BLITAR– Kehidupan pemilik kafe ternama di Blitar, Rindra Prasetio, tidak selalu berjalan mulus. Owner Kampnh Coffee & Space di Desa Tulungrejo, Gandusari, Blitar, itu mengungkapkan pernah mengalami masa kelam hingga sempat menyalahkan Tuhan.
Pria 31 tahun itu menceritakan, momen paling pahit dalam hidupnya terjadi ketika sang ayah meninggal dunia di saat dirinya baru merintis kesuksesan. Saat itu, ia sudah mulai memiliki penghasilan untuk membalas jasa orang tuanya. Namun, takdir berkata lain.
“Aku merasa tidak adil. Baru bisa memberi kebaikan buat bapak, kok malah beliau dijemput duluan,” ujar Rindra saat diwawancarai di kafenya.
Menurutnya, kehilangan ayah membuat batinnya terguncang. Apalagi sejak kecil ia memang tidak dekat secara emosional dengan orang tua. Kondisi itu membuatnya sulit mengekspresikan kesedihan. “Aku itu orang yang susah nangis. Ditimpa kabar bapak meninggal, aku hanya merepes, bingung, enggak tahu harus bereaksi apa,” katanya.
Beban perasaan tersebut membuatnya sempat berpikir ekstrem. Ia bahkan mengaku pernah merasa lebih baik memuja setan ketimbang Tuhan. “Waktu itu aku mikir, daripada aku memuja Tuhan, lebih baik muja setan. Karena menurutku enggak adil,” ungkapnya.
Meski begitu, seiring waktu pemikirannya berubah. Ia mulai menyadari bahwa kematian adalah bagian dari takdir yang pasti. Rindra pun akhirnya bisa berdamai dengan perasaan kehilangan dan menemukan jalan spiritualnya sendiri.
Kisah hidup Rindra tidak hanya soal duka, tetapi juga perjalanan bisnis yang penuh lika-liku. Sebelum membuka Kampnh Coffee & Space, ia sempat bekerja sebagai operator alat berat dan membuka toko outdoor. Namun usaha toko tersebut harus gulung tikar pada 2021.
Bersama sang istri, ia akhirnya mendirikan kafe di bawah kawasan wisata Hutan Pinus Loji. Nama “Kampnh” dipilih dari sebuah distrik penghasil kopi di Belanda, karena suasananya dinilai mirip dengan lokasi kafe yang berada di area hutan.
Pada awal pembukaan, kafe ini langsung viral dan sempat selalu penuh pengunjung. “Dulu sehari bisa waiting list 10 sampai 15 orang. Di akhir pekan bisa tembus 8–10 meja per hari,” kata Rindra.
Namun, kesuksesan itu tidak bertahan lama. Setelah enam bulan, jumlah pengunjung mulai menurun drastis. Kondisi itu membuat Rindra harus menjual mobil dan motor, bahkan sampai berutang, demi mempertahankan usaha serta membayar gaji karyawan.
“Aku itu tipe yang kalau sudah sama karyawan harus loyal. Bahkan pernah jual mobil, jual motor, pinjam sana-sini, yang penting anak-anak dapat gaji dan bisa makan,” ucapnya.
Kini, setelah melewati pasang surut, kafe yang dirintisnya sudah menemukan pelanggan setia. Banyak pengunjung datang bukan hanya untuk menikmati kopi, tetapi juga suasana tenang di pinggir hutan.
Rindra mengaku bahwa fase terberat hidupnya justru memberinya banyak pelajaran. Kehilangan ayah membuatnya lebih menghargai waktu dan keluarga. Sementara jatuh bangun bisnis mengajarkannya arti tanggung jawab.
“Kalau menyesal ya pasti. Tapi aku belajar bahwa setiap masalah itu akhirnya bisa jadi cara Tuhan untuk mengingatkan kita,” tuturnya.
Perjalanan Rindra menjadi cermin bahwa di balik secangkir kopi yang tersaji, ada cerita panjang tentang perjuangan, luka, sekaligus penyembuhan batin. Dari seorang anak yang pernah salahkan Tuhan, kini ia menjelma jadi sosok pengusaha kafe yang menemukan makna baru dalam hidupnya.
Editor : Anggi Septian A.P.