Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kesetiaan Warga Sanankulon Blitar Pada Salawat Membuat Usaha Rebana Eksis hingga Puluhan Tahun

Muhamad Yusuf Zulkarnain • Selasa, 19 Agustus 2025 | 20:00 WIB

 

Kesetiaan Warga Sanankulon Blitar Pada Salawat Membuat Usaha Rebana Eksis hingga Puluhan Tahun
Kesetiaan Warga Sanankulon Blitar Pada Salawat Membuat Usaha Rebana Eksis hingga Puluhan Tahun

BLITAR - Kecintaan akan shalawat, membuatnya enggan bergeming dari pekerjaannya. Bahkan puluhan tahun, Muhammad Mahmus, masih tetap setia membuat rebana untuk hadrah dan terbangan. Kini kakek ini berusia 66 tahun, namun dia tetap semangat untuk mewarisi keahliannya.

 

Di sebuah sudut Dusun Kautan, Desa Jeding, Kecamatan Sanankulon, suara ketukan halus pada kulit dan kayu menjadi melodi keseharian.

Di sanalah Muhammad Mahmus, seorang kakek berusia 66 tahun, dengan tekun merawat warisan bunyi-bunyian rebana hadrah atau yang biasa disebut terbangan.

Baginya, ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan pengabdian yang didasari kecintaan pada shalawat. Sudah 40 tahun lebih dia menggeluti pekerjaan ini.

Sejak masih muda, tangannya sudah akrab dengan alotnya kulit kambing mentah dan kerasnya kayu. Semua ilmunya didapat secara otodidak, tanpa guru. Hanya ditemani seorang kerabat  yang sama-sama merintis.

“Belajar buat rebana ini nggak ada gurunya, otodidak saja. Dulu ada pak lek yang sama-sama belajar juga,” kenangnya.

Perjalanannya tak selalu mulus. Ia masih ingat betul masa-masa sulit saat baru memulai. Untuk mendapatkan selembar kulit mentah saja, dia harus mengayuh sepeda onthel-nya setiap hari. Itu pun sering pulang dengan tangan hampa karena kalah cepat dengan pelanggan lain.

“Pernah saya itu setiap bikin, kulitnya selalu sobek, jadi ya rugi,” ceritanya sambil tersenyum tipis, mengenang kegagalan yang justru membuatnya semakin mahir.

Dulu, dia harus berburu kulit hingga ke Ringinsari. Selembar kulit yang dulu dihargai Rp 15 ribu, kini sudah mencapai Rp 50 ribu. Seiring naiknya harga bahan baku, harga jual rebananya pun menyesuaikan. Dari yang awalnya hanya Rp 150 ribu per buah, kini satu set rebana kualitas terbaik buatannya dihargai Rp 300 ribu.

Baca Juga: Komisi I DPRD Kota Blitar Wanti-Wanti Ketersediaan Obat-obatan di RSUD Mardi Waluyo demi Peningkatan Layanan

Bagi Mahmus, kualitas adalah segalanya. Dia tak mau terburu-buru. Untuk menyelesaikan satu buah rebana membutuhkan waktu 2 hingga 3 hari. Mulai dari mengolah kulit mentah hingga memasangnya di badan kayu yang sudah dibeli jadi.

“Saya soalnya mengutamakan kualitas. Kalau kualitas bagus, orang pasti ketagihan beli di sini,” tegasnya.

Prinsip inilah yang membuatnya memiliki pelanggan setia di lingkungan sekitar, meski penjualannya masih bersifat lokal dan belum merambah dunia online.

Suatu hal yang membuatnya begitu kuat bertahan selama puluhan tahun di tengah berbagai kesulitan adalah dengan bersalawat dan ikhlas dengan usaha yang dilakoninya.

“Yang buat saya semangat bikin dari dulu sampai sekarang itu karena saya seneng sholawatan,” ungkapnya.

Selain menjadi perajin, Mahmus juga seorang petani. Saat tak ada pesanan rebana, cangkul dan sawah menjadi pelariannya. Ia juga menerima jasa perbaikan rebana yang rusak. Meski kadang merugi karena ada rebana servis yang tak kunjung diambil pemiliknya selama bertahun-tahun.

Di usia senja, semangat Mahmus tak pernah pudar. Setiap getar kulit rebana yang dibuatnya seolah menjadi gema dari hatinya. Sebuah gema pengabdian, keikhlasan, dan cinta abadi pada salawat yang terus berbunyi, menolak untuk sunyi. (*/ady) (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#hadrah #pengrajin #rebana