Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mengenal Sound Horeng: Dari Tradisi Sound Clash Jamaika ke Panggung Rakyat Indonesia”

Anggi Septiani • Kamis, 24 Juli 2025 | 01:00 WIB

Mengenal Sound Horeng: Dari Tradisi Sound Clash Jamaika ke Panggung Rakyat Indonesia”
Mengenal Sound Horeng: Dari Tradisi Sound Clash Jamaika ke Panggung Rakyat Indonesia”

BLITAR – Suara dentuman keras dari speaker raksasa yang menggetarkan tanah, memecah kaca jendela, dan menyita perhatian warga kini akrab disebut sebagai fenomena sound horeng. Fenomena ini bukan sekadar tren musik jalanan, tetapi bagian dari transformasi budaya global yang berakar dari Jamaika tahun 1950-an dan kini menjelma menjadi “diskotek rakyat” di banyak kota di Indonesia, khususnya di Jawa Timur.

Popularitas sound horeng mulai mencuat di Indonesia sekitar tahun 2014. Namun jejak sejarahnya jauh lebih tua. Budaya sound system pertama kali berkembang di Jamaika, ketika para DJ lokal menggelar pesta jalanan gratis dengan speaker raksasa yang dipasang di atas truk.

Fenomena tersebut dikenal sebagai sound clash—adu kualitas dan volume antar sistem suara. Tradisi ini kemudian merembes keluar dari Jamaika melalui diaspora budaya dan musik reggae, hingga akhirnya menemukan bentuk lokalnya di Indonesia sebagai sound horeng.

Baca Juga: 90% Teknologi Mendominasi Berbagai Sektor, Lalu Bagaimana Kondisi Literasi Digital di Sistem Pendidikan Indonesia?

Di Indonesia, sound horeng menjadi hiburan rakyat yang melekat dalam banyak acara, mulai dari pesta desa hingga karnaval. Identitasnya tidak sekadar suara keras, tetapi juga bentuk ekspresi sosial yang menggabungkan teknologi audio, kreativitas desain truk, hingga euforia kolektif warga.

Dalam praktiknya, para penggila sound horeng tidak hanya adu volume, tetapi juga adu gengsi: siapa yang punya speaker lebih besar, bass lebih menggetarkan, dan desain truk yang lebih mencolok.

Fenomena ini sangat kentara di Jawa Timur, khususnya di kota-kota seperti Jember, Probolinggo, hingga Blitar. Setiap musim hajatan atau festival desa, truk-truk sound system berjejer seperti parade.

Baca Juga: Momen Hari Anak Nasional 2025 Tercoreng oleh Aksi Bullying di SMPN 3 Doko Blitar

Beberapa pengusaha sound horeng bahkan berani menginvestasikan ratusan juta hingga miliaran rupiah demi menghasilkan pengalaman audio maksimal. Tak jarang, nilai satu set sound system bisa mencapai Rp1 miliar, belum termasuk kru, teknisi, dan biaya operasional lainnya.

Tak bisa dipungkiri, sound horeng kini telah menjadi ladang ekonomi bagi banyak pihak. Pemilik sistem audio, kru teknis, hingga pedagang makanan di sekitar acara turut merasakan dampaknya. Dari segi bisnis, ini adalah sektor hiburan informal yang tumbuh subur di tengah keterbatasan akses masyarakat terhadap hiburan komersial.

Namun, sebagaimana banyak budaya populer lainnya, pertumbuhan sound horeng juga memantik kontroversi. Suaranya yang bisa mencapai lebih dari 130 desibel jelas melewati ambang batas aman yang disarankan WHO, yakni 85 desibel.

Baca Juga: Momen Hari Anak Nasional 2025 Tercoreng oleh Aksi Bullying di SMPN 3 Doko Blitar

Tidak sedikit kasus di mana warga mengeluh tidak bisa tidur, anak kecil terganggu kesehatannya, atau bahkan properti rusak akibat getaran suara yang ekstrem. Beberapa kasus bentrokan antara warga dan kru sound horeng pun sempat viral di media sosial.

Uniknya, meski dipenuhi kontroversi, fenomena ini juga dianggap bagian dari identitas lokal yang kuat. Sama seperti sound clash di Jamaika, sound horeng menyuguhkan arena kompetisi yang bukan hanya soal musik, tetapi juga soal eksistensi dan kebanggaan komunitas. Inilah yang membuatnya sulit diberangus secara total.

Lalu bagaimana kita menyikapinya? Sebagian musisi dan pelaku industri audio menyarankan pendekatan regulatif dan edukatif. Misalnya dengan menetapkan batas desibel yang seragam, aturan jam operasional, serta rute yang tidak mengganggu lingkungan sensitif seperti sekolah atau rumah sakit. Beberapa daerah bahkan mulai mengharuskan perizinan dan audit teknis sebelum sound horeng digelar.

Baca Juga: Sekolah Orang Tua Hebat: Harapan Baru Cegah Anak Kecanduan Judi Online

Sisi kreatif juga terus dikembangkan. Beberapa komunitas mulai mengadakan kompetisi “adu jernih” alih-alih “adu keras”. Fokusnya bergeser pada kualitas mixing audio, keseimbangan antara bass dan treble, serta tampilan visual dari kendaraan yang membawa sound system. Perubahan ini menunjukkan bahwa sound horeng bisa menjadi ruang ekspresi kreatif, bukan sekadar sumber kebisingan.

Pemerintah daerah, dalam hal ini, juga ditantang untuk lebih adaptif. Daripada memberangus total, lebih baik membuka ruang dialog antara komunitas sound horeng dengan warga dan aparat.

Di titik inilah pentingnya hadir asosiasi atau forum pelaku sound horeng yang bisa menjadi jembatan antara ekspresi budaya dan keteraturan sosial.

Baca Juga: Cerita Wakil II Putri Batik Blitar: Berawal dari Belakang Kamera hingga Keluar Zona Nyaman

Jika ditarik lebih luas, sound horeng merupakan cermin dari bagaimana budaya luar bisa diadaptasi secara lokal dan membentuk identitas baru yang unik.

Dari pesta jalanan Jamaika ke gang-gang desa di Jawa Timur, suara dentuman itu tak hanya sekadar musik. Ia adalah simbol dari keinginan rakyat untuk bersuara, bersenang-senang, dan merasa hidup.

Tentu saja, tantangan ke depan adalah bagaimana membuat suara itu tetap terdengar—tanpa menulikan yang lain.

Dengan pendekatan yang bijak dan regulasi yang adil, sound horeng bisa terus hidup sebagai bagian dari khazanah budaya pop Indonesia yang dinamis, merakyat, dan tetap bertanggung jawab.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sound #keras #budaya #speaker #dentuman #populer #dari #Kini #truk #Di Jawa Timur #BERISI #horeng #FENOMENA #jadi