BLITAR-Kisah inspiratif datang dari seorang ibu rumah tangga di Blitar. Berawal dari modal Rp8.000, Enny Herawati berhasil membangun usaha rumahan permen tape yang kini dikenal luas, bahkan hingga ke luar negeri.
Perjalanan Enny dimulai pada akhir 1990-an. Kala itu, ia hanya bermodalkan uang seadanya dan sepeda ontel untuk berkeliling menjajakan dagangan. Produk permen tape yang ia kreasikan perlahan mendapat tempat di hati masyarakat. “Dulu saya bawa permen pakai sepeda keliling kampung. Hasilnya kecil, tapi saya yakin kalau tekun, pasti bisa berkembang,” kenangnya.
Meski sempat terhenti selama lima tahun akibat inflasi dan mahalnya harga gula, Enny tidak menyerah. Ia bangkit kembali dengan semangat baru. Dukungan keluarga dan doa menjadi modal penting untuk terus berusaha. “Saya jatuh bangun, tapi selalu percaya bahwa usaha kecil ini bisa jadi jalan rezeki,” ujarnya.
Kini, UMKM yang diberi nama Permen Tape Rukun itu sudah berkembang pesat. Produksinya rutin dipasarkan ke Blitar, Surabaya, Malang, hingga Gresik. Bahkan, permennya sudah menembus pasar internasional lewat pesanan pekerja migran Indonesia di Hongkong dan Taiwan.
“Biasanya mereka pesan untuk oleh-oleh atau dijual lagi di sana. Rasanya unik, karena tape jarang diolah jadi permen. Itu yang bikin banyak orang suka,” jelas Enny.
Dalam kondisi normal, produksi harian mencapai 90 kilogram. Menjelang Lebaran, jumlah itu bisa melonjak hingga satu kuintal per hari. Meski begitu, Enny tetap mengutamakan kualitas dan menjaga cita rasa agar permen tape khas Blitar ini tetap konsisten.
Keuletan Enny bukan hanya memberi manfaat bagi keluarganya, tetapi juga membantu lingkungan sekitar. Beberapa warga lokal ikut bekerja membantunya memproduksi permen. Dengan begitu, usahanya juga membuka lapangan kerja meski skala kecil.
Bagi Enny, usaha ini bukan sekadar mencari keuntungan. Ada misi lain yang lebih besar: menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin. Dari hasil usaha permen tape, ia berhasil mengantarkan dua anaknya lulus perguruan tinggi hingga ke jenjang S2. “Saya hanya lulusan SMA, tapi anak-anak harus lebih tinggi pendidikannya. Itu doa saya sejak awal,” tuturnya haru.
Kisah perjuangan Enny menunjukkan bagaimana ketekunan bisa mengubah kehidupan. Dari modal kecil, kegigihannya kini membuahkan hasil besar. Ia berharap UMKM sepertinya mendapat lebih banyak perhatian agar bisa terus berkembang dan bersaing, baik di pasar lokal maupun internasional.
“Harapan saya sederhana, semoga usaha ini bisa terus ada, jadi oleh-oleh khas Blitar, dan bisa mengangkat nama daerah,” pungkasnya.
Editor : Anggi Septian A.P.