Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dari Buruh Tambang Jadi Juragan Cobek, Perjalanan Hidup Pak Suroso Bikin Haru!

Axsha Zazhika • Sabtu, 13 September 2025 | 19:00 WIB

 

 

Dari Buruh Tambang Jadi Juragan Cobek, Perjalanan Hidup Pak Suroso Bikin Haru!
Dari Buruh Tambang Jadi Juragan Cobek, Perjalanan Hidup Pak Suroso Bikin Haru!

BLITAR – Jalan hidup tak selalu sesuai impian. Begitu pula dengan kisah Pak Suroso, warga Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Dari buruh tambang hingga merantau ke Malaysia, ia akhirnya menemukan jalan sukses sebagai juragan cobek batu.

Perjuangan pria kelahiran 1977 ini penuh lika-liku. Ia mengaku sejak kecil sudah akrab dengan batu kali. “Awalnya saya cuma ikut kakak, cari batu di hutan, diketuk-ketuk buat bahan bangunan,” kenang Suroso.

Setelah merantau ke Malaysia, ia sempat bekerja di bangunan bertingkat. Namun, risiko tinggi membuatnya kembali ke Jawa. “Sesusah-susahnya hidup di sini, lebih berat di perantauan. Di sana bangunan bisa 30 tingkat, ngeri. Lebih enak usaha kecil-kecilan di kampung,” ujarnya.

Tahun 2001 menjadi titik balik hidupnya. Saat itu, di usia 24 tahun, ia mulai serius menekuni usaha cobek batu. Awalnya hanya ikut kakaknya, lalu mencoba memproduksi sendiri. Meski banyak jatuh bangun, tekadnya untuk mandiri semakin kuat.

Modal usahanya sempat terhenti karena kehabisan biaya. Saat itu, istrinya rela berangkat menjadi TKW di Taiwan demi mendukung usaha keluarga. Selama tiga tahun, hasil kerja keras sang istri menjadi penopang finansial untuk usaha cobek yang kembali bangkit.

“Yang paling berat itu biaya sekolah anak,” ujar Suroso dengan mata berkaca. Saat itu, anaknya bercita-cita masuk fakultas kedokteran. Dukungan penuh dari istrinya membuat ia terus bekerja keras meski biaya kuliah sangat tinggi. Kini, sang anak berhasil menempuh pendidikan kedokteran di UM Surabaya.

Selain kerja keras, Suroso meyakini sedekah menjadi kunci keberkahan usahanya. Ia menceritakan sebuah pengalaman yang tak pernah ia lupakan. “Hari itu saya harus bayar karyawan Rp9 juta. Uang saya cuma Rp400 ribu. Istri saya bilang, ‘Mas, separuh buat anak yatim.’ Akhirnya saya kasih Rp200 ribu. Besoknya langsung ada pembeli datang borong cobek. Rezeki dilipatgandakan,” ungkapnya.

Kini, usaha cobek batu Suroso berkembang pesat. Ia mempekerjakan sekitar 10 orang pengrajin di sekitar desanya. Dalam sehari, satu pengrajin bisa menghasilkan 40–50 cobek, tergantung ukuran. Harga cobek pun bervariasi, mulai Rp7.500 untuk ukuran kecil hingga Rp90 ribu untuk ukuran besar.

Pemasaran cobek karyanya menjangkau berbagai daerah. Awalnya ia menjajakan 30 cobek dengan motor hingga ke Batu, Malang, dan Blitar. Dari situ, jaringan pembeli mulai terbentuk. “Saya kasih kartu nama ke pasar-pasar. Seminggu kemudian ada yang telepon, minta ukuran tertentu. Padahal di gudang sudah penuh. Dari situ usaha makin jalan,” jelasnya.

Baca Juga: Petani di Kota Blitar Mengeluh Sampah Tumpah dari Truk Pengangkut Sampah

Selain cobek, ia juga memiliki usaha sampingan kolam ikan lele, patin, hingga gurame. Namun, cobek tetap menjadi sumber utama penghasilan keluarganya. Dengan kesederhanaan, ia bersyukur bisa membiayai pendidikan anak-anaknya.

“Orang tua banting tulang cuma ingin anaknya sukses. Kalau anak berhasil, orang tua ikut bahagia. Itu tujuan utama saya,” tutur Suroso.

Bagi Suroso, keberhasilan tidak hanya soal materi. Momen kebersamaan dengan istri dan dua anaknya adalah kebahagiaan sejati. “Kumpul keluarga, bergurau, itu sudah cukup buat saya,” ucapnya dengan senyum.

Ia berpesan kepada generasi muda untuk tidak mudah menyerah. “Berusaha sekuat mungkin, saling percaya dengan keluarga, saling dukung. Jangan lupa sedekah meski sedang susah. Nanti Allah yang melipatgandakan,” pesannya.

Meski kini dikenal sebagai juragan cobek di Wajak Kidul, Suroso tetap rendah hati. Ia mengaku masih punya banyak mimpi. “Mudah-mudahan usaha ini bisa lebih maju, jangkau ke luar negeri. Tapi kalaupun tetap kecil-kecilan, saya tetap bersyukur,” katanya.

Dari buruh tambang hingga juragan cobek, kisah hidup Pak Suroso membuktikan bahwa kerja keras, dukungan keluarga, dan keikhlasan berbagi adalah kunci keberhasilan.

 

Editor : Anggi Septian A.P.
#inspiratif #tulungagung #cobek batu