BLITAR-Produk UMKM dari Blitar kembali mencuri perhatian. Permen tape khas Selopuro, yang diproduksi Enny Herawati sejak akhir 1990-an, kini dikenal hingga ke luar negeri. Namun di balik keberhasilannya, ada tantangan besar yang masih dihadapi: harga bahan baku yang fluktuatif dan dukungan pemerintah yang dirasa belum maksimal.
Enny menuturkan, salah satu kendala utama dalam produksi adalah harga gula dan kelapa yang tidak menentu. Kedua bahan itu merupakan komponen penting dalam pembuatan permen tape. “Kalau harga gula atau kelapa naik, kami bingung. Karena kalau harga jual dinaikkan, konsumen lokal bisa keberatan. Jadi kadang harus menahan untung kecil,” katanya.
Meski begitu, permen tape produksinya tetap diminati pasar. Selain dipasarkan di Blitar, produknya juga dikirim ke Malang, Surabaya, Gresik, dan beberapa kota besar lain di Jawa Timur. Bahkan, ada pesanan rutin dari pekerja migran Indonesia di Hongkong dan Taiwan. “Permen tape ini unik, jadi banyak orang cari untuk oleh-oleh. Kadang dikirim sampai luar negeri,” jelas Enny.
Dalam kondisi normal, Enny mampu memproduksi sekitar 90 kilogram per hari. Menjelang Lebaran, jumlah itu bisa melonjak hingga satu kuintal. Namun kapasitas produksi belum bisa ditingkatkan lebih besar karena keterbatasan mesin dan biaya operasional.
Di sisi lain, Enny mengapresiasi program pelatihan yang sesekali diberikan pemerintah kepada pelaku UMKM. Namun menurutnya, bantuan nyata dalam bentuk subsidi bahan baku atau akses pasar akan lebih membantu. “Kalau pelatihan sih bagus, tapi masalah utama kami itu harga bahan dan pemasaran. Kalau ada jalur distribusi yang lebih luas atau bantuan harga bahan, UMKM bisa lebih kuat,” harapnya.
Menurut Enny, UMKM seperti permen tape bukan hanya soal bisnis, tetapi juga budaya lokal. Produk khas daerah bisa menjadi identitas yang mendukung pariwisata dan meningkatkan ekonomi warga. Oleh karena itu, ia berharap pemerintah memberi perhatian lebih agar produk UMKM bisa bertahan dan berkembang.
“Permen tape ini sudah puluhan tahun ada, dan alhamdulillah bisa menghidupi keluarga saya. Tapi untuk ke depan, harus ada dukungan supaya tidak kalah dengan produk modern. UMKM kecil seperti ini kalau tidak didampingi, bisa hilang,” pungkasnya.
Kisah Enny menjadi gambaran nyata bahwa UMKM berperan besar dalam ekonomi lokal, sekaligus membutuhkan strategi berkelanjutan dari pemerintah. Jika tantangan harga bahan baku bisa diatasi, produk-produk lokal seperti permen tape Blitar punya peluang besar untuk bersaing, bahkan di pasar global.
Editor : Anggi Septian A.P.