BLITAR– Ada kisah inspiratif dari seorang peternak sapi Blitar, Arif Eko Nugroho. Berbeda dengan kebanyakan pebisnis yang mengejar profit, Arif justru meniatkan peternakannya untuk amal. Dari hasil panen sapi, ia rutin menyantuni janda tua dan anak yatim di sekitar lingkungannya.
Setidaknya 34 orang menjadi penerima manfaat dari program ini. Mereka mendapatkan bantuan berupa beras dan kebutuhan pokok setiap bulan. Arif menyebut, inilah bentuk tanggung jawab sosial yang menjadi dasar usahanya. “Saya ingin beternak bukan hanya untuk mencari uang, tapi juga berbagi rezeki,” ungkapnya.
Kini, nama Arif tidak hanya dikenal sebagai peternak sapi Blitar, tetapi juga sebagai sosok yang mampu memadukan usaha dan kepedulian. Prinsip ini ia pegang sejak awal merintis usaha, setelah memutuskan meninggalkan dunia perbankan pada 2018 lalu. Baginya, bisnis bisa menjadi jalan ibadah, bukan sekadar alat menumpuk kekayaan.
Arif dulunya adalah wakil pimpinan cabang di salah satu bank BUMN. Dengan gaji puluhan juta, hidupnya tampak mapan. Namun, batinnya kosong karena jauh dari keluarga dan merasa tertekan dengan praktik riba. Ia pun memutuskan resign, lalu memulai perjalanan baru dengan beternak sapi.
Keputusan itu tidak serta-merta mudah. Awalnya, Arif hanya mengandalkan beberapa ekor sapi titipan teman dan saudara. Ia belajar perlahan bagaimana memberi pakan, mengatur kandang, hingga memasarkan sapi. Semua dijalani dengan sabar, meski sempat diuji pandemi yang membuat pasar hewan sepi.
“Pernah sapi sudah gemuk tapi tidak bisa dijual karena restoran dan jagal tutup. Biaya pakan terus jalan. Tapi kami yakin Allah pasti beri jalan,” ujarnya. Keyakinan itu terbukti. Tak lama, datang pengusaha jagal dari Malang yang memborong sapi-sapinya. Dari situlah ia makin yakin, rezeki akan datang jika niat lurus.
Kandang yang ia kelola kemudian diberi nama Siafarm. Dari sinilah konsep amal mulai ia jalankan. Sejak awal, ia meniatkan sebagian hasil panen sapi untuk dibagikan kepada masyarakat kurang mampu. “Saya percaya, kalau usaha diniatkan untuk memberi makan janda tua dan anak yatim, berkahnya akan lebih besar,” jelasnya.
Prinsip ini terbukti membuat usaha peternakannya tetap bertahan meski sempat diterpa badai penyakit mulut dan kuku (PMK). Banyak peternak lain merugi besar, tapi Arif bisa melewatinya. Ia percaya, doa orang-orang yang disantuni menjadi benteng tersendiri bagi keberlangsungan usahanya.
Istrinya pun ikut mendukung. Mereka bersama-sama mengelola bisnis kuliner sampingan bernama Doyan Pizza. Uniknya, usaha ini bermula dari eksperimen kecil. Sang istri belajar membuat pizza lewat YouTube, lalu pesanan pertama justru berkembang menjadi bisnis rumahan yang membuka lapangan kerja bagi tetangga sekitar.
Selain fokus pada peternakan dan kuliner, Arif aktif dalam komunitas Indonesia Riba Solution (IRIS). Di sana, ia membantu orang-orang yang terjerat utang riba, bahkan yang hampir putus asa. Ada yang terlilit cicilan hingga ratusan juta. Arif hadir sebagai pendamping, mendengarkan keluhan, dan mencarikan jalan keluar agar mereka bisa bangkit lagi.
Menurutnya, hidup tanpa utang jauh lebih tenang. Meski penghasilannya kini tidak sebesar gaji bank dulu, ia lebih damai karena semua kebutuhan dibeli secara tunai. “Bagi saya, bisa makan cukup, kumpul keluarga, dan memberi manfaat untuk orang lain, itulah rezeki yang sebenarnya,” katanya.
Visi ke depan Arif juga mulia. Ia bercita-cita mendirikan pesantren untuk anak yatim serta membangun masjid dari hasil peternakan. Ia ingin menjadikan kandang sapi bukan sekadar ladang bisnis, tapi juga ladang amal jariyah. “Semoga Allah kabulkan niat ini,” harapnya.
Kisah Arif menjadi pengingat bahwa kesuksesan sejati bukan sekadar dihitung dari uang atau jabatan. Justru dengan keberanian mengubah jalan hidup, ia menemukan makna baru: menjadikan kerja sebagai sarana ibadah. Dari seorang pejabat bank yang bergaji besar, kini ia memilih menjadi peternak sapi Blitar sederhana, namun bahagia karena bisa berbagi.
Dunia bisnis sering dianggap keras dan penuh persaingan. Tapi kisah Arif Eko Nugroho menunjukkan bahwa ada ruang untuk humanisme dan kepedulian. Bahwa usaha bisa dijalankan dengan hati, tanpa kehilangan nilai profit, namun tetap memberi manfaat bagi orang banyak.
Dan mungkin, inilah kebahagiaan yang sesungguhnya: hidup sederhana, bermanfaat, dan penuh keberkahan.
Editor : Anggi Septian A.P.