BLITAR-Peternak ayam petelur Blitar punya banyak kisah inspiratif yang lahir dari perjalanan penuh jatuh-bangun. Salah satunya adalah Wahyu Setyabudi atau yang akrab dikenal dengan nama Wahyu Sanjaya. Dari pengalaman panjangnya, ia menegaskan bahwa modal terbesar dalam usaha bukan hanya uang, melainkan kepercayaan.
Kepercayaan, baginya, bahkan lebih mahal dari keuntungan. Prinsip ini yang menjadi pegangan selama bertahun-tahun dalam membangun bisnis telur ayam di Blitar. Dari disiplin cash, keteraturan, hingga menjaga hubungan baik dengan mitra dan pelanggan, semua dijalankan dengan konsisten.
Kisah Wahyu menjadi bukti nyata bahwa menjadi peternak ayam petelur Blitar bukan sekadar soal memelihara ayam dan menjual telur. Lebih dari itu, bisnis ini membutuhkan integritas, kerja keras, dan filosofi hidup yang kuat.
Dari Hutang hingga Bangkit Lagi
Perjalanan Wahyu tidak selalu mulus. Ia pernah mengalami masa kelam ketika usaha yang dirintisnya terjerat hutang hingga ratusan juta rupiah. Kondisi itu hampir membuatnya menyerah. Namun, tekad untuk bangkit membuatnya mencari cara baru dalam mengelola bisnis.
Ia mengakui, kesalahan di masa lalu banyak dipicu oleh kurangnya manajemen keuangan. Karena itu, setelah bangkit kembali, Wahyu menekankan sistem pembayaran cash dalam setiap transaksi. Tidak ada lagi utang-piutang yang membebani usaha.
Keputusan ini awalnya membuat beberapa mitra merasa keberatan. Namun lambat laun, para pembeli dan mitra bisnis justru menghargai ketegasannya. Dari situlah tumbuh kepercayaan bahwa setiap transaksi bersama Wahyu bisa berjalan jujur, aman, dan tepat waktu.
Filosofi Kepercayaan ala Ciputra
Dalam perjalanan membangun usaha, Wahyu tidak hanya belajar dari pengalaman pribadi. Ia juga banyak terinspirasi dari tokoh bisnis nasional, salah satunya Ciputra. Baginya, Ciputra adalah sosok yang mengajarkan bahwa integritas dan kepercayaan adalah pondasi utama membangun kerajaan bisnis.
“Kepercayaan itu mahal. Kalau kita sudah dipercaya, keuntungan akan mengikuti dengan sendirinya,” ujar Wahyu saat berbagi cerita.
Filosofi itu ia terapkan di lapangan. Mulai dari memperhatikan kualitas telur, menjaga kebersihan kandang, hingga memastikan suplai selalu tepat waktu. Semua dijalankan dengan disiplin tinggi.
Baca Juga: Peternak Ayam Petelur di Kabupaten Blitar Terus Merosot, Ketua Koperasi Beberkan Alasannya
Bagi Wahyu, menjadi peternak ayam petelur Blitar bukan hanya profesi, tapi juga tanggung jawab moral. Konsumen yang membeli telur tidak sekadar membeli produk, tapi juga membeli kepercayaan dari sang penjual.
Disiplin dan Konsistensi sebagai Modal Utama
Selain kepercayaan, Wahyu menekankan dua hal lain yang tidak kalah penting: disiplin dan konsistensi. Ia percaya bahwa tanpa keduanya, kepercayaan sulit bertahan.
Dalam bisnis telur, disiplin berarti menjaga ritme kerja. Memberi pakan ayam tepat waktu, memastikan kesehatan ternak, hingga mengontrol kualitas produksi. Sedangkan konsistensi berarti menjaga standar itu setiap hari tanpa kendor.
Hal sederhana seperti memastikan telur bersih, tidak retak, dan dikemas rapi bisa menjadi faktor penting yang membuat pelanggan bertahan. Menurutnya, ketika pelanggan merasa puas, mereka akan kembali, bahkan membawa pelanggan baru.
Nol Komplain dari Lingkungan
Keberhasilan Wahyu menjaga kepercayaan juga tercermin dari hubungannya dengan masyarakat sekitar. Ia sadar betul bahwa peternakan ayam sering mendapat stigma negatif karena bau dan limbah.
Namun, ia melakukan berbagai inovasi untuk menekan bau menyengat. Dari pengaturan ventilasi kandang, penggunaan bahan organik untuk mengolah kotoran, hingga manajemen kebersihan yang lebih modern.
Baca Juga: Peternak Ayam Petelur di Kabupaten Blitar Terus Merosot, Ketua Koperasi Beberkan Alasannya
Hasilnya, hampir tidak ada komplain dari warga sekitar. Sebaliknya, tetangga justru mendukung karena melihat usahanya ramah lingkungan.
Inspirasi untuk Generasi Muda
Wahyu berharap kisahnya bisa menjadi pelajaran bagi generasi muda. Menurutnya, kesempatan untuk berusaha di Indonesia masih terbuka lebar. Namun, anak muda sering terjebak pada gengsi dan ingin instan.
Ia menegaskan bahwa membangun bisnis butuh waktu dan kesabaran. Tidak ada jalan pintas untuk sukses. Yang ada hanyalah proses panjang yang dilalui dengan disiplin, konsistensi, dan kepercayaan.
Baca Juga: Cerita Peternak Sapi Perah asal Blitar ketika Terdampak Wabah PMK: Jadi Tantangan Terberat
“Kalau anak muda berani memulai, peluang itu selalu ada. Jangan takut gagal, karena gagal itu bagian dari belajar,” pesannya.
Dari Telur ke Pupuk Organik
Meski fokus utama tetap pada peternakan ayam, Wahyu tidak berhenti berinovasi. Ia mulai melirik diversifikasi usaha, salah satunya mengembangkan pupuk organik dari kotoran ayam.
Langkah ini bukan hanya untuk menambah nilai ekonomi, tapi juga untuk menjaga lingkungan tetap bersih. Bahkan, ia berencana mengembangkan unit usaha baru di bidang pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Baginya, diversifikasi bukan sekadar mencari untung tambahan. Tapi juga bagian dari menjaga keberlanjutan usaha agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
Kepercayaan Sebagai Warisan Bisnis
Kisah Wahyu Setyabudi, seorang peternak ayam petelur Blitar, memberi gambaran bahwa sukses tidak selalu diukur dari berapa besar keuntungan. Ada hal yang lebih penting dan lebih mahal, yaitu kepercayaan.
Dengan menjaga kepercayaan, bisnis bisa bertahan, berkembang, bahkan melahirkan peluang baru. Prinsip inilah yang ia wariskan kepada anak-anaknya, agar kelak usaha ini tidak hanya sekadar mencari rezeki, tapi juga memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Editor : Anggi Septian A.P.