Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Hanya Jualan Rempeyek Khas Blitar, Pria Muda Ini Bisa Raih Omzet Belasan Juta per Blitar

Fajar Rahmad Ali Wardana • Selasa, 4 Maret 2025 | 23:00 WIB
INSPIRATIF: Ipong Wahyudianto memamerkan rempeyek buatannya dalam kemasan toples setengah kilogram.
INSPIRATIF: Ipong Wahyudianto memamerkan rempeyek buatannya dalam kemasan toples setengah kilogram.

BLITAR -Bermula dari ide saat pandemi Covid-19, Ipong Wahyudiyanto, pemuda asal Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, kini sukses menjalankan bisnis rempeyek koin dengan omzet mencapai Rp 15 juta per bulan.

Menariknya, tidak hanya menjangkau pasar lokal, produk camila ini juga dikirim hingga ke luar negeri. Karena banyak dipromosikan oleh Ipong sapaan akrabnya, di media sosial. Maka dari itu, pekerja migran Indonesia (PMI), banyak memesan kepadanya.

Lulusan Sarjana Tata Boga, Universitas Negeri Malang (UM) itu mulai menekuni usaha rempeyek koin sejak awal 2020, saat pandemi membuat aktivitas kuliah beralih ke sistem daring. “Waktu itu kuliah dari rumah, saya kepikiran buat usaha. Akhirnya coba produksi rempeyek koin sampai sekarang,” ujar Ipong saat ditemui di rumahnya kemarin (3/3).

Saat ditemui, Ipong tampak sibuk mengemas rempeyek koin di ruang belakang rumahnya. Beberapa toples berisi rempeyek siap kirim berjajar di atas meja. Dalam proses produksi, dia dibantu oleh empat pekerja yang terbagi dalam dua tim, yakni tim pencetak dan tim pengemasan. Proses pencetakan rempeyek koin dilakukan dengan cetakan kue bikang mini atau cetakan makaroni telur.

Laki-laki 28 tahun ini mengaku, Ramadan ini pesanan rempeyeknya meningkat. Maka dari itu, dia menambah pekerja. Biasanya hanya dua orang, sekarang empat orang, karena selain rempeyek, ada pesanan kue nastar dan lain sebagainya.

Perjalanan Ipong dalam merintis usaha ini tidaklah mudah. dia harus melakukan uji coba hingga tujuh kali sebelum menemukan resep yang tepat. “Awal produksi banyak tantangan. Saya coba berkali-kali sampai akhirnya menemukan resep yang pas seperti sekarang,” ungkapnya.

Selain tantangan dalam produksi, pemasaran juga tidak mudah untuk rempeyek koin ini. Pada awal usahanya, Ipong hanya mampu memproduksi 1 kilo gram rempeyek per hari dan memasarkannya ke Batu dan Surabaya. Kini, produksi meningkat pesat hingga mencapai 15 kilogram per hari.

Dengan memanfaatkan media sosial, Ipong berhasil menarik pelanggan dari berbagai daerah, bahkan hingga ke luar negeri. Dulu dia hanya kirim ke Batu dan Surabaya, sekarang sudah sampai Papua, Aceh, Lampung, Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

“Bahkan, saya rutin mengirim rempeyek ke Taiwan setiap Rabu dan ke Hongkong setiap Kamis. Pelanggan dari luar negeri mayoritas merupakan PMI  yang tertarik dengan rempeyek, setelah melihat konten yang saya unggah di media sosial,” ungkapnya.

 Selama proses pemasaran, memang Ipong suka bikin konten proses produksi rempeyek, lalu diunggah di media sosial. Dari situ banyak pelanggan dari PMI yang kerja di Taiwan dan Hongkong menghubunginya.

Ipong menjelaskan bahwa produksi rempeyek koin sebenarnya sudah ada di Kabupaten Tulungagung. Namun, dia mencoba berinovasi dengan membuat rempeyek yang lebih tebal tetapi tetap renyah, sehingga beda dengan yang sudah ada.

 “Produk di pasaran biasanya kacangnya dipotong-potong. Kalau saya, kacangnya tetap utuh. seangkan bentuknya kecil seperti koin, tapi teksturnya renyah dan empuk,” jelasnya.

Ipong memproduksi dua varian rasa, yaitu original dan manis pedas. Untuk harga, rempeyek koin dijual Rp 97.000 per kilogram dan Rp 50.000 per setengah kilogram.

Sejak memasuki Ramadan, pesanan rempeyek koin meningkat drastis. Dalam dua hari pertama Ramadan, dia sudah menerima pesanan hingga 15 kilogram. Berdasarkan pengalaman tahun lalu, total pesanan selama sebulan bisa mencapai 150 kilogram. (*/ady)

Editor : M. Subchan Abdullah
#Kabupaten Blitar #UMKM #rempeyek #kademangan