Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dua Tahun Bertahan Tanpa Oksigen, Petani Koi Blitar Ini Rela Bagi-Bagi Ikan ke Tetangga

Ichaa Melinda Putri • Senin, 4 Agustus 2025 | 18:30 WIB

Dua Tahun Bertahan Tanpa Oksigen, Petani Koi Blitar Ini Rela Bagi-Bagi Ikan ke Tetangga
Dua Tahun Bertahan Tanpa Oksigen, Petani Koi Blitar Ini Rela Bagi-Bagi Ikan ke Tetangga

BLITAR — Pandemi Covid-19 membawa dampak besar bagi para pelaku usaha di berbagai sektor, tak terkecuali bagi petani koi Blitar. Krisis oksigen yang terjadi di puncak pandemi memaksa banyak petani koi menghentikan distribusi karena ikan-ikan mereka tak bisa dikirim ke luar daerah. Fajar Alfikri, petani koi Blitar asal Desa Karangsono, Kecamatan Kanigoro, adalah salah satu yang merasakan langsung dampaknya.

Raja, begitu ia biasa disapa, menceritakan bagaimana dirinya harus bertahan selama hampir dua tahun tanpa pemasukan tetap dari penjualan koi. Kondisi diperparah saat pasokan oksigen dialihkan untuk kebutuhan rumah sakit, membuat usaha pengiriman ikan koi lumpuh total. “Oksigen difokuskan ke rumah sakit, otomatis kiriman koi berhenti. Satu kolam isi 250 ekor, nggak bisa berangkat, mau jual ke mana?” ungkapnya, dikutip dari Radar Blitar TV.

Daripada membiarkan ikan-ikannya mati sia-sia, Rajalakshmi memilih jalan kemanusiaan: membagikan ikan-ikan koi ke tetangganya untuk dikonsumsi. “Daripada rugi terus-terusan keluar biaya pakan, ya lebih baik saya bagi ke tetangga. Ikan koi ukuran 30-35 cm, biasanya harga per ekornya bisa Rp150 ribu, saya ikhlaskan,” jelasnya.

Baca Juga: Kaesang Silaturahmi ke Wali Kota Ibin, Bahas Koi hingga Konsolidasi PSI

Dari Bisnis ke Misi Sosial: Ketika Ikan Koi Jadi Konsumsi Warga Desa

Situasi krisis ini membuat kolam-kolam koi di desanya berubah fungsi, dari ladang bisnis menjadi sumber protein bagi warga sekitar. Bagi sebagian besar orang, koi identik sebagai ikan hias mahal yang dipajang di kolam-kolam mewah. Namun di masa pandemi, realitas berkata lain. Ikan koi Blitar yang gagal dijual akhirnya dimasak dan disantap sebagai lauk sehari-hari.

“Ya, mungkin orang tahunya koi itu buat dipajang di taman rumah. Tapi kalau di desa, kondisi pandemi, ya buat makan pun jadi. Tetangga saya banyak yang akhirnya bisa makan koi,” cerita Raja sembari tersenyum.

Ia mengaku tak pernah menyesali keputusannya untuk membagikan ikan-ikannya secara gratis. “Rezeki itu ada yang langsung, ada yang muter dulu. Bagi saya, yang penting ikan-ikan ini bermanfaat. Siapa tahu ada balasan berkah di lain waktu,” imbuhnya.

Baca Juga: Koi Paling Populer di Blitar, Kohaku, Sanke, dan Showa Tetap Jadi Primadona Para Penghobi

Bertahan di Tengah Tekanan: Strategi "Survival Mode"

Rajalakshmi menyebut masa-masa tersebut sebagai periode "survival mode" dalam perjalanan bisnisnya. Setiap hari ia harus berpikir keras bagaimana mengelola biaya pakan, merawat ikan-ikan yang masih ada, dan mencari peluang agar usahanya tidak mati total. “Kalau dipaksakan tetap budidaya dengan kondisi seperti itu, cost-nya terlalu tinggi. Pakan terus keluar, ikan nggak bisa dijual. Itu yang bikin banyak petani akhirnya gulung tikar,” jelasnya.

Namun, ia memilih bertahan dengan langkah-langkah kecil. Salah satunya adalah dengan menjaga ritme panen mingguan meskipun tidak bisa mengirim ke luar daerah. “Setiap minggu saya tetap angkat ikan dari kolam, minimal 50 ekor, biar stok di kolam bisa dikontrol. Kalau enggak begitu, makin rugi di pakan,” ujarnya.

Selain itu, ia mulai mencari celah untuk menjual koi ke pasar lokal meskipun dengan harga jauh di bawah standar. “Ya, meskipun harganya murah, yang penting ada perputaran. Kalau terus-terusan ngendap di kolam, makin susah,” katanya.

Baca Juga: Wisata Sumber Bon C Destinasi Menarik di Lereng Gunung Kelud, Bisa Camping hingga Kasih Makan Koi!

Pandemi Buka Mata: Pentingnya Diversifikasi dan Digitalisasi Pasar

Dari krisis tersebut, Rajalakshmi belajar banyak hal. Salah satunya adalah pentingnya diversifikasi pasar dan adaptasi dengan era digital. Ia mengaku sebelumnya hanya mengandalkan penjualan melalui reseller dan pasar lokal, namun pandemi memaksanya untuk mengeksplorasi platform digital seperti TikTok dan YouTube.

“Kalau nggak ikut digital, ya tutup. Sekarang saya banyak main di TikTok, bikin video edukasi tentang koi Blitar, supaya pasar saya lebih luas. Nggak cuma ngandelin tengkulak atau pasar Blitar saja,” ungkapnya.

Menurutnya, peluang di pasar digital masih sangat besar, asalkan petani mau beradaptasi. “Di TikTok, misal, video saya bisa dilihat orang luar negeri. Itu peluang baru. Cuma memang butuh proses dan konsistensi,” tambahnya.

Baca Juga: Bingung Cari Ikan Koi Kualitas Bagus di Blitar? Berikut 3 Rekomendasi Tempat Beli Ikan Koi Harga Terjangkau

Harapan untuk Pemerintah: Akses Oksigen & Edukasi untuk Petani Kecil

Pengalaman pahit selama pandemi membuat Fajar Alfikri berharap pemerintah lebih peka terhadap kebutuhan dasar petani koi Blitar, terutama soal ketersediaan oksigen dan akses edukasi. Ia menilai, selama ini perhatian pemerintah lebih banyak tertuju pada kampanye branding “Blitar Kota Koi” tanpa melihat permasalahan nyata yang dihadapi petani di lapangan.

“Kita sering dengar Blitar Kota Koi, tapi waktu oksigen langka, petani dibiarkan cari solusi sendiri. Itu yang bikin banyak yang tumbang. Pemerintah seharusnya bisa antisipasi krisis seperti itu,” tegasnya.

Tak hanya soal oksigen, Rajalakshmi juga menyoroti perlunya edukasi bagi petani kecil tentang manajemen kualitas dan pemasaran koi di era digital. “Kalau pemerintah mau bantu, bantu di situ. Ajari petani cara jualan online, bantu sediakan akses teknologi. Kalau branding Kota Koi itu bagus, tapi petaninya juga harus dikawal biar bisa berkembang,” pungkasnya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#koi blitar #pengusaha muda