Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Blitar Kota Koi? Tapi Banyak Warganya Tak Punya Kolam: Kritik Tajam dari Petani Lokal

Ichaa Melinda Putri • Senin, 4 Agustus 2025 | 19:30 WIB

Blitar Kota Koi? Tapi Banyak Warganya Tak Punya Kolam: Kritik Tajam dari Petani Lokal
Blitar Kota Koi? Tapi Banyak Warganya Tak Punya Kolam: Kritik Tajam dari Petani Lokal

BLITAR — Julukan Blitar Kota Koi terus digaungkan pemerintah daerah sebagai identitas baru kota ini. Namun, di balik slogan yang terdengar megah, masih banyak warga Blitar yang justru tidak memiliki akses untuk memelihara atau bahkan sekadar mengenal lebih dekat ikan koi. Kritik tajam pun datang dari pelaku usaha lokal, salah satunya Muhammad Rajalakshmi, petani koi Blitar asal Desa Karangsono, Kanigoro.

Menurut Rajalakshmi, branding koi Blitar sejauh ini hanya kuat di permukaan, namun lemah dalam implementasi riil di masyarakat. “Saya sering dapat pertanyaan dari customer luar daerah, ‘Saya tahu Blitar Kota Koi, tapi saya nggak punya kolam di rumah, jadi cuma tahu namanya saja’. Ini menunjukkan bahwa program yang ada belum benar-benar menyentuh ke akar,” ujarnya, dikutip dari Radar Blitar TV.

Raja menilai, yang lebih dibutuhkan oleh masyarakat adalah akses nyata terhadap infrastruktur pendukung seperti kolam ikan, edukasi tentang budidaya koi, serta jalur distribusi yang sehat. “Kalau hanya promosi besar-besaran, tapi masyarakat lokal sendiri tidak terlibat langsung, itu namanya branding kosong. Petani kecil juga butuh dibantu, bukan cuma dipajang buat foto-foto,” sindirnya.

Baca Juga: Perjuangan Handoko Budi Daya Koi Hingga Sukses Jadi Juri, Berawal Jualan Keliling di Pasar, Kini Sering Bolak-balik Jepang

Petani Lokal: Kualitas Lebih Penting dari Slogan

Rajalakshmi yang telah berkecimpung di dunia budidaya koi sejak 2016 itu menegaskan bahwa persoalan paling mendasar bukan pada seberapa sering slogan Blitar Kota Koi digaungkan, melainkan bagaimana kualitas koi yang dihasilkan petani lokal bisa bersaing di pasar nasional dan internasional.

Menurutnya, tanpa perbaikan kualitas, branding hanya akan menjadi jargon tanpa substansi. “Kalau koi dari Blitar kualitasnya bagus, tanpa harus disebut-sebut Kota Koi pun orang pasti cari ke sini. Tapi kalau kualitasnya biasa saja, ya percuma meskipun promosinya heboh,” jelasnya.

Ia pun membandingkan dengan Kediri yang saat ini menjadi pusat perhatian para penghobi koi di Indonesia. “Di Kediri ada breeder kelas nasional yang kualitas ikannya sudah bisa menyaingi impor. Mereka fokus di riset, perbaikan kualitas indukan, dan support penuh dari komunitasnya. Nah, di Blitar ini masih terjebak di euforia branding,” tegasnya.

Baca Juga: Koi Paling Populer di Blitar, Kohaku, Sanke, dan Showa Tetap Jadi Primadona Para Penghobi

Tantangan Petani Koi Blitar: Dari Biaya Produksi hingga Lesunya Pasar

Tak hanya soal branding, Rajalakshmi juga menyoroti tantangan berat yang dihadapi petani koi Blitar saat ini, mulai dari tingginya biaya produksi hingga menurunnya daya beli pasar. “Petani koi itu sekarang jumlahnya menyusut karena banyak yang gulung tikar. Dulu waktu harga koi tinggi, sawah-sawah banyak diubah jadi kolam. Tapi sekarang, banyak yang kembali ke sawah karena tidak kuat bertahan,” ungkapnya.

Ia menceritakan bagaimana pandemi Covid-19 menjadi titik terendah bagi petani koi. Krisis oksigen menyebabkan ribuan ikan gagal dikirim ke luar daerah, hingga ia terpaksa membagikan ikan-ikan besar ke tetangga sekitar agar tidak mubazir. “Waktu itu satu kolam isi 250 ekor nggak bisa kirim karena oksigen dialihkan ke rumah sakit. Ya sudah, saya bagikan saja ke tetangga untuk konsumsi,” kenangnya.

Raja juga menyoroti persoalan klasik yang dihadapi petani lokal, yakni tengkulak yang membeli dengan harga rendah. “Kalau hanya mengandalkan pasar offline, ketemu tengkulak lokal, ya harga koi itu kadang bisa di bawah modal. Karena sistemnya diambil dulu, bayar belakangan. Ini menyulitkan petani kecil,” bebernya.

Baca Juga: Wisata Sumber Bon C Destinasi Menarik di Lereng Gunung Kelud, Bisa Camping hingga Kasih Makan Koi!

Adaptasi ke Digital: Bertahan Lewat TikTok dan YouTube

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Rajalakshmi tidak tinggal diam. Ia memutuskan beradaptasi dengan memanfaatkan platform digital untuk memasarkan koi Blitar. Sejak 2016, ia mulai menjual koi lewat Facebook, namun kini ia lebih fokus pada TikTok dan YouTube karena dinilai lebih efektif menjangkau pasar.

“Sekarang kalau hanya mengandalkan Facebook dan status WhatsApp, ya pasarnya stagnan. Tapi kalau lewat TikTok, videonya bisa viral, jangkauannya luas sampai ke luar negeri,” katanya. Menurutnya, digitalisasi adalah kunci bertahan bagi petani koi Blitar di tengah lesunya pasar konvensional.

Namun demikian, ia berharap pemerintah juga mendukung upaya digitalisasi ini dengan menyediakan pelatihan dan akses teknologi yang memadai bagi petani kecil. “Banyak petani di desa yang gaptek. Kalau ada pelatihan atau pendampingan dari pemerintah, saya yakin mereka juga bisa berkembang,” tuturnya.

Baca Juga: Koi Show Blitar Ke-23: Dari Silaturahmi Pecinta Koi Hingga Penggerak Ekonomi Kabupaten

Harapan untuk Pemerintah: Fokus pada Kualitas, Bukan Kuantitas

Di akhir perbincangan, Rajalakshmi menegaskan harapannya agar pemerintah tidak hanya sibuk dengan slogan Blitar Kota Koi, melainkan lebih serius dalam membantu petani lokal meningkatkan kualitas produksi. Ia mengusulkan agar pemerintah memberikan bantuan berupa indukan unggul, pelatihan genetika, hingga dukungan riset bagi petani kecil.

“Kalau pemerintah serius membantu petani meningkatkan kualitas koi, dampaknya akan jauh lebih besar daripada sekadar kampanye slogan. Kalau kualitas koi Blitar naik, branding itu akan berjalan sendiri. Orang akan cari Blitar tanpa harus diiklankan terus-terusan,” pungkasnya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#koi blitar #pengusaha muda