Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dari Facebook ke TikTok: Strategi Petani Koi Blitar Bangkitkan Pasar yang Mulai Lesu

Ichaa Melinda Putri • Senin, 4 Agustus 2025 | 18:00 WIB

Dari Facebook ke TikTok: Strategi Petani Koi Blitar Bangkitkan Pasar yang Mulai Lesu
Dari Facebook ke TikTok: Strategi Petani Koi Blitar Bangkitkan Pasar yang Mulai Lesu

BLITAR — Lesunya pasar ikan hias tidak membuat petani koi Blitar menyerah begitu saja. Muhammad Rajalakshmi, petani koi asal Desa Karangsono, Kecamatan Kanigoro, Blitar, menjadi salah satu pelaku usaha yang terus mencari cara agar bisnisnya tetap bertahan. Awalnya, ia hanya mengandalkan penjualan melalui Facebook dan status WhatsApp. Namun, seiring waktu, Rajalakshmi menyadari bahwa strategi lama itu tak lagi efektif.

“Sekarang zamannya beda, Mas. Kalau cuma ngandelin Facebook sama WA status, pasarnya stagnan. Orang-orang baru lebih aktif di TikTok atau YouTube,” ujarnya, dikutip dari Radar Blitar TV. Transformasi digital menjadi pilihan yang tak terhindarkan bagi pelaku usaha kecil seperti dirinya untuk menjangkau pasar yang makin spesifik dan menantang.

Fajar Alfikri mengakui, perubahan platform ini bukan hal mudah. Namun, dengan ketekunan dan belajar dari nol, ia mulai menemukan ritme baru dalam memasarkan koi Blitar. “Dulu jual koi itu nunggu reseller datang, sekarang saya bikin konten sendiri. Mulai dari unboxing, edukasi cara memilih koi, sampai dokumentasi panen mingguan,” jelasnya.

Baca Juga: Sukses Budidaya Ikan Koi di Kota Blitar, Pemasaran Tembus hingga Mancanegara, Bagaiamana Kiatnya

Dari Pasar Lokal ke Pasar Digital: Adaptasi di Tengah Lesunya Permintaan

Peralihan strategi pemasaran ini muncul dari realita bahwa pasar offline tak lagi bisa diandalkan sepenuhnya. Banyak reseller yang kini memilih berhenti karena volume penjualan menurun. Rajalakshmi pun melihat peluang di dunia digital sebagai jalan keluar untuk memperluas jangkauan pasar.

“Kalau dulu hanya mengandalkan pasar lokal Blitar, sekarang saya bisa jualan ke luar kota bahkan luar Jawa lewat TikTok dan YouTube. Video saya bisa tembus ke mana-mana, itu keuntungannya,” ungkapnya.

Ia menambahkan, digitalisasi juga membantunya membangun edukasi kepada calon pembeli yang sebelumnya awam tentang koi. “Di video saya ajari cara membedakan koi kualitas menengah dan premium, cara merawat, sampai trik memelihara koi di kolam sempit. Jadi, pembeli nggak asal beli,” tegasnya.

Baca Juga: Blitar Menjadi Sentra Ikan Koi Dalam dan Luar Negeri, Begini Sejarahnya

Tantangan Petani Koi: Bukan Hanya Soal Jualan, Tapi Edukasi Pasar

Menurut Fajar Alfikri, tantangan utama petani koi Blitar saat ini bukan sekadar menjual produk, melainkan bagaimana menciptakan pasar baru di tengah segmentasi yang semakin sempit. “Koi itu barang persier, pasarnya memang terbatas. Kalau kita nggak bikin edukasi yang menarik, orang-orang baru nggak akan tertarik beli,” jelasnya.

Ia menyebut, pasar koi Blitar di era sekarang membutuhkan pendekatan storytelling dan visual yang kuat. “Di TikTok, saya nggak hanya upload ikan. Saya ceritakan asal-usul koi, jenis-jenis koi, sampai kisah perjuangan petani kecil di Blitar. Itu yang bikin orang lebih engaged,” katanya.

Raja menilai, pendekatan ini lebih efektif daripada sekadar upload foto produk di Facebook. “Orang sekarang mau beli itu kalau ada ceritanya, ada edukasinya. TikTok dan YouTube kasih ruang buat itu. Kalau Facebook kan lebih ke lingkaran teman-teman lama, pasarnya stagnan,” imbuhnya.

Baca Juga: Pembudidaya Ikan Koi di Blitar Kurangi Pakan Selama Penghujan, Untuk Tekan Angka Kematian Ikan

Dari Reseller ke Customer Langsung: Memotong Jalur Distribusi

Salah satu keuntungan terbesar dari transformasi digital ini adalah Rajalakshmi bisa menjual langsung ke end-user tanpa bergantung pada tengkulak atau reseller. Ia mengaku, pola distribusi lama seringkali merugikan petani kecil karena harga dipermainkan di tingkat pengepul.

“Kalau jualan lewat Facebook atau offline, kebanyakan harus lewat tengkulak. Harganya bisa ditekan sampai di bawah modal. Tapi kalau di TikTok, customer langsung kontak saya, transfer, baru kirim. Lebih fair,” ungkapnya.

Meski begitu, ia menyadari bahwa tidak semua petani koi Blitar siap mengikuti perubahan ini. Banyak yang masih gagap teknologi dan belum paham bagaimana memanfaatkan media sosial sebagai alat pemasaran. “Ini tantangan besar. Kalau pemerintah bisa fasilitasi pelatihan digital marketing buat petani koi, saya yakin Blitar bisa lebih maju,” ujarnya.

Baca Juga: Kisah Inspiratif Aiptu Anang Riza, Polisi Dedikatif yang Sukses Raup Rp 5 Juta per Bulan dari Bisnis Ternak Koi

Harapan: Bukan Sekadar Branding “Blitar Kota Koi”

Di akhir perbincangan, Rajalakshmi menekankan bahwa branding “Blitar Kota Koi” harus diiringi dengan pembenahan di sisi hulu, yakni peningkatan kualitas produksi dan kapasitas digitalisasi petani. “Slogan itu penting, tapi lebih penting lagi petaninya dikasih alat buat berkembang. Kalau nggak, ya branding itu cuma jadi tulisan di spanduk saja,” tegasnya.

Ia berharap ada program nyata dari pemerintah daerah yang mendukung transformasi digital bagi petani koi Blitar. “Minimal ada pelatihan rutin, akses peralatan untuk produksi konten, dan pendampingan untuk pemasaran online. Kalau itu bisa dilakukan, saya yakin koi Blitar nggak akan kalah sama daerah lain,” pungkasnya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#koi blitar #pengusaha muda