Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Modal Receh Jadi Ekspor: UMKM Permen Tape Blitar Tembus Pasar Luar Negeri!

Ichaa Melinda Putri • Jumat, 19 September 2025 | 01:40 WIB
Modal Receh Jadi Ekspor: UMKM Permen Tape Blitar Tembus Pasar Luar Negeri!
Modal Receh Jadi Ekspor: UMKM Permen Tape Blitar Tembus Pasar Luar Negeri!

BLITAR-Usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Blitar terus membuktikan daya tahannya. Salah satu kisah menarik datang dari Enny Herawati, pemilik Permen Tape Rukun asal Kecamatan Selopuro, yang sukses membawa produknya menembus pasar internasional.

Dengan modal awal hanya Rp8.000 pada akhir 1990-an, Enny memulai usaha sederhana memproduksi permen tape. Produk unik berbahan dasar tape ini awalnya dipasarkan dengan cara berkeliling kampung menggunakan sepeda ontel. Permennya disukai karena menawarkan rasa manis legit khas fermentasi singkong.

Namun perjalanan usahanya tidak selalu mulus. Inflasi dan naiknya harga gula pada awal 2000-an membuat produksi permen tape nyaris berhenti. Enny bahkan sempat vakum selama hampir enam tahun. “Waktu itu inflasi membuat harga bahan baku melonjak. Saya sampai berhenti total, lalu sempat ikut bekerja di tempat lain,” ungkap Enny.

Kondisi itu membuatnya hampir putus asa. Namun kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anak-anak kembali menjadi motivasi besar. Pada 2008, ia memberanikan diri untuk memulai lagi usaha permen tape. “Saya pikir, kalau tidak dicoba bangkit, usaha ini bisa hilang begitu saja. Padahal sudah dirintis dari nol,” ujarnya.

Keputusan itu terbukti tepat. Perlahan, Permen Tape Rukun bangkit dan berkembang. Kini, permennya dipasarkan ke berbagai daerah, mulai dari Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Malang, hingga Surabaya dan Gresik. Tidak hanya itu, produk ini juga diminati pasar luar negeri, khususnya Hongkong dan Taiwan.

“Banyak pekerja migran Indonesia di luar negeri yang pesan. Mereka menjadikan permen tape sebagai oleh-oleh atau dijual kembali di sana,” kata Enny.

Dalam satu hari, produksi permen tape bisa mencapai 90 kilogram. Menjelang momen Lebaran, permintaan melonjak hingga lebih dari satu kuintal per hari. Meski kapasitas mesin terbatas, Enny tetap menjaga kualitas rasa dan kemasan agar konsumen puas.

Selain memperkuat pasar domestik, Enny berharap ada dukungan lebih besar dari pemerintah untuk membantu UMKM skala kecil sepertinya. Tantangan utama yang ia hadapi adalah harga bahan baku yang fluktuatif, terutama kelapa dan gula. “Kalau harga bahan naik, kami sulit menaikkan harga jual karena pasar lokal tidak selalu bisa menerima,” jelasnya.

Kisah bangkitnya Permen Tape Rukun menjadi bukti bahwa UMKM bisa bertahan meski diterpa badai inflasi. Inovasi produk, konsistensi menjaga kualitas, serta keteguhan untuk terus berusaha menjadi kunci.

Kini, Enny tidak hanya menghidupi keluarganya lewat usaha ini, tetapi juga membantu memberi pekerjaan tambahan bagi beberapa warga sekitar. Bagi pelaku UMKM di Blitar, perjalanannya menjadi inspirasi bahwa usaha kecil bisa punya dampak besar, bahkan menembus pasar ekspor.

“Yang penting jangan mudah menyerah. Jatuh bangun itu biasa dalam usaha. Tapi kalau terus berjuang, hasilnya akan mengikuti,” pungkas Enny.

Editor : Anggi Septian A.P.
#umkm blitar #Ekspor Produk #ekonomi lokal