Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Tak Sekadar Juala Kopi, Ardian Purwoseputro: Tetapi juga Semangat Menghidupi dan Terus Maju

Agus Muhaimin • Sabtu, 15 Maret 2025 | 19:00 WIB
SEMANGAT: Ardian Purwoseputro menunjukkan proses produksi bubuk Kopi Kereta Api Klasik yang ada di Kecamatan Kanigoro.
SEMANGAT: Ardian Purwoseputro menunjukkan proses produksi bubuk Kopi Kereta Api Klasik yang ada di Kecamatan Kanigoro.

BLITAR - Kopi bukan sekadar minuman, melainkan filosofi kehidupan. Inilah yang menjadi semangat di balik berdirinya Kopi Kereta Api Klasik.

Tidak hanya berorientasi pada penyediaan produk kopi berkualitas, Kopi Kereta Api Klasik juga membawa misi lebih besar: menghidupi banyak pihak yang terlibat dalam ekosistem kopi, dari petani hingga pelaku seni.

Owner Kopi Kereta Api Klasik, Ardian Purwoseputro mengatakan, kata “kopi” dalam brand Kopi Kereta Api Klasik bukan hanya merujuk pada minuman, tetapi juga berasal dari istilah Jawa “ngopeni”, yang berarti merawat atau menghidupi.

Filosofi ini diwujudkan melalui keterlibatan langsung dalam kehidupan petani kopi. “Kami tidak sekadar membeli kopi dari mereka, tapi juga ingin memastikan bahwa para petani mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik,” ujar Ardian Purwoseputro, pemilik dan pendiri Kopi Kereta Api Klasik.

Dengan membeli kopi langsung dari para petani, Kopi Kereta Api Klasik berusaha mengurangi rantai distribusi yang panjang sehingga para petani bisa mendapatkan harga yang lebih adil.

“Kami ingin mereka merasa bahwa mereka tidak hanya bekerja untuk orang lain, tetapi juga mendapat penghargaan atas jerih payah mereka,” tambah Ardian.

Tidak berhenti di situ, Kopi Kereta Api Klasik juga menggandeng berbagai komunitas kreatif, termasuk seniman dan pelaku UMKM. “Kami percaya kopi adalah budaya. Kopi bisa menjadi medium untuk berbagi cerita, seni, dan kreativitas,” jelas Ardian.

Oleh karena itu, Kopi Kereta Api Klasik kerap mengadakan kegiatan yang melibatkan musisi, pelukis, dan seniman lokal lainnya, sehingga usaha kopi ini bukan hanya soal minuman, tapi juga tentang membangun ekosistem yang lebih luas.

Ardian juga menegaskan bahwa nama “Kereta Api” dipilih bukan tanpa alasan. Filosofi kereta api menggambarkan semangat untuk terus bergerak maju, meski kadang harus melewati jalur yang berkelok atau bahkan tampak berlawanan arah.

“Dalam perjalanan kereta api, ada kalanya kita merasa bergerak mundur, tetapi sebenarnya kita tetap menuju tujuan akhir. Begitu pula dalam bisnis dan kehidupan,” ujar Ardian.

Setiap gerbong dalam rangkaian kereta menggambarkan banyak aspek dalam perjalanan ini—petani, pengusaha, pekerja, dan komunitas seni yang turut serta membangun Kopi Kereta Api Klasik. Semua bergerak dalam satu arah, membawa visi yang sama: Menciptakan kesejahteraan dan kemajuan bersama.

“Semangat kami adalah terus maju. Apa pun tantangan yang ada, Kopi Kereta Api Klasik akan terus berkembang, berinovasi, dan membawa dampak positif bagi lebih banyak orang,” tutup Ardian dengan penuh optimisme.

Kopi Kereta Api Klasik bukan sekadar tempat menikmati secangkir kopi, tetapi sebuah gerakan sosial yang bertujuan menghidupi, mengangkat, dan memajukan banyak pihak. Filosofi “ngopeni” dan semangat terus bergerak maju seperti kereta api menjadi fondasi kuat yang membuat usaha ini lebih dari sekadar bisnis.

Bagi siapa pun yang menyeruput Kopi Kereta Api, mereka bukan hanya menikmati rasa kopi yang kaya, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan yang lebih besar—sebuah perjalanan menuju kesejahteraan dan kreativitas yang berkelanjutan. (hai/din)

Editor : M. Subchan Abdullah
#petani #klasik #blitar #filosofi kopi #kopi kereta api #Ardian Purwoseputro #seniman #brand #pelaku umkm