BLITAR– Banyak anak muda kini melirik affiliate marketing sebagai cara cepat dan legal untuk mendapatkan penghasilan tambahan side hustle. Tanpa harus stok barang, siapa pun bisa mulai hanya dengan laptop dan internet.
Model bisnis digital ini semakin populer karena fleksibel dan terbukti menghasilkan. Dengan strategi yang tepat, affiliate marketer bisa meraup jutaan rupiah per bulan. Tak heran jika penghasilan tambahan side hustle ini kian digemari generasi Z dan milenial.
Raymond Chin, seorang pebisnis sekaligus konten kreator, menyebut ada tiga langkah utama agar sukses menjadi affiliate marketer. Strategi ini disebutnya sederhana, tapi efektif untuk mencetak penghasilan tambahan side hustle yang konsisten. Tiga langkah itu adalah: Pick Your Niche, High Value Content, dan TTO (Test, Track, Optimize).
Menurut Raymond, langkah pertama adalah menentukan niche atau bidang produk yang akan dipasarkan. Affiliate marketer harus fokus pada satu industri agar lebih mudah memahami seluk-beluk produk. “Kalau mau gampang berkembang, pilih niche yang margin-nya tinggi, bisa dibeli berulang, dan industrinya sedang naik,” jelasnya di kanal YouTube.
Ia mencontohkan industri skincare yang kini sedang booming. Produk skincare punya margin di atas 50 persen, banyak dipakai berulang, dan permintaannya terus meningkat. Sejak pandemi, tren perawatan diri meningkat pesat hingga membuat banyak brand lokal maupun global membuka program afiliasi.
“Kalau pilih niche yang lagi berkembang, kita ikut arus tren. Potensinya lebih besar daripada masuk ke industri yang stagnan,” tambah Raymond. Dengan fokus pada satu bidang, affiliate marketer juga lebih mudah mempelajari product knowledge dan menyusun strategi pemasaran.
Langkah kedua adalah menciptakan high value content. Menurut Raymond, banyak orang gagal di affiliate marketing karena hanya mengandalkan link jualan tanpa memberikan nilai. Padahal, kunci keberhasilan adalah memberi manfaat kepada audiens lewat konten yang informatif, edukatif, atau menghibur.
“Jangan hanya bilang ‘beli produk ini’. Kita harus kasih value dulu. Entah itu tips skincare, edukasi cara pakai produk, atau hiburan yang nyambung dengan produk,” ungkapnya. Dengan begitu, audiens merasa terhubung dan lebih percaya sebelum akhirnya membeli.
Konten bisa disebarkan lewat berbagai saluran digital, mulai dari Instagram, TikTok, Facebook, hingga grup WhatsApp. Menurut Raymond, strategi ini disebut inbound marketing—di mana konsumen datang sendiri setelah melihat konten. Ada juga outbound marketing, di mana affiliate marketer aktif mendekati calon konsumen lewat email atau chat.
Namun, benang merahnya tetap sama: konten. Semakin berkualitas konten yang dibuat, semakin besar peluang audiens untuk mengklik link afiliasi. Karena itu, skill membuat konten kreatif sekaligus copywriting menjadi aset penting bagi seorang affiliate marketer.
Langkah ketiga adalah TTO: Test, Track, Optimize. Raymond menekankan bahwa dalam dunia digital marketing, tidak ada strategi yang langsung berhasil 100 persen. Seorang affiliate marketer harus berani mencoba berbagai gaya konten, mencatat hasil performa, lalu memperbaikinya.
“Jangan asal feeling. Catat angka-angka, mulai dari impressions, click-through rate, sampai conversion. Dari situ kita tahu strategi mana yang jalan dan mana yang harus diubah,” jelasnya. Prinsip ini membuat affiliate marketing lebih terukur dan profesional.
Raymond mencontohkan, ada kreator yang justru laku karena cara promonya unik. Ada yang marah-marah saat jualan, ada juga yang pakai gaya kocak. Meski tidak biasa, ternyata strategi itu berhasil menarik perhatian dan menghasilkan penjualan. Hal ini membuktikan pentingnya tes dan eksperimen.
Setelah melakukan tes, tahap berikutnya adalah melacak hasilnya. Data yang dikumpulkan akan menunjukkan pola perilaku konsumen. Dari situ, affiliate marketer bisa melakukan optimasi agar hasilnya semakin maksimal. “Kalau hanya mengandalkan insting, sulit berkembang. Data adalah senjata,” tegas Raymond.
Affiliate marketing juga makin diminati karena potensi penghasilannya tidak terbatas. Selama produk legal dan bermanfaat, semakin banyak penjualan berarti semakin besar komisi. Tidak sedikit yang akhirnya bisa menjadikan affiliate marketing sebagai sumber pendapatan utama.
Meski begitu, Raymond tetap mengingatkan agar pemula berhati-hati. Jangan asal ikut program afiliasi yang menawarkan keuntungan cepat tanpa produk yang jelas. Kasus afiliator Binomo, kata dia, menjadi pelajaran bahwa memilih produk legal sangat penting untuk menghindari masalah hukum.
“Affiliate marketing itu sah kalau produknya jelas. Jadi bukan soal afiliasinya yang salah, tapi produknya. Kalau produknya ilegal, ya tetap bermasalah,” katanya. Ia menyarankan pemula untuk selalu riset sebelum bergabung dengan program afiliasi apa pun.
Dengan tiga langkah sederhana—Pick Niche, High Value Content, dan TTO—affiliate marketer bisa membangun fondasi yang kuat. Strategi ini juga terbukti relevan di berbagai industri, mulai dari skincare, parenting, hingga mainan anak.
Di tengah kebutuhan hidup yang semakin tinggi, affiliate marketing menjadi alternatif yang menarik. Dengan modal kecil, keterampilan digital, dan konsistensi, siapa pun bisa memulainya. Bagi generasi muda, peluang ini bisa menjadi jembatan menuju kemandirian finansial.
Raymond menutup dengan pesan motivasi: “Skill ini akan berguna seumur hidup. Entah mau jadi pebisnis, profesional, atau karyawan, kemampuan menjual produk lewat konten akan selalu relevan.”
Editor : Anggi Septian A.P.