BLITAR-Seorang peternak ayam petelur Blitar, Wahyu Setyabudi, kembali menjadi sorotan. Setelah sukses di bidang ayam petelur, kini ia merambah ke peternakan domba.
Tidak hanya itu, Wahyu juga melakukan riset intensif terkait pengolahan limbah kandang menjadi pupuk organik. Inovasi ini hadir di tengah isu mahalnya pupuk kimia yang kerap dikeluhkan petani.
Langkah diversifikasi yang dilakukan Wahyu menjadi bukti bahwa seorang peternak ayam petelur Blitar bisa berkembang lebih luas. Dari bisnis telur, kini peluang baru muncul di sektor pertanian berkelanjutan.
Baca Juga: Dari Sopir Telur ke Pengusaha Pakan 30 Juta per Bulan: Kisah Hengki dari Blitar Selatan
Dari Telur ke Domba
Wahyu menilai, beternak ayam petelur memberi fondasi kuat untuk memahami pola bisnis ternak. Namun, ia melihat ada peluang lain yang menjanjikan di bidang peternakan domba.
Selain nilai ekonominya tinggi, domba juga punya pasar stabil di Indonesia. Terutama saat momen Idul Adha, ketika kebutuhan hewan kurban melonjak drastis.
Ia mulai membangun kandang domba skala menengah di Blitar. Dengan pola pakan teratur dan manajemen kesehatan, usaha ini diharapkan bisa menambah sumber pendapatan.
Baca Juga: Cerita Peternak Sapi Perah asal Blitar ketika Terdampak Wabah PMK: Jadi Tantangan Terberat
Limbah Ayam Jadi Emas Hijau
Tidak hanya berhenti pada ayam dan domba, Wahyu menggarap sisi lain dari peternakan: limbah. Menurutnya, kotoran ayam yang selama ini dianggap masalah justru menyimpan peluang emas.
Dengan teknologi fermentasi, kotoran ayam bisa diolah menjadi pupuk organik bernilai tinggi. Produk ini bahkan disebut-sebut lebih ramah lingkungan dan lebih murah dibanding pupuk kimia.
“Petani saat ini sering mengeluh harga pupuk mahal. Kalau pupuk organik bisa diproduksi sendiri, tentu jadi solusi nyata,” kata Wahyu.
Baca Juga: Pemkab Blitar Gandeng Peternak Blitar untuk Pasok Telur MBG, Ini Kata Wakil Bupati Beky Herdihansah
Relevan dengan Isu Pertanian
Isu pupuk mahal memang sedang menjadi perhatian nasional. Banyak petani menjerit karena biaya produksi melonjak akibat harga pupuk kimia yang tidak stabil.
Di sisi lain, pertanian berkelanjutan mulai digalakkan pemerintah. Salah satunya dengan mendorong penggunaan pupuk organik untuk menjaga kesuburan tanah.
Inovasi yang dilakukan Wahyu sebagai peternak ayam petelur Blitar terasa relevan. Ia menjawab dua masalah sekaligus: limbah ternak dan kebutuhan pupuk murah.
Nol Limbah, Ganda Manfaat
Konsep yang dibangun Wahyu adalah “nol limbah”. Setiap kotoran dari ayam maupun domba tidak lagi dibuang begitu saja. Semua diolah menjadi produk bernilai.
Kotoran ayam difermentasi untuk jadi pupuk granul, sementara kotoran domba diproses jadi pupuk cair. Kedua jenis pupuk ini punya pasar berbeda, tapi sama-sama diminati petani.
Dengan pola ini, usahanya bukan hanya menghasilkan telur dan daging, tetapi juga menyumbang solusi bagi dunia pertanian.
Tantangan di Lapangan
Meski menjanjikan, Wahyu mengakui tantangan tidak kecil. Proses fermentasi pupuk butuh waktu dan peralatan khusus. Selain itu, edukasi ke petani juga penting agar mereka yakin beralih ke pupuk organik.
Ia pun aktif melakukan sosialisasi kecil-kecilan ke kelompok tani. Tujuannya mengenalkan manfaat pupuk organik hasil olahan ternak lokal Blitar.
“Kalau petani sudah merasakan hasilnya, mereka akan percaya. Itu target jangka panjang saya,” jelas Wahyu.
Baca Juga: Stok Telur Ayam di Kabupaten Blitar Dipastikan Aman Jelang Ramadan, Peternak Ungkap Kondisinya
Potensi Pasar yang Luas
Blitar selama ini dikenal sebagai sentra peternak ayam petelur Blitar terbesar di Jawa Timur. Produksi telur mencapai jutaan butir per hari.
Dengan jumlah ternak sebanyak itu, limbah kotoran yang dihasilkan juga sangat besar. Selama ini, limbah hanya dipakai sebagian untuk pupuk seadanya.
Wahyu melihat potensi besar jika limbah itu diolah secara massal. Pasar pupuk organik, baik di Blitar maupun luar daerah, masih sangat terbuka lebar.
Baca Juga: Sadar Potensi Lingkungan, Kades Suruhwadang Kecamatan Kademangan Ini Geluti Bisnis Telur Ayam
Diversifikasi sebagai Kunci
Kisah Wahyu menunjukkan pentingnya diversifikasi usaha. Ia tidak hanya mengandalkan satu sumber pendapatan, tetapi membuka cabang usaha baru yang saling melengkapi.
Ayam memberi telur, domba memberi daging, sementara limbah keduanya berubah jadi pupuk organik. Pola ini menciptakan siklus ekonomi yang nyaris tanpa limbah.
Baginya, diversifikasi bukan sekadar menambah keuntungan, tapi juga cara agar usaha bertahan menghadapi tantangan zaman.
Baca Juga: Fenomena Telur Akhir Tahun di Kabupaten Blitar, Permintaan Tinggi, Produksi Turun
Inspirasi untuk Petani dan Peternak
Apa yang dilakukan Wahyu menjadi inspirasi bagi banyak petani dan peternak lain. Di tengah isu pupuk mahal dan ketidakpastian pasar, inovasi menjadi kunci.
Dengan memanfaatkan potensi lokal, ternyata solusi bisa lahir dari desa. Tidak harus menunggu kebijakan besar, inisiatif kecil pun bisa membawa perubahan nyata.
“Kalau kita berani mencoba, peluang selalu ada. Jangan berhenti di satu titik, harus terus berinovasi,” ujar Wahyu.
Baca Juga: Cerita Peternak Sapi Perah asal Blitar ketika Terdampak Wabah PMK: Jadi Tantangan Terberat
Menatap Masa Depan
Ke depan, Wahyu berharap inovasi pupuk organiknya bisa diproduksi lebih besar. Ia ingin menggandeng koperasi petani agar produk bisa dipasarkan lebih luas.
Selain itu, ia berencana mengembangkan sistem digital untuk pemasaran hasil ternaknya. Dengan begitu, ayam, domba, hingga pupuk bisa dijual langsung ke konsumen.
Langkah ini diharapkan bukan hanya menguntungkan peternak, tetapi juga membantu petani mendapatkan pupuk murah dan ramah lingkungan.
Editor : Anggi Septian A.P.