BLITAR - Usia Sunarto sudah lebih dari setengah abad. Namun, semangatnya dalam menjaga warisan leluhur tak pernah luntur. Dia masih sangat setia melanjutkan usaha turun-temurun membuat tampah sejak 1987.
Usaha ini warisan langsung dari orang tuanya yang juga sudah dikenal lama dalam bidang ini di wilayah sekitar.
Dalam proses pembuatannya, Sunarto hanya memilih dari bahan yang terbaik dan berkualitas. Bambu apus dan rotan menjadi pilihan utamanya karena dinilai punya ketahanan yang baik.
Meskipun saat ini banyak dari perajin memilih tali berbahan dasar lain untuk tampahnya, Sunarto sendiri tetap setia memakai tali rotan agar kualitas dan kekhasan produknya tetap terjaga.
“Kalau bahan lengkap, sehari saya bisa membuat sepuluh tampah. Satu tampah dikerjakan sekitar dua setengah jam hingga tiga jam,” ungkap pria paro baya itu saat ditemui di rumahnya, Jumat (15/8/2025) pekan lalu.
Keberlangsungan usaha milik Sunarto ini juga ditopang oleh empat karyawannya yang khusus mengerjakan bagian anyaman. Dengan begini, produksi tetap stabil dan kebutuhan pelanggan bisa terus terpenuhi.
Ciri khas dari tampah milik pria 63 tahun ini terletak pada penggunaan jumlah tali rotan yang berbeda. Tampah besar miliknya menggunakan lima ikatan tali rotan dan untuk tampah kecil menggunakan tiga ikatan tali rotan.
Bahan bambu biasanya ia peroleh dari wilayah Mbalong dan Gandusari dengan memperhatikan jenis serta kondisi tanah tempat bambu tumbuh. Hal inilah yang menjadi keunggulan dari produk Sunarto lebih kokoh, berkualitas, dan bernilai seni.
Produk anyaman Sunarto memiliki variasi harga sesuai dengan jenis dan ukuran produk. Tampah besar berbahan kulit bambu penuh dijual Rp 40 ribu per buah, sedangkan tampah campuran Rp 25 ribu, dan tampah biasa Rp 17 ribu. Untuk yang berukuran kecil, biasa disebut dengan tedhok, harganya sekitar Rp 15 ribu.
Pemasaran produk Sunarto ini sudah cukup luas. Tidak hanya lokal, tetapi menjangkau hingga luar daerah seperti Malang. “Kadang ada pembeli yang datang langsung ke sini, kadang juga saya antar sendiri. Pemasarannya masih dari mulut ke mulut,” ujar bapak dua anak ini.
Sunarto mengakui jumlah pelanggan cukup setia dan bahwasanya kini ada peningkatan permintaan yang signifikan dari wilayah Malang.
Dia juga berencana untuk menggunakan mesin agar proses produksi lebih cepat. Namun, dia tetap berhati-hari agar produknya yang sudah dikenal luas ini tidak berkurang kualitasnya. “Kalau pakai mesin memang lebih cepat, tapi saya masih memperhitungkan keputusan ini agar kualitas produk saya tidak hilang,” tandasnya. (*/c1/sub) (*)
Baca Juga: Distribusi Perdana MBG di Kota Blitar Diwarnai Keterlambatan, SPPG Ungkap Penyebabnya
Editor : M. Subchan Abdullah