RADAR BLITAR - Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) memiliki peran cukup penting dalam menggerakkan sektor perekonomian di Indonesia. Para pelaku UMKM ini mampu memberikan kesempatan bekerja bagi masyarakat yang non-produktif serta menjadikan tumpuan untuk mengatasi pengangguran di suatu daerah.
Di Tengah maraknya trend jajanan kekinian yang berbahan dasar dari micin, Ibu Suhartati, salah satu warga dari Desa Karanggondang, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, telah berhasil mempertahankan usahanya di bidang kuliner tradisional yaitu Wajik Kletik Kacang Hijau Prima lebih dari 15 tahun lamanya. Dari yang awalnya dibuat secara manual, kini Ibu Suhartati telah dibantu dengan adanya mesin giling serta mesin parut kelapa untuk efisiensi waktu dan biaya.
“Makanan ini sebenarnya asalnya dari Jawa Tengah yang terbuat dari kelapa muda parut dan kacang hijau asli tanpa campuran ketan serta aroma pandan yang khas. Sejauh pengetahuan saya, beberapa memang ada yang menjual wajik kletik ini di daerah Blitar, tapi tidak ada yang se-otentik produk saya. Produk saya juga tidak menggunakan bahan pengawet, makanya saya tidak memperjualkan produk saya di toko,” Ujarnya.
Awal mula usaha ini dibangun adalah karena Ibu Suhartati memanfaatkan peluang yang ada dari koneksi suaminya yang bekerja di perkantoran. Setelah beberapa kali mencoba menawarkan produknya tersebut, dari situlah produk wajik kletik kacang hijau ini mulai dihujani banyak pesanan terutama ketika bulan ramadan.
Dulu hanya mampu memproduksi dalam jumlah puluhan kilo saja dan hanya memiliki satu karyawan. Seiring berjalannya waktu, produk wajik kletik kacang hijau ini mulai dikenal oleh banyak orang dan kini Ibu Suhartati mampu memproduksi dalam jumlah besar hingga 1 ton serta memiliki 10 karyawan.
Beliau memberikan kesempatan bagi tetangganya untuk bekerja agar mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan sebagai penunjang perekonomian rumah tangga. Beliau juga mengikuti kegiatan pelatihan UMKM yang mewakili desa Karanggondang untuk belajar terkait pengemasan produk, pemasaran produk, hingga saat ini telah memiliki sertifikat PIRT.
“Target pasar produk kita sendiri itu di kalangan menengah ke atas. Kemudian untuk produknya tidak saya stokkan dalam toko, akan tetapi jika ada yang memesan baru kita akan membuatkannya. Biasanya ketika bulan ramadan itu pesanan yang membludak hingga 1 ton dan yang paling banyak adalah dari reseller saya sendiri,” Ungkapnya.
Dalam memproduksi wajik kletik kacang hijau ini, Ibu Suhartati masih banyak menghadapi tantangan yang tidak terduga. Salah satunya adalah kenaikan harga bahan baku. Ketika hari besar biasanya harga bahan baku akan mengalami kenaikan secara menyeluruh.
Namun, Ibu Suhartati masih menjualnya dengan harga Rp 65.000 perkilo dari tahun ke tahun tidak pernah berubah meskipun harga bahan baku naik. Sampai di tangan reseller biasanya dibandrol dengan harga Rp 75.000 hingga Rp 85.000 perkilonya.
Akan tetapi juga masih ada reseller yang nakal yang menjual dengan harga tinggi mencapai Rp 90.000 perkilonya. Hal tersebut sangat merusak harga di pasaran yang akibatnya pelanggan bisa kabur.
“Saya sudah menegurnya beberapa kali tapi terkadang masih ada yang secara diam-diam menjual produk saya dengan harga tinggi, itu sangat merugikan saya sendiri,” Kata Ibu Suhartati dengan perasaan kecewa.
Produk wajik kletik kacang hijau yang diberi label “Wajik Kletik Kacang hijau Prima” mulai dipasarkan di sosial media dan beberapa kali menerima pesanan dari luar kota.
Ibu Suhartati berharap kedepannya pemerintah terus mendukung UMKM miliknya ini yang mewakili desa Karanggondang.
Beliau juga berharap kedepannya bisa bekerja sama dengan pelaku usaha lain untuk memajukan UMKM tradisional ini yang tidak hanya dikenal oleh kalangan menengah ke atas, akan tetapi di berbagai kalangan dapat menikmatinya. Jangan sampai produk jajanan UMKM tradisional dikalahkan oleh trend produk baru.
Editor : Anggi Septian A.P.