BLITAR – Di balik dentuman keras dan gemerlap truk-truk modifikasi, sound horeng ternyata bukan sekadar hiburan jalanan. Ia telah menjelma menjadi industri hiburan rakyat bernilai miliaran rupiah yang hidup dari akar rumput. Dari pemilik, kru teknis, hingga pedagang kaki lima di lokasi acara, semua turut merasakan denyut ekonomi yang dipompa oleh aktivitas sound horeng ini.
Popularitas sound horeng di berbagai daerah di Jawa Timur, seperti Malang, Blitar, Tulungagung, dan Kediri, bukan datang begitu saja. Dengan sistem audio super besar, truk modifikasi, hingga tata lampu yang megah, biaya investasi satu unit sound horeng bisa menembus angka Rp500 juta hingga Rp2 miliar. Tak hanya menjadi ajang adu gengsi, tetapi juga menjadi mesin uang yang berputar di kampung-kampung.
Di balik setiap pertunjukan sound horeng, ada banyak lapangan kerja yang tercipta. Satu armada biasanya mempekerjakan 10–15 orang kru teknis, mulai dari sopir, teknisi audio, penata lampu, hingga tenaga keamanan. Belum termasuk vendor sewa genset, operator drone dokumentasi, dan jasa cleaning service pasca acara. Setiap malam minggu, terutama saat musim hajatan, ratusan pemuda desa mendapatkan penghasilan dari pekerjaan yang berputar di ekosistem sound horeng.
Baca Juga: Polisi Akhirnya Ungkap Motif Aksi Perundungan Terhadap Siswa SMPN 3 Doko Blitar
Modal Besar, Perputaran Ekonomi Lebih Besar
Investasi pada satu truk sound horeng tidak main-main. Pemilik harus menyediakan dana besar untuk membeli perangkat audio kelas pro seperti speaker subwoofer berdaya ribuan watt, mixer digital, equalizer, serta pencahayaan LED profesional. Belum termasuk modifikasi bodi truk, rangka panggung, dan branding visual. Bahkan ada pemilik yang sengaja membuat konten YouTube agar semakin dikenal dan menambah cuan dari iklan digital.
Namun di balik modal besar itu, omzet yang didapat juga tidak sedikit. Dalam semusim—sekitar 4 sampai 5 bulan aktif—satu truk bisa disewa 20–30 kali, dengan tarif antara Rp5 juta hingga Rp15 juta per event, tergantung skala dan daerah. Itu belum termasuk pemasukan dari sponsor lokal, penjualan merchandise, atau monetisasi konten di media sosial.
Menghidupi Banyak Orang di Akar Rumput
Kehadiran sound horeng juga menghidupkan ekosistem ekonomi lokal. Penjual makanan, minuman, mainan anak-anak, hingga jasa parkir dan sewa kursi tenda turut mendapatkan rezeki dari setiap acara. Di satu event besar, bisa ada puluhan pedagang yang meraup omzet ratusan ribu hingga jutaan rupiah dalam satu malam. Ini menjadikan sound horeng bukan hanya hiburan, tetapi juga tumpuan ekonomi informal.
Bagi banyak pemuda desa, ikut dalam kru sound horeng menjadi pekerjaan tetap, bahkan jalan menuju kewirausahaan. Ada yang berawal dari tukang angkut kabel, lalu belajar instalasi listrik, dan kini membuka jasa sound system sendiri. Ada pula yang menjadi konten kreator, me-review kualitas audio sound horeng dan menghasilkan uang dari penonton YouTube.
Digitalisasi dan Branding Jadi Kunci
Beberapa pemilik sound horeng mulai merambah ke dunia digital. Mereka membuat kanal YouTube, TikTok, hingga Instagram sebagai media promosi. Nama-nama seperti “Brewog Audio”, “Mas Channel”, dan “Seketi Sound” dikenal luas bukan hanya di dunia nyata, tapi juga di ranah digital. Dengan ratusan ribu subscriber, konten pertunjukan mereka bisa ditonton jutaan kali. Ini membuka peluang monetisasi dari Google AdSense dan kerja sama merek.
Tak hanya itu, konten-konten sound horeng juga menjadi bagian dari budaya pop digital di Jawa Timur. Meme, parodi, dan challenge di TikTok membuat fenomena ini makin viral dan punya daya tarik tersendiri, terutama bagi anak muda.
Antara Potensi Ekonomi dan Tantangan Sosial
Meski menjadi ladang cuan, sound horeng tetap menuai kontroversi, terutama dari segi kebisingan dan keamanan. Namun dengan regulasi yang tepat—seperti batas volume, jam operasional, serta standar teknis—fenomena ini bisa terus tumbuh tanpa merugikan masyarakat. Pemerintah daerah mulai melirik untuk mendata dan memfasilitasi pelaku usaha ini sebagai bagian dari UMKM sektor hiburan.
Beberapa daerah bahkan mengadakan festival adu sound horeng secara resmi, seperti di Tulungagung dan Jombang. Ini menjadi ajang positif, terukur, dan menghindari konflik sosial yang biasa muncul akibat acara ilegal di jalanan.
Penutup
Sound horeng telah berkembang dari sekadar ekspresi musikal jalanan menjadi industri kreatif yang nyata. Di balik dentuman keras dan kontroversinya, terdapat peluang ekonomi besar yang memberi penghidupan bagi ribuan warga. Tantangannya kini adalah bagaimana mengelola potensi itu agar tetap ramah sosial, berdaya secara ekonomi, dan tetap menjadi bagian dari budaya rakyat.
Editor : Anggi Septian A.P.