BLITAR KAWENTAR - Banyak pemilik bisnis kecil menengah (UKM) di Indonesia terjebak dalam siklus yang sama: bekerja keras dalam operasional harian namun kesulitan mengembangkan usaha secara signifikan.
Hendra Hilman, seorang konsultan bisnis mengidentifikasi akar masalah ini terletak pada konsep "working in the business" versus "working on the business" - perbedaan filosofi yang dapat menentukan apakah sebuah bisnis dapat berkembang 10 kali lipat atau stagnan.
Konsep "working in the business" menggambarkan pemilik usaha yang masih terjun langsung dalam operasional sehari-hari. Mereka mengecek detail produk, mengawasi karyawan secara langsung, dan menangani berbagai aspek teknis bisnis.
Baca Juga: Agar Lolos Verifikasi, Begini Tips Menyusun Proposal Bantuan Biaya Pendidikan
Sementara "working on the business" melibatkan perspektif helicopter view - membangun sistem, kebijakan, dan struktur yang memungkinkan bisnis berjalan tanpa ketergantungan penuh pada pemilik.
Praktik mikromanajemen yang umum terjadi pada UMKM Indonesia menciptakan beberapa masalah struktural. Pertama, pemilik bisnis kehilangan waktu untuk berpikir strategis dan mengembangkan sistem jangka panjang. Kedua, karyawan menjadi terlalu bergantung pada instruksi langsung pemilik, menghambat kemandirian operasional.
Dr. Rini Soemarno, ahli manajemen strategis dari Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa fenomena ini umum terjadi pada tahap transisi bisnis dari startup menuju growth stage. "Founder sering kesulitan melepaskan kontrol karena merasa hanya mereka yang memahami visi dan standar kualitas bisnis," ungkapnya.
Baca Juga: Warga Blitar Budi Daya Ganja di Ladang Rumahnya, Begini Respon dari Pemdes Krisik
Dampak ekonomi dari pola ini sangat signifikan. Bisnis yang terjebak dalam working in the business cenderung mengalami pertumbuhan linear yang terbatas pada kapasitas kerja pemilik, bukan pertumbuhan eksponensial yang dimungkinkan oleh sistem yang scalable.
Solusi yang direkomendasikan konsultan tersebut berfokus pada pembangunan sales system sebagai prioritas utama. Alasannya, sistem penjualan yang solid memberikan predictable revenue yang membuat pemilik bisnis lebih tenang untuk mendelegasikan tugas operasional.
Framework yang diusulkan mencakup lima komponen utama: 10x foundation mindset, power of influencing, mastering objection handling, closing secrets, dan selling premium products. Pendekatan ini tidak hanya mengajarkan teknik penjualan, tetapi membangun sistem yang dapat diduplikasi dan dijalankan oleh tim tanpa supervisi langsung pemilik.
Baca Juga: Demo DPR Tuntut Batalkan Tunjangan, Mahfud Ingatkan Risiko Seruan Pembubaran
Kementerian Koperasi dan UKM mendukung pendekatan sistematis ini melalui program "Digitalisasi UMKM 4.0" yang menekankan pentingnya standarisasi proses bisnis. "UMKM yang memiliki sistem operasional yang jelas memiliki peluang bertahan dan berkembang 3 kali lebih besar dibanding yang masih mengandalkan intuisi pemilik," kata Direktur Pemberdayaan UKM.
Implementasi konsep working on the business menghadapi beberapa tantangan praktis. Pertama, kesulitan menemukan SDM yang tepat untuk didelegasikan tanggung jawab. Kedua, resistensi internal pemilik untuk melepaskan kontrol operasional. Ketiga, investasi waktu dan biaya di awal untuk membangun sistem.
Pengamat ekonomi Dr. Ahmad Erani Yustika dari Universitas Brawijaya mencatat bahwa transisi ini membutuhkan perubahan mindset fundamental. "Banyak entrepreneur Indonesia masih menganut filosofi 'saya harus mengerjakan semuanya sendiri' yang sebenarnya kontraproduktif untuk ekspansi bisnis," jelasnya.
Baca Juga: Mahfud MD Nyatakan Dukung 100% Massa Aksi Jika Ada Ketidakpuasan
Aspek sosial yang sering diabaikan adalah dampak working in the business terhadap kehidupan pribadi pemilik usaha. Pola kerja yang menghabiskan seluruh waktu untuk operasional bisnis menciptakan ketidakseimbangan kehidupan kerja yang tidak sustainable dalam jangka panjang.
Fenomena "butterfly garden" yang diperkenalkan dalam konsep ini menekankan pentingnya membangun ekosistem bisnis yang menarik pelanggan secara organik, mengurangi beban tim penjualan untuk chase prospect secara agresif.
Meski menarik, pendekatan ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, tidak semua jenis bisnis dapat dengan mudah disistematisasi, terutama yang mengandalkan keahlian spesifik pemilik. Kedua, investasi awal untuk membangun sistem dan tim yang kompeten membutuhkan modal yang tidak selalu tersedia bagi UMKM.
Baca Juga: IRT Warga Blitar Sukses Usaha Kerajinan Tas Kreasi, Produknya Sudah Rambah Pasar Luar Negeri
Selain itu, klaim pertumbuhan "10x lipat" perlu diverifikasi dengan data empiris yang lebih komprehensif, karena faktor eksternal seperti kondisi pasar, kompetisi, dan regulasi juga mempengaruhi pertumbuhan bisnis.
Untuk implementasi yang realistis, disarankan pendekatan bertahap: mulai dengan audit aktivitas harian pemilik, identifikasi tugas yang dapat didelegasikan, rekrutmen dan pelatihan tim yang tepat, kemudian pembangunan sistem penjualan yang terukur.
Konsep working on the business menawarkan paradigma baru dalam kepemimpinan UMKM Indonesia. Meski membutuhkan investasi waktu dan sumber daya di awal, pendekatan sistematis ini berpotensi menciptakan bisnis yang lebih resilient dan scalable. Kunci sukses terletak pada kesediaan pemilik bisnis untuk berevolusi dari operator menjadi strategic leader yang membangun sistem, bukan hanya menjalankan operasional harian. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah