Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sempat Viral! Kafe di Tengah Hutan Blitar Ini Pernah Waiting List 15 Meja Sehari

Axsha Zazhika • Senin, 8 September 2025 | 22:30 WIB

 

Sempat Viral! Kafe di Tengah Hutan Blitar Ini Pernah Waiting List 15 Meja Sehari
Sempat Viral! Kafe di Tengah Hutan Blitar Ini Pernah Waiting List 15 Meja Sehari

BLITAR – Di tengah rimbunnya hutan pinus Tulungrejo, Gandusari, Blitar, berdiri sebuah kafe yang sempat viral dan jadi perbincangan warganet. Namanya Kampnh Coffee & Space, kafe dengan konsep alam yang pernah mencatat waiting list hingga 15 meja dalam satu hari.

Kafe ini pertama kali buka pada Juni 2021, tepat saat masa PPKM. Meski kondisi saat itu penuh keterbatasan, antusiasme masyarakat tak terbendung. “Awal buka sampai enam bulan pertama itu bisa waiting list 10 sampai 15 meja sehari, terutama saat akhir pekan,” ujar Rindra Prasetio, pemilik Kampnh Coffee & Space, saat ditemui.

Fenomena waiting list ini membuat Kampnh Coffee & Space dikenal sebagai salah satu kafe paling ramai di Blitar kala itu. Lokasinya yang tersembunyi di jalur pendakian menuju Gunung Kelud justru menjadi daya tarik tersendiri. Para pengunjung datang bukan hanya untuk menikmati kopi, melainkan juga mencari suasana berbeda di tengah hutan pinus yang sejuk.

Rindra mengaku, ide membuka kafe ini sudah muncul sejak 2017. Namun, baru terealisasi setelah ia menikah dan menutup toko outdoor miliknya. “Saya dulu sering nongkrong di area hutan pinus Loji. Dari situ kepikiran, kenapa tidak ada coffee shop yang proper di pinggir hutan. Akhirnya saya coba wujudkan,” katanya.

Nama “Kampnh” sendiri diambil dari sebuah distrik penghasil kopi di Belanda. Lokasi kafe yang dikelilingi hutan dianggap memiliki kemiripan suasana dengan distrik tersebut. Bangunan kafe pun dibangun sederhana dengan tetap mempertahankan pohon-pohon asli yang ada.

Meski sempat viral, perjalanan kafe ini tak selalu mulus. Setelah enam bulan penuh dengan antrean panjang, jumlah pengunjung mulai menurun. Rindra menyadari bahwa tren viral biasanya tak bertahan lama. “Saya dulu sempat jumawa karena rame banget. Tapi setelah itu langsung turun. Dari situ saya belajar harus punya strategi baru supaya tetap stabil,” ujarnya.

Strategi itu diwujudkan dengan menjaga kualitas menu dan memperkuat ciri khas suasana kafe. Menurut Rindra, kopi enak saja tidak cukup. Faktor tempat dan dengan siapa seseorang menikmati kopi juga sangat menentukan. “Kalau ngopinya di tempat yang tidak nyaman, seenak apa pun kopinya jadi terasa biasa saja. Jadi saya lebih menekankan ambience di sini,” jelasnya.

Rindra juga bercerita bahwa loyalitas terhadap karyawan menjadi salah satu kunci bertahan. Di masa sulit, ia bahkan rela menjual motor dan mobil untuk tetap bisa menggaji pegawai. “Bagi saya, memberi makan karyawan lebih penting. Kalau mereka sudah loyal, saya wajib menjaga mereka,” tegasnya.

Konsep sederhana namun penuh makna ini membuat Kampnh Coffee & Space tetap bertahan hingga sekarang. Pengunjung kafe pun datang dari berbagai kota sekitar, mulai Blitar, Tulungagung, Malang, hingga Kediri. Mereka umumnya mencari suasana ngopi yang berbeda dari kafe di pusat kota.

Kini, meski tak seramai saat awal viral, Kampnh Coffee & Space sudah berada di jalur stabil. Rindra mengaku lebih tenang dengan kondisi saat ini. “Yang penting bisa menggaji karyawan, ada dana darurat, dan usaha tetap berjalan. Tidak perlu terlalu meledak-ledak lagi,” katanya sambil tersenyum.

Selain kopi, kafe ini juga menawarkan berbagai menu camilan yang disesuaikan dengan lidah pengunjung lokal. Kombinasi antara nuansa alam, konsep estetik, dan cerita perjuangan di baliknya membuat Kempen Coffee & Space menjadi salah satu ikon kafe unik di Blitar.

Bagi warga yang ingin merasakan sensasi ngopi ditemani suara jangkrik dan burung di tengah hutan, Kampnh Coffee & Space bisa jadi pilihan menarik. Letaknya memang agak tersembunyi, tapi justru di situlah nilai tambahnya.

“Kalau orang sudah datang ke sini, biasanya balik lagi. Bukan hanya karena kopinya, tapi karena suasananya yang beda,” tutup Rindra.

 

Editor : Anggi Septian A.P.
#kafe tengah hutan #blitar #Kampnh Coffee