Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kurang Beruntung, Harga Sayur Pare Hasil Panen Petani Blitar Anjlok Gara-Gara Hal Ini

Fajar Rahmad Ali Wardana • Sabtu, 10 Mei 2025 | 23:10 WIB
SEGAR: Petani pare di Desa Tingal, Kecamatan Garum, Blitar ketika akan melakukan penen.
SEGAR: Petani pare di Desa Tingal, Kecamatan Garum, Blitar ketika akan melakukan penen.

 

BLITAR – Para petani pare di Kabupaten Blitar tidak semnringah. Sebab harga salah satu sayur tersebut turun. Kini dipengepul harga per kilogram (kg) Rp 4 ribu. Padahal seminggu lalu bisa mencapai Rp 6-7 ribu                 

Petani tidak mengetahui secara persis penyebab penurunan harga pare. “Mungkin permintaan pasar. Dengan harga Rp 4 ribu per kilogram sudah lumayan,” terang Fuad Hasan, Jumat (9/5/2025).

Warga Desa Tingal, Kecamatan Garum ini mengaku, untuk pemasaran pare hanya di pasaran lokal.

Selain itu, setor ke lapak-lapak sayur di desa. Jadi tidak sampai ke luar kota. “Hanya warga lokal. Tidak sampai luar Blitar,” katanya.

Dia mengatakan, ada pengepul pare dari daerah Sanankulon yang mengambil. Lantas di pasarkan ke sejumlah pasar di Kota dan Kabupaten Blitar.

Dia mengaku, pare jenis raden ini yang ditanamnya belum bisa ke luar kota. Konon  disebabkan bentuknya kasar atau tidak halus.

“Saya tanam pare jenis raden sekitar 330 batang. Kini mulai panen namun belum begitu banyak,” terang pria tersebut.   

Di lahan miliknya sekitar 50 ru ini sudah mulai panen. Sebab umur tanaman berkisar 35 hari. Jadi mulai melakukan pemetikan.

Dia sengaja melakukan pemetikan pada sore hari. Dengan alasan sudah ada pemesan dan pagi hari akan diambil.

Berbeda nanti jika sudah masuk waktu puncak panen diusia 55 hari. Jumlah pare yang dipetik akan lebih banyak.

Dia menjelaskan, untuk perawatan tanaman pare tergolong mudah. Diusia beberapa hari hingga 30 hari hanya butuh penyemprotan.

“Kalau untuk awal tanam memang harus pupuk kandang agar tanah lebih subur. Lantas ada pupuk untuk menghindari ulat,” tandasnya.

Jika sudah masuk waktu berbuah, ada perawatan untuk pembuahan agar tumbuh dengan normal.

Dia menambahkan, tidak setiap dua bulan memilih tanam pare. Ada kalanya berganti, termasuk beberapa bulan lalu jenis turi sayur.

Dengan sering melakukan  pergantian tanaman, akan lebih mengetahui dan punya pengalaman ketika bertani. (jar/din)                                                                          

 

Editor : M. Subchan Abdullah
#petani #faktor #anjlok #blitar #turun #pengepul #pare #Permintaan #sayur #harga