Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Peternak Sapi Blitar Dirikan Komunitas Anti Riba, Selamatkan Warga dari Utang hingga Niat Bunuh Diri

Ichaa Melinda Putri • Kamis, 28 Agustus 2025 | 03:00 WIB
Peternak Sapi Blitar Dirikan Komunitas Anti Riba, Selamatkan Warga dari Utang hingga Niat Bunuh Diri
Peternak Sapi Blitar Dirikan Komunitas Anti Riba, Selamatkan Warga dari Utang hingga Niat Bunuh Diri

BLITAR– Kisah inspiratif datang dari seorang peternak sapi Blitar bernama Arif Eko Nugroho. Tidak hanya mengurus ternaknya, ia juga aktif membantu warga yang terjerat utang melalui komunitas anti riba.

Arif bersama IRIS (Indonesian Riba Solution) konsisten menyelamatkan banyak keluarga dari jeratan pinjaman berbunga tinggi. Dari cerita warga, ada yang hampir kehilangan rumah, hingga ada yang nekat ingin mengakhiri hidup karena tidak sanggup membayar utang.

“Banyak orang terjebak riba bukan karena ingin mewah, tapi karena terdesak kebutuhan. Saat mereka tak mampu bayar, mental mereka runtuh. Di sinilah kami hadir,” kata Arif, sang peternak sapi Blitar sekaligus aktivis sosial IRIS.

Komunitas ini hadir sebagai ruang konsultasi dan solusi. Mereka membantu warga keluar dari jeratan utang rentenir, mulai dari mediasi, pengelolaan keuangan, hingga memberi motivasi spiritual. Tidak sedikit warga yang menangis lega setelah mendapat jalan keluar.

Menurut Arif, masalah utang riba kini sudah mengakar hingga ke pelosok desa. Banyak keluarga hancur karena himpitan tagihan. Bahkan, ada kasus di mana seorang kepala keluarga nyaris bunuh diri lantaran ditagih berkali-kali oleh debt collector.

“Kalau dibiarkan, bukan hanya merusak ekonomi keluarga, tapi juga merusak iman. Karena terdesak, ada yang tergoda pesugihan. Itu jauh lebih berbahaya,” jelas Arif.

Arif mengaku prihatin melihat kondisi tersebut. Berawal dari kepedulian pribadi, ia kemudian memperluas jangkauan dengan bergabung bersama IRIS. Komunitas ini punya jaringan relawan yang tersebar di berbagai daerah, termasuk Blitar, Kediri, dan Tulungagung.

Tidak hanya memberi edukasi, komunitas ini juga menyalurkan bantuan sosial. Arif memanfaatkan hasil ternaknya untuk kegiatan amal. Sebagian keuntungan dari penjualan sapi disalurkan untuk membantu janda tua, anak yatim, hingga keluarga korban jeratan riba.

Bagi Arif, menjadi peternak sapi Blitar bukan hanya soal mencari penghasilan. Ia menjadikan profesinya sebagai jalan ibadah dan pengabdian. “Kalau rezeki dari ternak bisa menyelamatkan orang lain dari kebangkrutan, bukankah itu lebih mulia?” tuturnya.

Kegiatan IRIS di Blitar kerap menarik perhatian. Mereka rutin menggelar kajian, diskusi, dan pendampingan keuangan syariah. Tujuannya agar masyarakat bisa lebih bijak dalam mengelola uang tanpa terjebak pinjaman berbunga.

Salah satu warga, sebut saja Rini (38), mengaku hampir frustasi karena terjerat utang aplikasi pinjol hingga Rp30 juta. Ia mengaku pernah berpikir mengakhiri hidup. Namun setelah bertemu dengan komunitas Arif, ia mendapat semangat baru dan strategi melunasi utang secara bertahap.

“Kalau tidak ketemu Pak Arif dan IRIS, mungkin saya sudah melakukan hal nekat. Sekarang saya bisa bangkit, meski pelan-pelan,” ungkap Rini dengan mata berkaca-kaca.

Cerita lain datang dari seorang bapak yang terjerat utang rentenir desa. Karena tidak sanggup membayar, ia sempat tergoda melakukan ritual pesugihan. Beruntung, sebelum terlambat, ia mendapat pendampingan dari IRIS dan memilih bertobat.

Bagi Arif, kisah-kisah ini adalah pengingat bahwa masalah utang bukan sekadar soal uang. Ada aspek mental, sosial, bahkan spiritual yang ikut terdampak. Karena itu, pendekatan yang dilakukan komunitasnya tidak hanya finansial, tetapi juga emosional dan keagamaan.

Peran keluarga juga tak kalah penting. Istri Arif mendukung penuh aktivitas sosialnya, meski sibuk dengan usaha rumahan. Mereka sepakat bahwa rezeki harus dibagikan, terutama kepada orang-orang yang sedang terpuruk.

Di mata warga, Arif bukan sekadar peternak sapi Blitar biasa. Ia adalah sosok inspiratif yang mampu mengubah profesi sederhana menjadi jalan kebaikan. Banyak yang kini menjulukinya sebagai “peternak sosial” karena kepeduliannya.

Ke depan, Arif ingin memperluas gerakan anti riba ini hingga menjangkau lebih banyak orang. Ia juga berencana membangun pusat edukasi mandiri, tempat masyarakat bisa belajar tentang keuangan syariah sekaligus praktik usaha halal berbasis komunitas.

“Harapan saya, Blitar bisa bebas dari riba. Warganya hidup tenang, ekonominya tumbuh sehat, dan tidak ada lagi yang tergoda bunuh diri atau pesugihan,” pungkasnya.

Kisah Arif menunjukkan bahwa kepedulian sosial bisa lahir dari siapa saja, bahkan dari seorang peternak. Dari kandang sapi hingga ruang konsultasi, ia membuktikan bahwa rezeki terbaik bukan hanya yang dinikmati sendiri, melainkan yang bisa menyelamatkan hidup orang lain.

Editor : Anggi Septian A.P.
#blitar #Kecamatan Kanigoro #peternak sapi