BLITAR - Siti Amara jatuh bangun membesarkan budi daya sapi perahnya. Perempuan tangguh warga Desa Bangsri, Kecamatan Nglegok ini berhasil mengubah nasib keluarganya berkat kerja keras memproduksi susu perah berkualitas. Wabah PMK menjadi tantangan terberatnya.
Perjalanan Siti Amara di dunia peternakan dimulai tidak langsung dari sapi perah. Dia mengawalinya dengan beternak sapi pedaging.
Kemudian pada 2005 karena suatu hal, dia memutuskan banting setir membudidayakan sapi perah.
Keputusan itu menjadi titik awal dari sebuah pencapaian sukses yang kini dinikmati.
"Awalnya saya coba penggemukan, tapi rasanya kurang cocok. Lalu pindah haluan ke sapi perah sejak 2005 sampai sekarang," tutur perempuan 48 tahun ini saat ditemui di kandang sapi perahnya di Desa Bangsri.
Semua itu berawal dari satu ekor sapi perah. Dengan sabar, dia merawat dan belajar bahwa kunci kualitas susu terletak pada "comboran" atau pakan campuran yang diberikan.
Perlahan tapi pasti, usahanya kini berkembang dengan total 23 ekor sapi. Bahkan dia sudah mempekerjakan karyawan untuk membantunya.
Setiap pagi dan sore, susu segar hasil perahan dari peternakannya disetorkan ke koperasi, tempat dia bergabung sejak 2007.
Dari koperasi inilah, susu berkualitas tersebut kemudian didistribusikan ke perusahaan multinasional, Nestlé, yang telah menjalin kerja sama.
Namun, jalan yang dilaluinya tidak selalu mulus. Tantangan terbesar datang saat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) melanda. Sebanyak 12 dari 23 ekor sapi miliknya terinfeksi hingga ada sebagian yang akhirnya mati.
Baca Juga: Bukan Cuma Kolesterol Tinggi, Ini Pemeriksaan Lain yang Bisa Selamatkan Nyawamu
"Itu masa paling sulit. Selama enam bulan, saya harus merogoh kocek pribadi untuk biaya pengobatan dan perawatan. Ada sapi yang mati dan harus langsung dikubur. Ada juga yang terpaksa disembelih dan dijual hanya laku Rp 3 juta, padahal dulu belinya Rp 20 juta," kenangnya terharu.
Selain wabah PMK, tantangan lain seperti sapi yang terserang penyakit mirip hepatitis dengan gejala susu mengeras setelah melahirkan juga pernah dia hadapi.
Maka itu, dia semakin waspada terhadap gejala penyakit yang timbul pada ternaknya.
Secara berangsur-angsur, dia merawat satu per satu sapinya hingga pulih dan kandangnya kembali terisi penuh. Satu demi satu sapi perah itu beranak dan mampu menghasilkan susu berkualitas.
Kerja keras dan kegigihannya melewati masa-masa sulit itu kini berbuah manis. Dari hasil beternak sapi perah, Siti Amara tidak hanya mampu menyekolahkan anak-anaknya, tetapi juga berhasil mewujudkan impiannya untuk berangkat haji dan membeli sebuah mobil.
Tak berhenti di situ, ia juga melakukan diversifikasi usaha. Selain menjual sapi dan susu, peternakannya kini menjadi mitra bagi peternak lain dengan menyediakan pakan ternak dan jasa penggilingan.
Menatap ke depan, harapannya sederhana. "Saya ingin kualitas susu dari peternakan ini terus terjaga, karena ini adalah kepercayaan dari koperasi dan Nestlé," ujarnya.
Dia juga menitipkan pesan inspiratif bagi generasi muda yang mungkin ragu untuk terjun ke dunia peternakan.
"Untuk anak muda, jangan malu dan jangan pernah menyerah. Akan ada masanya kita dihadapkan pada kesulitan dalam beternak, tetapi percayalah, hasilnya pasti akan sangat memuaskan jika kita berhasil melewatinya," tutupnya dengan senyum optimistis. (*/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah