BLITAR – Usaha buket bunga tampaknya cukup menjanjikan sebagai ladang cuan baru. Tidak hanya kualitas dan promosi, pelayanan prima menjadi tantangan utama diawal usaha.
“Masyarakat membutuhkan edukasi buket bunga asli. Jadi harus percaya diri dan beani branding di awal-awal usaha,” ujar owner Bouquet Blitar, Freni Rizayanti.
Dengan ketekunan dan strategi pemasaran matang, Freni kini mampu meraih omzet melimpah. Puluhan juta harus dia keluarkan untuk memenuhi pesanan tiap bulan. Pada momen-momen tertentu termasuk Hari Ibu, Valentine, kelulusan, atau Lebaran, omzet bisa melonjak tinggi.
"Omzet rata-rata antara 30 sampai 40 juta per bulan,” kata Freni saat ditemui di workshop miliknya.
Menariknya, customer yang menggunakan jasa florist ini tidak hanya dari masyakrakat lokal Blitar. Pesanan datang dari luar negeri, terutama dari para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang ingin memberikan perhatian kepada keluarga atau orang terdekat di kampung halaman.
"Order dari luar negeri banyak, terbanyak dari Hong Kong. Tapi saya juga pernah menerima pesanan dari Korea, Taiwan, Malaysia, Singapura, serta beberapa negara Eropa," ungkapnya.
Para TKI itu biasanya memesan buket sebagai bentuk perhatian pada orang tua, pasangan, atau sahabat mereka yang ada di Blitar.
“Kami menjadi penghubung rasa rindu dan kasih sayang mereka,” tandasnya.
Menurut Freni, kunci utama dalam menjalankan usaha ini adalah pelayanan. Selain kualitas produk yang harus terjaga, kecepatan dalam pengiriman dan layanan konsultasi juga menjadi nilai tambah yang menentukan kepuasan pelanggan.
“Customer sering bingung menentukan desain atau kombinasi bunga. Di situ kami hadir memberikan solusi, bukan sekadar jualan,” jelasnya.
Dia mengungkapkan, sempat pesimistis saat wabah Covid-19 melanda. Namun siapa sangka, masa itu justru menjadi titik balik yang membawa keuntungan besar.
“Waktu itu orang tidak bisa bertemu langsung, jadi banyak yang mengirim buket sebagai simbol perhatian. Bahkan, tren buket berubah, banyak yang minta ditambahkan uang asli karena tidak bisa memberikan secara langsung,” kenangnya.
Di awal membangun usaha, dia mengaku, harus berani keluar modal serta branding secara masif. Dia juga menekankan pentingnya effort tinggi, terutama dalam hal pelayanan.
“Kalau mau serius di bisnis ini, harus siap total. Branding, pelayanan, dan kualitas itu wajib berjalan bareng,” tutupnya. (hai/din)
Editor : M. Subchan Abdullah