Pakar Internasional: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5% Tidak Didukung Bukti
Rahma Nur Anisa• Kamis, 18 September 2025 | 03:00 WIB
ekonom yang pernah menyaksikan langsung krisis keuangan Asia 1997 ini menyatakan bahwa tidak ada bukti konkret yang mendukung angka pertumbuhan tersebut.
BLITAR KAWENTAR - Pakar ekonomi internasional yang pernah menyaksikan krisis keuangan Asia 1997 mempertanyakan klaim pertumbuhan ekonomi Indonesia 5%, menyebut tidak ada bukti empiris yang mendukung angka tersebut.
Klaim pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5% mendapat sorotan tajam dari seorang pakar ekonomi internasional yang telah lama mengamati perkembangan ekonomi Asia Tenggara.
Dalam wawancara mendalam, ekonom yang pernah menyaksikan langsung krisis keuangan Asia 1997 ini menyatakan bahwa tidak ada bukti konkret yang mendukung angka pertumbuhan tersebut.
Keraguan ini didasarkan pada sejumlah indikator ekonomi riil yang menunjukkan tren berlawanan dengan klaim pertumbuhan. Data penjualan mobil Indonesia mengalami penurunan dalam dekade terakhir, fenomena yang dianggap tidak wajar untuk ekonomi yang sedang tumbuh. Sebagai perbandingan, Malaysia dengan populasi yang jauh lebih kecil kini menjual lebih banyak mobil dibandingkan Indonesia.
Konsumsi semen, yang menjadi indikator investasi infrastruktur dan konstruksi, juga tidak menunjukkan pertumbuhan yang sesuai dengan klaim 5%. Pakar ini menegaskan bahwa jika benar terjadi investasi yang signifikan, seharusnya konsumsi semen mengalami peningkatan yang substansial.
Bursa saham Indonesia menjadi bukti tambahan keraguan terhadap kinerja ekonomi. Pasar modal Indonesia tercatat sebagai yang berkinerja terburuk di dunia tahun ini, mencerminkan kondisi riil pendapatan perusahaan-perusahaan dalam negeri yang tidak sejalan dengan klaim pertumbuhan ekonomi makro.
Momentum pertumbuhan Indonesia dinilai telah memudar dalam tiga hingga empat tahun terakhir, bahkan sebelum pemerintahan baru berkuasa. Kondisi ini diperparah oleh apa yang disebut sebagai "guncangan China" yang berdampak negatif terhadap sektor manufaktur Indonesia.
Guncangan China merujuk pada strategi "China plus one" yang diharapkan dapat mengalihkan investasi dari China ke negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Indonesia malah kebanjiran produk murah dari China akibat kelebihan kapasitas produksi negara tersebut.
Dampak ini sangat dirasakan oleh produsen skala kecil dan menengah di Indonesia yang tidak mampu bersaing dengan harga produk China. Kondisi serupa juga dialami Thailand, menjadikan kedua negara ini yang paling terdampak guncangan China di kawasan ASEAN.
Pakar ekonomi ini juga mengamati fenomena perpindahan tenaga kerja dari sektor manufaktur kembali ke pertanian, yang mengindikasikan penurunan lapangan kerja di sektor industri.
Hal ini bertolak belakang dengan pola pembangunan ekonomi yang sehat, di mana seharusnya terjadi perpindahan dari pertanian ke industri dan jasa.
Ketidaksesuaian antara data makro ekonomi dengan indikator-indikator riil ini menimbulkan pertanyaan serius tentang akurasi perhitungan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan efektivitas kebijakan ekonomi yang sedang diterapkan. (*)