Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

50 Kandang Langganan, 7 Ton Katul Sehari: Bisnis Anak Desa Blitar Ini Tak Main-Main

Findika Pratama • Selasa, 22 Juli 2025 | 22:00 WIB

 

50 Kandang Langganan, 7 Ton Katul Sehari: Bisnis Anak Desa Blitar Ini Tak Main-Main
50 Kandang Langganan, 7 Ton Katul Sehari: Bisnis Anak Desa Blitar Ini Tak Main-Main

BLITAR – Berawal dari gudang sempit dan mixer pakan rakitan, Hengki Mesaputra (28), pemuda dari Kecamatan Wonotirto, Blitar Selatan, kini mengelola bisnis pakan ternak dengan skala tak main-main. Setiap hari, ia memproduksi hingga 7 ton pakan berbahan dasar bekatul dan jagung, dan sudah menjadi langganan tetap 50 kandang ayam petelur di Blitar, Tulungagung, hingga Trenggalek.

“Awalnya cuma bisa produksi 100 kilo sehari, itu pun ngangkut sendiri pakai motor. Sekarang alhamdulillah sudah bisa pakai dua truk dan lima pekerja,” ujar Hengki saat ditemui tim Radar Blitar TV. Ia menyebut bekatul dan jagung tetap jadi bahan utama karena mudah didapat di desa dan murah, tapi tetap bergizi untuk pakan ayam.

Hengki mengaku, konsistensi dan kepercayaan pelanggan adalah kunci bisnisnya. “Saya pastikan pakan selalu segar, bukan stok lama. Itu yang bikin pelanggan betah, meski harganya kadang naik,” ujarnya.

Baca Juga: Jangan Takut Gagal, Raditya Dika Bilang Kegagalan Adalah Langkah Awal Menuju Kesuksesan

Dari Usaha Rumahan ke Skala Tonase

Tak banyak yang menyangka, bisnis besar ini lahir dari keterbatasan. Hengki yang semula hanya bekerja sebagai sopir antar telur melihat peluang dari kebutuhan peternak terhadap pakan alternatif. Dengan modal Rp10 juta, ia membeli bekatul dari penggilingan kecil dan mencampurnya dengan jagung giling untuk menciptakan pakan hemat namun berkualitas.

“Banyak peternak kecil yang ngeluh harga pakan pabrikan mahal. Jadi saya coba racik sendiri. Ternyata cocok, malah ayamnya lebih sehat,” kata Hengki.

Ia memanfaatkan dapur rumah sebagai tempat produksi awal. Setelah berkembang, ia menyewa lahan kosong di desanya dan membangun gudang sederhana untuk menampung bahan dan produksi skala lebih besar.

Baca Juga: Satu Keluarga Dicoret dari DTKS Jika Ada Anggota Bergaji di Atas UMK, Ini Penjelasan Lengkapnya

Jaringan Pelanggan yang Luas

Kini, Hengki melayani lebih dari 50 peternak tetap. Mereka rutin memesan pakan seminggu sekali dengan jumlah minimal 100 kg. Beberapa bahkan mengambil hingga 500 kg per pengiriman.

“Saya nggak pernah iklan. Semua dari mulut ke mulut. Ada juga yang tahu dari media sosial dan datang langsung,” jelasnya.

Hengki sengaja menjaga kualitas agar pelanggan loyal. Ia juga memberikan konsultasi gratis terkait pakan dan pengelolaan kandang kepada peternak.

Baca Juga: Waspada! Pendamping Sosial & Pemilik Usaha Resmi Tak Lagi Dapat Bansos, Ini Kata Kemensos

Dikerjakan Anak Muda Desa

Yang menarik, seluruh proses produksi dan distribusi dikerjakan oleh pemuda desa. Hengki mempekerjakan lima orang dari lingkungan sekitarnya.

“Saya sengaja rekrut anak-anak muda yang nganggur. Saya ajari dari nol. Sekarang mereka malah ikut bantu manajemen,” jelasnya.

Hal ini menjadi inspirasi tersendiri, mengingat banyak pemuda desa memilih merantau ke kota. Hengki justru membuktikan bahwa dengan inovasi dan kemauan belajar, desa bisa jadi tempat tumbuhnya ekonomi baru.

Baca Juga: Raditya Dika: Kritik Itu Membangun, Belajar Menerima Kritik untuk Pekerja Kreatif

Skema Produksi Harian

Setiap hari, Hengki membeli bekatul dari penggilingan lokal sebanyak 4 ton, dan jagung giling sekitar 3 ton. Bahan tersebut kemudian dicampur dengan tambahan vitamin dan fermentasi organik untuk menjaga kualitas gizi.

“Pagi bahan datang, siang kita racik dan aduk, sore sudah siap kirim. Semua sistemnya saya buat terjadwal,” ungkap Hengki.

Meski kapasitas besar, ia tetap menjaga ketelatenan dan tidak asal dalam produksi. “Saya nggak mau cuma kuantitas. Kalau kualitas turun, pelanggan bisa pindah,” tambahnya.

Baca Juga: Resmi! 6 Kriteria Warga yang Tak Lagi Dapat Bansos, Termasuk ASN dan Gaji di Atas UMK

Perhatian Pemerintah Mulai Datang

Beberapa waktu lalu, usaha Hengki dilirik oleh Dinas Peternakan Kabupaten Blitar. Mereka mengapresiasi model usaha berbasis lokal yang menyerap tenaga kerja dan memberdayakan petani jagung serta penggilingan kecil.

Pihak dinas bahkan menyebut akan mengupayakan bantuan alat produksi otomatis untuk meningkatkan efisiensi. Hengki menyambut positif langkah ini, meski ia mengaku lebih senang tetap mandiri.

“Saya bersyukur kalau ada bantuan. Tapi saya juga ingin usaha ini bisa jalan meski tanpa sokongan. Biar anak muda lain juga yakin bisa mulai dari bawah,” katanya.

Baca Juga: Bukan Cuma Kolesterol Tinggi, Ini Pemeriksaan Lain yang Bisa Selamatkan Nyawamu

Rencana ke Depan: Produk Kemasan dan Edukasi Peternak

Kini, Hengki tengah menyiapkan pakan kemasan skala kecil untuk pemula. Ia juga ingin membuat pelatihan bagi peternak baru terkait perhitungan kebutuhan pakan dan manajemen kandang.

“Saya ingin bisnis ini bukan cuma untung, tapi juga bermanfaat. Biar makin banyak yang mandiri, terutama peternak kecil,” katanya.

 

Editor : Anggi Septian A.P.
#jagung #bisnis #pakan ternak #bekatul #pemuda