Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Rumah BUMN Blitar Beberkan Kebiasaan Buruk yang Wajib Dihindari Bagi Usaha Pemula

Agus Muhaimin • Minggu, 11 Mei 2025 | 20:00 WIB
UNIK: Staf Rumah BUMN Blitar menata beberapa produk UMKM di area displai produk.
UNIK: Staf Rumah BUMN Blitar menata beberapa produk UMKM di area displai produk.

BLITAR - Mengembangkan usaha kecil bukan sekadar soal menjual produk.

Di balik etalase sederhana dan produk rumahan yang dipasarkan secara daring atau dari mulut ke mulut, tersimpan tantangan yang tak sedikit. Tak hanya modal terbatas, riset pasar juga jarang dilakukan sebelum mengawali usaha.

“Di awal usaha, memang banyak tantangan yang dihadapi pelaku UMKM, salah satunya keterbatasan modal,” ujar pengelola Rumah BUMN Blitar, Sulistyaningsih, Minggu (11/5/2025).

Namun menurut dia, modal bukan satu-satunya hambatan. Ada hal-hal pokok kerap dilupakan, bahkan diabaikan oleh pelaku usaha kecil. Salah satu hal mendasar yang kerap luput adalah pemahaman tentang pasar.

Banyak pelaku UMKM hanya ikut-ikutan tren tanpa mempertimbangkan keunikan produk mereka. “Nilai keorisinilan jadi kurang, padahal itu penting untuk membangun identitas usaha,” jelasnya.

Menurut Sulis, penting bagi pelaku usaha kecil untuk melakukan riset pasar. Riset ini bisa menjadi acuan dalam menentukan jenis produk yang tepat dan menjaga keberlanjutan usaha. Tanpa riset, banyak pelaku usaha berhenti di tengah jalan.

HANDMADE: Ecoprint tidak hanya untuk pakaian, perajin juga menggunakannya untuk sepatu.
HANDMADE: Ecoprint tidak hanya untuk pakaian, perajin juga menggunakannya untuk sepatu.

“Ada yang awalnya semangat produksi, tapi di tengah jalan mereka mulai merasakan sulitnya pemasaran. Parahnya, ketika ada permintaan mereka sudah tidak bisa produksi karena kehabisan modal. Itu secara otomatis mengecewakan pasar,” terangnya.

Dia juga menyadari bahwa pelaku usaha kecil sulit mengurus semuanya sendiri, dari produksi, pemasaran, hingga keuangan. Maka pemerintah maupaun lembaga pendukung lainnya memiliki peran penting.

Rumah BUMN Blitar, kata Sulis, tidak hanya menjadi tempat berkumpul para pelaku UMKM, tetapi juga menjalankan fungsi edukatif dan fasilitatif. Di tempat ini, para pelaku usaha diberi pelatihan digital, edukasi keuangan, kurasi produk, hingga pendampingan untuk masuk ke katalog elektronik (e-catalog).

“UMKM memiliki tantangan yang berbeda-beda tergantung kondisi usaha. Jadi kami juga melakukan klasifikasi agar masukan dan dukungan yang diberikan tepat sasaran,” tegasnya.

Salah satu temuan menarik dari Rumah BUMN adalah kecenderungan perputaran produk. Produk habis pakai seperti makanan dan minuman terbukti memiliki rotasi penjualan yang lebih cepat dibanding kerajinan. Namun demikian, makanan dan minuman memiliki tantangan tersendiri, yakni masa kedaluwarsa dan standar pengemasan.

Sebaliknya, produk kerajinan lebih tahan lama, tetapi kerap mengalami stagnasi karena terbatasnya akses promosi dan belum adanya daya tarik visual yang kuat untuk bersaing di pasar digital.

"Biasanya kerajinan seperti batik sangat bergantung pada tren dan kebijkan pemerintah yang mengharuskan mengenakan batik," terangnya. (hai/din)

Editor : M. Subchan Abdullah
#usaha #blitar #bisnis #pemula #pelaku usaha #rumah BUMN