Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dari Sopir Telur ke Pengusaha Pakan 30 Juta per Bulan: Kisah Hengki dari Blitar Selatan

Findika Pratama • Selasa, 22 Juli 2025 | 20:30 WIB

Dari Sopir Telur ke Pengusaha Pakan 30 Juta per Bulan: Kisah Hengki dari Blitar Selatan
Dari Sopir Telur ke Pengusaha Pakan 30 Juta per Bulan: Kisah Hengki dari Blitar Selatan

BLITAR – Siapa sangka, hanya bermodalkan kemauan dan sepeda motor tua untuk mengantar telur, seorang pemuda asal Blitar Selatan kini mampu mengolah bekatul dan jagung menjadi ladang rezeki yang menjanjikan. Hengki Mesaputra (27), mantan sopir telur dari Kecamatan Wonotirto, kini sukses mengelola bisnis pakan ternak dengan omzet mencapai Rp30 juta per bulan.

Berawal dari pekerja serabutan dan kurir telur keliling kandang, Hengki mulai mengenal peluang usaha pakan mandiri berbahan dasar bekatul dan jagung. Ia melihat banyak peternak ayam di wilayahnya kesulitan mendapatkan pasokan pakan stabil dengan harga terjangkau. Dari sanalah semangat wirausaha Hengki tumbuh dan berkembang.

“Dulu saya cuma nganterin telur dari kandang ke pasar. Tapi saya lihat banyak yang butuh pakan, dan mereka sering ngeluh soal harga dan kualitas. Saya coba bantu dengan beli bekatul dan jagung dari penggilingan, saya campur sendiri, lalu ditawarkan lagi,” ujar Hengki saat ditemui Radar Blitar TV, di kios pakan miliknya yang kini ramai dikunjungi pelanggan.

Baca Juga: Menurut Raditya Dika Compounding Return Pondasi Penting di Industri Kreatif

Dari Obrok Ayam ke 7 Ton Pakan per Hari

Cerita sukses Hengki tidak dibangun dalam semalam. Ia memulai bisnis ini dari bawah, bahkan tanpa toko. Berbekal obrok (keranjang motor), ia antar pakan ke peternak-peternak di pegunungan Wonotirto dan Binangun. Saat itu, ia hanya mampu menjual beberapa karung pakan per hari. Namun lambat laun, kepercayaan konsumen meningkat.

Kini, Hengki memproduksi hingga 7 ton pakan per hari, terdiri dari campuran bekatul, jagung giling, dan beberapa komponen nutrisi tambahan. Pakan tersebut disuplai ke lebih dari 50 kandang ayam petelur dan pedaging di wilayah Blitar selatan.

“Awalnya saya cuma ngangkut 1-2 karung. Sekarang pakai mobil L300 dan masih sering kewalahan,” ucapnya sambil tersenyum. Ia mengaku sempat nyaris menyerah, apalagi ketika mobil pinjaman yang ia pakai untuk distribusi nyaris tergelincir masuk jurang saat hujan lebat. Namun dukungan dari istri dan mimpi untuk hidup lebih layak membuatnya terus bertahan.

Baca Juga: Bukan Cuma Kolesterol Tinggi, Ini Pemeriksaan Lain yang Bisa Selamatkan Nyawamu

Graduasi dari Kemiskinan Lewat Ketekunan

Hengki adalah potret nyata dari anak muda desa yang berhasil “graduasi” dari kemiskinan tanpa mengandalkan bantuan pemerintah atau warisan keluarga. Ia mengaku, modal awal usaha pakan ini hanya sekitar Rp10 juta, hasil dari menabung saat masih menjadi sopir.

“Saya nggak kuliah, nggak punya warisan. Tapi saya percaya, kalau kita kerja keras dan ngerti pasar, insya Allah ada jalan,” tuturnya.

Kini, Hengki tak hanya fokus pada distribusi pakan. Ia juga mulai menjual bahan mentah seperti bekatul curah, jagung kering, dan konsentrat dengan sistem pesan antar. Selain itu, ia membuka peluang kerja bagi anak muda di sekitarnya.

Baca Juga: Waspada! Pendamping Sosial & Pemilik Usaha Resmi Tak Lagi Dapat Bansos, Ini Kata Kemensos

Peran Medsos dan Radar Blitar TV

Kesuksesan Hengki juga tak lepas dari peran media sosial dan eksposur dari Radar Blitar TV yang mengangkat kisahnya dalam segmen UMKM Inspiratif. Dari sinilah banyak pelanggan baru datang, bahkan dari luar wilayah Blitar. Ia juga sering berbagi pengalaman di grup peternak dan kanal YouTube lokal.

“Waktu video saya tayang di Radar Blitar TV, banyak yang DM, tanya-tanya soal racikan pakan. Saya senang bisa bantu sesama,” katanya.

Hengki berharap pemerintah bisa lebih sering turun ke desa untuk mendengar aspirasi pengusaha kecil. Menurutnya, banyak anak muda potensial yang butuh akses modal dan bimbingan, bukan hanya sekadar bansos.

Baca Juga: Raditya Dika: Kritik Itu Membangun, Belajar Menerima Kritik untuk Pekerja Kreatif

Bukan Soal Uang, Tapi Harga Diri

Kini dengan omzet stabil, Hengki sudah bisa membeli kendaraan sendiri, menambah alat penggiling, dan bahkan memperluas gudang. Tapi yang paling ia syukuri adalah harga diri yang ia bangun melalui usaha.

“Saya ingin tunjukkan ke anak muda lain, kerja jujur dan konsisten itu bisa bikin hidup berubah. Jangan malu mulai dari bawah,” pungkasnya.

Kisah Hengki menjadi inspirasi bagi banyak pemuda desa lain. Bahwa di balik bekatul dan jagung, ternyata tersimpan potensi ekonomi besar yang mampu mengangkat derajat hidup.

Baca Juga: Satu Keluarga Dicoret dari DTKS Jika Ada Anggota Bergaji di Atas UMK, Ini Penjelasan Lengkapnya

Editor : Anggi Septian A.P.
#jagung #telur #blitar #bekatul #Pakan #pengusaha #sopir