Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dari Hobi Menjadi Ladang Usaha: Pengukir Kayu dI Blitar Ungkap Tantangan dan Harapan

Muhammad Ziaul Haq • Rabu, 12 Februari 2025 | 15:00 WIB
SENIMAN: Yuliono (52), seorang pengrajin ukir kayu di Desa Sukorejo, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar.
SENIMAN: Yuliono (52), seorang pengrajin ukir kayu di Desa Sukorejo, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar.

Blitar – Yuliono (52), seorang pengrajin ukir kayu dan batu yang berkarya di Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, telah menekuni bidang ini sejak SMA. Berawal dari hobi menggambar dan melukis, ia mengembangkan bakatnya hingga kini menjadi pengrajin.

Yuliono pertama kali tertarik dengan dunia seni setelah sering melihat teman-temannya yang ahli dalam melukis dan menggambar. Berawal dari ketertarikan tersebut, ia mencoba terjun pada bidang seni ukir batu dan kayu. Awalnya, ia hanya mengikuti teman-temannya, namun akhirnya memutuskan untuk mengembangkan keterampilannya sendiri.

Yuliono terinspirasi untuk memilih dalam bidang ini dikarenakan bidang ini selaras dengan hobinya. Kemudian, dari hobi Ia jadikan menjadi ladang usaha. “Kerjaan lek dari hobi, dadine gak ada kendala” ungkap Yuliono.

Sebagai seorang pengrajin kayu, tantangan yang dihadapi olehnya adalah ketersediaan peralatan. “kalau garap seng rumit alate urung enek, urung mumpunilah. Kendalane ning alat” ungkap Yuliono.

Namun, Ia tidak terlalu khawatir atas kendalanya, sebab Ia sangat menyukai tantangan. “Tapi selama ini tidak ada kendala, kalau saya memang suka tantangan” tambah Yuliono.

Untuk mengatasi kendala peralatan, ia harus mencari cara untuk sedikit merubah sketsa agar tetap bisa diwujudkan meskipun dengan alat yang tersedia. Namun, untuk saat ini peralatan yag dimilikinya sudah lengkap.

Dalam bahan baku, Ia lebih memilih menerima jasa dengan bahan yang sudah disediakan oleh pelanggan. Kesulitan dalam mendapatkan bahan membuatnya lebih fokus pada pengerjaan jasa ukiran saja. “golek bahan ribet mas, riwa riwi malah mumet aku, karuane tak kon golek bahan dewe tak garape” Ungkap Yuliono.

Kayu yang biasa digunakan adalah jati, namun ia juga mengerjakan ukiran dari kayu maoni, sono, dan trembesi. Menurutnya, kayu yang sulit untuk dikerjakan adalah kayu yang memiliki sifat lunak, sebab kayu seperti itu mudah patah. Maka dari itu, Ketika mengerjakan kayu yang lunak harus menggunakan pisau.

Di tengah gempuran industri modern, Yuliono tetap bertahan karena kecintaannya terhadap seni ukir. Ia ingin terus mengembangkan keahlian yang dimilikinya dan merasa sayang jika keterampilannya tidak dimanfaatkan dengan baik.

Untuk menarik pelanggan Ia hanya mengandalkan promosi dari mulut pelanggan ke mulut pelanggan lain. Para pelanggannya yang puas akan hasil karyanya dengan sukarela untuk merekomendasikan jasanya ke orang lain.

Omset yang dihasilkannya bervariasi, tergantung tingkat kesulitan ukiran yang dikerjakan. Jika pelanggan juga membeli bahan, sekitar Rp5.000.000, sementara jika hanya jasa ukir saja, sekitar Rp3.000.000. Proyek dengan tingkat kesulitan tinggi bahkan bisa mencapai Rp10.000.000.

Sebagai seorang pengrajin yang ingin membagikan ilmunya, Yuliono mempunyai harapan, yakni mendirikan tempat pelatihan seni ukir. Namun, keterbatasan ekonomi membuat impian tersebut belum bisa terwujud. “Aku pengen mas ilmukui tak sebarno, eman eman mergane pahat ngenei wes jarang” Ungkap Yuliono.

Yuliono juga memberikan pesan kepada para generasi muda agar tidak menyia-nyiakan bakat yang dimilikinya. Yuliono juga berharap kepada generasi muda agar dapat mengembangkan dengan datang ke tempatnya, maka akan diberikan ilmu atau pelajaran secara gratis olehnya.

Selama menjalani usaha, Ia juga kerap mendapatkan support dari keluarganya. Keluarganya juga berharap agar dapat membagikan ilmunya kepada anak-anaknya, namun mereka belum ada ketertarikan dalam bidang tersebut.  (*)

Editor : Anggi Septian A.P.
#Sukorejo #blitar #seniman kayu #Ukir Kayu