BLITAR - Sulit memang konsisten menjalani usaha rumahan. Namun, Reni Setyawarni, warga Kelurahan Turi, Kecamatan Sukorejo, bisa membuktikan bahwa lulusan pelatihan RT Keren bisa bisa bertahan lama dan bisa membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar dan tetangga terdekat.
Tidak banyak peserta pelatihan RT Keren, program dari Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar, yang konsisten menjadi wirausaha. Namun, ada juga yang memanfaatkan acara tersebut sebagai peluang untuk membuka usaha, bahkan hingga menjadi lapangan pekerjaan bagi orang lain.
Hal itu dilakukan oleh Reni Setyawarni, warga Kelurahan Turi, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar. Dia merupakan lulusan pelatihan RT Keren pada 2023 lalu. Dari situlah, Reni mulai membuka usaha keripik pisang dan berdampak besar bagi lingkungan sekitarnya.
Dia tak menyangka keputusannya untuk mengikuti pelatihan RT Keren pada akhir 2023 justru menjadi langkah awal menuju kesuksesan.
Ketika berada di rumahnya di Jalan Sukun, Kelurahan Turi, tampak ramai oleh pekerja yang sibuk memproduksi keripik pisang. Mulai dari yang mengupas pisang, memotong, menggoreng, dan ada juga yang bagian pengemasan. Ada puluhan keripik pisang yang sudah dikemas di ruang tamu.
“Saya awalnya hanya mencoba-coba ikut pelatihan, tapi kemudian berpikir, kenapa tidak saya jadikan usaha utama. Sedangkan bahan bakunya mudah didapat, harganya terjangkau, dan alat produksinya pun sederhana,” kenang Reni, saat ditemui di rumah produksinya.
Dia menuturkan, berbekal peralatan sederhana seperti sotil, kompor, wajan, dan minyak, Reni mulai memproduksi keripik pisang dalam jumlah kecil. Dia juga mendapatkan pasokan pisang dari pengepul di Kecamatan Kesamben dan Panggungrejo, dengan jenis Rojo Nongko, yang dikirim dalam jumlah besar setiap minggu. Kini, keripik pisangnya sudah berjalan 2 tahun dan masih bertahan.
Keuletan Reni dalam menjalankan usaha ini membuahkan hasil manis. Dia menjadi satu-satunya peserta pelatihan RT Keren yang tetap bertahan dan berkembang. Hingga akhirnya, dia mendapat penghargaan dari Wali Kota Blitar sebagai peserta yang paling konsisten dan inovatif pada Desember 2024 lalu.
“Saya tidak menyangka bisa sejauh ini. Syukurnya usaha keripik pisang ini bisa menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang,” tuturnya haru.
Reni mengaku saat ini dibantu enam pekerja yang bertugas di berbagai lini produksi. Ada dua orang bagian menggoreng, dua orang mengupas dan packing, serta Rini yang mengawasi produksi. Mereka merupakan tetangga yang sejak awal berdiri sudah bekerja di produksi keripik pisang ini.
Seiring waktu, Rini terus berinovasi dengan berbagai varian rasa, mulai dari orisinal, manis, madu, cokelat lumer, matcha, stroberi, hingga tiramisu. Dia mendapakat masukan dari anak-anak muda di sekitarnya, hingga ditindaklanjuti mencari resep di YouTube dan mencoba mempraktikkannya. Ternyata hasilnya memuaskan.
“Namun dari beberapa varian rasa itu, rasa manis menjadi favorit para pelanggannya yang merupakan ibu rumah tangga. Sedangkan untuk yang varian rasa cokelat, stroberi, dan matcha banyak diminati anak muda,” ungkapnya.
Dalam memasarkan produknya, Reni memanfaatkan status WhatsApp dan strategi getok tular antar ibu-ibu di kelurahannya. Selain itu, dia juga bekerja sama dengan toko oleh-oleh khas Blitar dan toko grosir untuk menitipkan produknya. Tanpa disangka, strategi pemasaran sederhana ini membuahkan hasil besar.
“Pesanan keripik pisang ini tidak hanya datang dari Blitar, tetapi juga dari Malang, Surabaya, Kalimantan, hingga Hong Kong. Pesanan dari luar negeri datang dari teman-teman pekerja migran Indonesia (PMI) yang menjualnya secara online. Sedangkan di Surabaya dan Malang, banyak yang menjadi reseller,” kata Reni.
Terbukti, pada hari biasa, produksi keripik pisang Reni hanya mencapai 80 kg per bulan. Namun, memasuki bulan Ramadan, angka ini melonjak drastis hingga 5 kuintal. Hal itu dampak permintaan meningkat tajam. Omzet pun melonjak dari Rp 6 juta menjadi sekitar Rp 25 juta per bulan.
Ibu dua anak ini menjual keripik pisangnya dengan harga Rp 15 ribu per 250 gram, sedangkan Rp 30 ribu untuk kemasan 500 gram. Reni berharap usahanya terus berkembang dan akan membuat inovasi produk untuk ke depannya.
“Saya ingin lebih banyak ibu-ibu dan teman-teman di sekitar saya ikut merasakan manfaat dari usaha ini,” tuturnya dengan senyum hangat. (*/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah