BLITAR - Meskipun kondisi ekonomi semakin membaik, tetapi masih banyak warga Blitar yang belum memiliki rumah sendiri. Akhirnya, rumah susun sederhana sewa (rusunawa) menjadi alternatif hunian bagi mereka yang belum memiliki rumah ini.
Informasinya, untuk mendapatkan rumah baru dengan tipe sangat sederhana di Kota Blitar harus mengeluarkan anggaran Rp 175 juta hingga Rp 200 juta. Tentunya harga tersebut bagi kalangan menengah ke bawah masih tak terjangkau.
“Terhitung dari awal tahun ini hingga Juni ini, tercatat sudah ada 50 lebih warga yang antre untuk menyewa rusunawa. Karena mereka menganggap bahwa tinggal di rusunawa adalah solusi tidak bisa membeli rumah,” jelas Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Blitar, Suyatno, Kamis (26/6/2025).
Namun sayang, jelas dia, kondisi kurang lebih 265 rumah sederhana yang ada di rusunawa sudah penuh.
Akibatnya, para calon penyewa yang baru ini harus antre tanpa kepastian kapan akan bisa menghuni di rumah susun tersebut, dan tentunya ini menambah persoalan baru.
“Rusunawa sudah penuh, jadi mereka yang antre tidak tahu pasti kapan akan bisa untuk tinggal di sana. Tentu ini menjadi persoalan sendiri,” akunya.
Harga sewa rusunawa sendiri cukup murah yakni Rp 75 ribu untuk lantai 4 dan untuk lantai 1-3 dihargai Rp 150 ribu per bulan. Karena harga yang murah ini membuat para penghuni enggan untuk pindah, padahal secara aturan menghuni rusunawa adalah maksimal 3 tahun, setelah itu diharuskan sudah pindah.
“Tapi ternyata memang banyak penghuni yang enggan pindah meskipun sudah menghuni lebih dari 3 tahun. Padahal, rusunawa ini sifatnya adalah rumah transit. Apalagi, rencana untuk menambah blok rusunawa juga belum bisa dilakukan karena adanya efisiensi anggaran,” ungkapnya. (ady/c1)
Editor : M. Subchan Abdullah