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar.
Minimnya alat produksi menjadikan hasil olahan keripik warga Kabupaten Blitar ini yang terbuat dari buah menjadi kurang maksimal.
Melimpahnya hasil bumi di Kabupaten Blitar merupakan sebuah anugerah yang harus dimanfaatkan dengan baik. Salah satu potensi yang ada di Desa Ponggok adalah produksi buah yang melimpah.
Kelompok Tani (Poktan) Tumpang Sewu memanfaatkan potensi alam itu dengan membuat olahan pangan seperti keripik buah.
Menurut Ketua Poktan Tumpang Sewu, Sunarko, produksi olahan pangan berupa keripik buah pertama kali dibuat karena potensi buah yang berada di desa yang dekat dengan Gunung Pegat itu sangat melimpah. Karena kurangnya perhatian, buah yang pada saat itu murah akhirnya hanya dijadikan pakan ternak.
Namun, tebersit sebuah ide untuk mengolahnya menjadi keripik buah. “Daripada hanya dijadikan pakan, kenapa tidak diolah menjadi produk olahan pangan,” ungkapnya.
Namun, dalam memproduksi olahan pangan itu, permasalahan alat menjadi salah satu faktor kurang maksimalnya hasil produksi olahan keripik. Karena, vacuum frying yang ada di perusahaan itu terbilang kecil.
Menurut Sunarko, perbandingan dalam sekali produksi, vacuum frying 1 kilogram buah hanya menghasilkan 1 ons keripik. Yang dalam sekali penggorengan membutuhkan waktu sekitar 3 jam.
“Alat penggorengannya itu (vacuum frying, Red) kapasitasnya sekitar 1 kilogram. Ketika sudah matang hanya menghasilkan 1 ons keripik. Jadi antara waktu menunggu dan hasil tidak sesuai,” ujarnya.
Sebagai jalan keluar permasalahan yang dihadapi, Poktan Tumpang Sewu sudah mengajukan proposal ke dinas terkait untuk penggantian mesin penggorengan dengan yang lebih besar.
Harapannya agar produksi olahan keripik buah bisa berjalan dengan maksimal dan hasilnya menjadi lebih banyak.
Selain itu, efisiensi waktu. “Biar sumbut, artinya tidak rugi waktu dan tenaga,” tandas Sunarko. (mg3/c1/ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah