Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dari Sawah ke Kolam Koi: Petani Blitar Bongkar Dampak Supply Berlebih yang Bikin Harga Hancur

Ichaa Melinda Putri • Senin, 4 Agustus 2025 | 19:00 WIB

Dari Sawah ke Kolam Koi: Petani Blitar Bongkar Dampak Supply Berlebih yang Bikin Harga Hancur
Dari Sawah ke Kolam Koi: Petani Blitar Bongkar Dampak Supply Berlebih yang Bikin Harga Hancur

BLITAR — Fenomena koi Blitar yang sempat booming di pertengahan 2015-2019 memunculkan gelombang baru di kalangan petani lokal. Banyak lahan sawah di Blitar yang beralih fungsi menjadi kolam koi karena tergiur harga jual yang tinggi. Namun, euforia tersebut kini berubah menjadi tantangan besar saat petani harus menghadapi anjloknya harga akibat supply yang berlebih di tengah lesunya pasar.

Fajar Alfikri, petani koi Blitar asal Desa Karangsono, Kanigoro, menjadi salah satu pelaku usaha yang merasakan dampak langsung fenomena ini. Menurutnya, ketika harga koi sedang bagus, hampir semua petani, bahkan yang awalnya menanam padi atau jagung, ikut-ikutan mengubah sawahnya menjadi kolam koi. “Dulu mindset-nya simpel, pelihara koi sebanyak mungkin, panen, lalu jual. Karena harga lagi bagus, semua ikut-ikutan,” ujar Fajar Alfikri, dikutip dari Radar Blitar TV.

Namun, Rajalakshmi menegaskan, budidaya koi tidak sesederhana itu. Ketika supply membludak dan tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas, hukum pasar pun berlaku: barang banyak, permintaan tetap, harga hancur. “Ini yang saya sebut sebagai efek domino supply berlebih. Semua panen raya, harga jatuh, petani kecil yang rugi duluan,” tegasnya.

Baca Juga: Perjuangan Handoko Budi Daya Koi Hingga Sukses Jadi Juri, Berawal Jualan Keliling di Pasar, Kini Sering Bolak-balik Jepang

Ketika Sawah Dikorbankan, Kolam Tak Selalu Menjanjikan

Peralihan fungsi lahan sawah menjadi kolam koi di Blitar memang sempat dianggap sebagai langkah inovatif. Banyak petani berpikir budidaya koi lebih menguntungkan dibanding pertanian konvensional. Namun, Rajalakshmi menyebut keputusan ini seringkali diambil tanpa pemahaman mendalam tentang manajemen kualitas dan pasar koi.

“Koi itu barang persier, bukan barang pokok seperti sembako. Pasarnya kalangan tertentu, tidak semua orang butuh. Jadi kalau supply-nya meledak, tapi pembelinya stagnan, yang terjadi ya overproduksi, harga ambruk,” jelasnya.

Menurut Fajar Alfikri, banyak petani pemula yang terjebak pada asumsi keliru bahwa semakin banyak memelihara koi, semakin besar keuntungan. “Padahal koi itu soal kualitas. Kalau kualitasnya rendah, sebanyak apapun jumlahnya, tetap susah dijual dengan harga bagus,” imbuhnya.

Baca Juga: Ikan Koi dan Ternak Terdampak Musim Bediding, Begini Siasat yang Digunakan Peternak di Blitar

Pasca-Pandemi: Harga Jatuh, Banyak Petani Koi Kembali ke Sawah

Situasi semakin diperparah dengan adanya pandemi Covid-19 yang menghantam sektor perikanan hias, termasuk koi Blitar. Krisis oksigen untuk pengiriman ikan membuat banyak petani terpaksa menanggung kerugian besar. Rajalakshmi sendiri mengalami masa sulit di mana ribuan ekor ikan miliknya gagal dikirim dan harus dibagikan secara gratis ke tetangga.

“Waktu itu oksigen difokuskan untuk rumah sakit. Kiriman koi macet total. Satu kolam bisa isi 250 ekor, nggak bisa berangkat. Akhirnya saya bagi-bagi ke tetangga, buat konsumsi,” kenangnya.

Tak sedikit petani koi di Blitar yang akhirnya memilih kembali menanam padi atau jagung karena tidak sanggup menanggung kerugian. “Sekarang banyak kolam-kolam yang sudah ditutup, balik jadi sawah. Petani kecil yang modalnya pas-pasan sulit bertahan di situasi ini,” ujarnya.

Baca Juga: Wisata Sumber Bon C Destinasi Menarik di Lereng Gunung Kelud, Bisa Camping hingga Kasih Makan Koi!

Bertahan dengan Strategi Kualitas dan Pasar Digital

Berbeda dengan petani yang memilih mundur, Rajalakshmi memutuskan bertahan dengan mengubah strategi. Ia fokus pada perbaikan kualitas koi serta memperluas pasar melalui platform digital seperti TikTok dan YouTube. “Kalau kita hanya kejar kuantitas, pasti kalah. Saya memilih fokus di kualitas, meskipun jumlahnya sedikit tapi harganya lebih tinggi,” katanya.

Menurutnya, digitalisasi menjadi jalan keluar di tengah kondisi pasar offline yang stagnan. “Lewat TikTok atau YouTube, saya bisa edukasi calon pembeli tentang kualitas koi Blitar. Ini cara efektif untuk menjangkau pasar luar kota bahkan luar negeri,” jelasnya.

Namun, ia juga menyoroti perlunya dukungan dari pemerintah untuk membantu petani kecil melakukan adaptasi digital. “Banyak petani di desa yang belum paham cara jualan online. Kalau ada pelatihan dari pemerintah, saya yakin mereka bisa survive juga,” tuturnya.

Baca Juga: Ekspor Ikan Koi di Kabupaten Blitar Masih Lesu, Sulit Tembus Pasar Internasional

Harapan: Bukan Lagi Soal Jumlah, Tapi Kualitas dan Riset Jangka Panjang

Di akhir perbincangan, Rajalakshmi berharap pemerintah lebih fokus membantu petani dalam pembenahan kualitas koi Blitar. Ia menekankan bahwa branding semata tidak cukup tanpa perbaikan di hulu, yakni kualitas indukan, pola budidaya yang benar, serta akses riset untuk petani kecil.

“Kita butuh indukan unggul, pelatihan genetika, dan dukungan riset. Supaya koi Blitar bisa bersaing dengan koi impor atau daerah lain seperti Kediri yang saat ini sudah lebih maju,” ujarnya.

Menurutnya, jika kualitas koi Blitar terus meningkat, branding akan berjalan secara alami. “Kalau kualitasnya bagus, orang akan cari sendiri ke Blitar tanpa harus dipromosikan berlebihan. Jangan hanya fokus slogan, tapi perhatikan petaninya juga,” pungkasnya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#koi blitar #pengusaha muda