BLITAR - Inspirasi bisa datang dari mana saja. Seperti yang dilakoni oleh Imam Afandi, warga Desa Slumbung, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar.
Dia berhasil mengembangkan usaha pertanian hidroponik justru setelah mengamati dan belajar saat menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) di Taiwan.
Setelah pulang ke Indonesia, sekitar tahun 2020 atau saat awal pandemi, dia mulai fokus mengembangkan pertanian hidroponik. Awalnya, dia mencoba pada tanaman jenis bayam Brazil dan sawi pakcoi.
Saat libur, dia menyempatkan diri untuk mengamati pertanian hidroponik di sana. Dari situlah muncul keinginan untuk menerapkan teknologi serupa di kampung halamannya.
“Saya tahu metode ini dari luar, dari Taiwan. Saya pikir di rumah belum ada sistem seperti ini. Ada, tapi masih sangat sedikit,” ujarnya.
Usaha hidroponik milik Imam berdiri di atas lahan seluas 19x15 meter. Proses budi daya dimulai dari penyemaian benih menggunakan media tanam rock wool, yang kemudian dijemur selama 14 hari tanpa boleh mengering.
Selanjutnya, bibit dipindahkan ke meja remaja selama 10–12 hari, lalu ke meja dewasa hingga masa panen tiba, sekitar hari ke-45 sampai ke-50.
Kini, Imam mampu memanen sekitar 90 hingga 100 kemasan selada atau setara dengan 7 kilogram (kg) dalam sehari.
Hasil panen tersebut didistribusikan ke rumah makan, pedagang pasar, hingga konsumen yang datang langsung ke kebunnya.
“Saya bikin rotasi, Mas. Jadi tidak pernah tidak ada panen. Panen terus, dengan jadwal sirkulasi yang sudah ditentukan, tergantung pasar,” jelasnya.
Baca Juga: Toleransi Antar Umat Beragama, Menanamkan Teladan Spiritual Pada Kepercayaan Sapta Dharma
Dengan semangat belajar dan konsistensi menjaga kualitas produk, Imam kini menjadi salah satu pelopor pertanian hidroponik di daerahnya.
Tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan pangan lokal, tetapi juga membuka peluang inspiratif bagi generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian modern. (bar/ynu/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah