BLITAR – Dari desa kecil di Tulungagung, sebuah produk lokal kini menjangkau pasar besar di Malang hingga Blitar. Cobek batu dari Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, sukses menjadi salah satu produk UMKM yang digemari konsumen lintas daerah.
Kisahnya bermula pada 2001, ketika Pak Suroso memutuskan untuk menekuni usaha cobek batu. Berawal dari keterpaksaan dan kondisi ekonomi yang sulit, kini cobek produksinya menjadi buruan pedagang hingga luar kota.
“Awalnya saya hanya ikut kakak membuat cobek. Lama-lama saya coba sendiri, meski jatuh bangun. Pernah satu rumah penuh cobek, tapi tidak ada pembeli,” kenangnya.
Keputusan besar diambil saat istrinya mendorong agar ia berani keluar menjual cobek langsung ke pasar. Bermodal 30 biji cobek dan sepeda motor, ia berkeliling ke Batu, Malang, hingga Blitar. Hasilnya tak sia-sia. Dari 30 cobek, 25 berhasil terjual. Sisanya ia bagikan kartu nama, yang kemudian berbuah pesanan rutin.
Sejak saat itu, cobek batu Tulungagung mulai dikenal luas. Produk yang terbuat dari batu kali ini digemari karena kualitasnya kuat, tahan lama, dan harganya terjangkau. Ukurannya beragam, mulai dari diameter 16 cm hingga 40 cm, dengan harga antara Rp7.500 hingga Rp90 ribu per biji.
“Proses pembuatan cobek itu cukup rumit. Batu dipotong, dibelah, dibentuk bundar, lalu dibubut. Rata-rata satu cobek butuh waktu sepuluh menit, tergantung besar kecilnya,” jelas Suroso.
Kini, usaha cobeknya mempekerjakan sekitar 10 orang pengrajin dari desa sekitar. Dalam sehari, satu orang bisa menghasilkan 40 hingga 50 cobek. Keberadaan usaha ini bukan hanya menghidupi keluarganya, tapi juga memberi lapangan pekerjaan bagi warga desa.
“Kalau pekerja banyak, produksi bisa melimpah. Kalau sedikit ya seadanya. Tapi alhamdulillah, usaha ini bisa tetap jalan dan memberi penghasilan,” tambahnya.
Pemasaran cobek batu Tulungagung tak lagi sebatas pasar lokal. Dengan jaringan pembeli dari Malang hingga Blitar, produk ini memiliki peluang besar masuk ke pasar lebih luas. Terlebih, tren ekonomi kreatif dan UMKM saat ini memberi angin segar bagi produk tradisional.
Meski demikian, perjalanan usaha ini tidak selalu mulus. Suroso pernah kehabisan modal hingga terpaksa istrinya bekerja di Taiwan selama tiga tahun untuk menopang kebutuhan. Dari hasil kerja keras itu, usaha cobeknya kembali bangkit.
“Yang paling berat itu waktu anak sekolah, biayanya tinggi sekali. Tapi alhamdulillah dengan dukungan istri, usaha ini bisa bertahan,” ujarnya.
Selain fokus pada usaha, Suroso juga memegang prinsip berbagi. Ia tak pernah melupakan sedekah, bahkan di saat kondisi keuangan terjepit. “Waktu itu saya harus bayar karyawan Rp9 juta, padahal uang di tangan hanya Rp400 ribu. Istri saya bilang, separuh disedekahkan. Saya ikuti. Besoknya ada pembeli besar datang, borong cobek. Itu jadi pelajaran berharga bagi saya,” ceritanya.
Kini, keberhasilan cobek batu Tulungagung semakin membuka peluang ekonomi desa. Produk ini bukan hanya sekadar alat dapur, tetapi juga simbol ketekunan dan kearifan lokal. Dengan kualitas yang tak kalah dari produk modern, cobek batu tetap bertahan di tengah gempuran alat masak baru.
Pak Suroso berharap cobek batu dari desanya bisa menembus pasar nasional, bahkan internasional. “Kalau bisa, jangan hanya Malang atau Blitar. Mudah-mudahan bisa sampai luar negeri. Saya percaya, produk lokal ini punya potensi besar,” pungkasnya.
Dari Desa Wajak Kidul, cobek batu Tulungagung membuktikan bahwa UMKM desa mampu bersaing. Dengan ketekunan, dukungan keluarga, dan semangat berbagi, usaha kecil bisa tumbuh menjadi penggerak ekonomi daerah.
Editor : Anggi Septian A.P.