BLITAR - Kreativitas dan kegigihan membawa Wahyu Nur Cahyo, warga Desa Selokajang, Kecamatan Srengat, menemukan peluang yang menjanjikan. Pernah jadi tukang bangunan, kini sukses merintis usaha pembuatan sangkar burung kustom yang banyak diminati pengobi burung kicau yang diberi nama Nc Sangkar.
Di salah satu rumah warga di Desa Selokajang, Kecamatan Srengat, terdapat pemuda yang tengah sibuk merakit sangkar burung. Wahyu Nur Cahyo Namanya. Berawal dari keinginanya untuk memulai usaha, Wahyu mengaku pernah bekerja sebagai kuli bangunan, namun ia merasa penghasilanya tidak stabil.
Dari situ muncul keinginan untuk mencari sumber pemasukan lain. Kebetulan dia juga pecinta burung kicau, khususnya jenis Kenari. ”Dari situ saya punya ide untuk membikin sangkar sendiri. Sangkar kustom hasil modifikasi,” ungkapnya.
Wahyu langsung mencobanya dengan memanfaatkan sangkar bekas di rumah. Sangkar itu lantas dipermak menjadi seperti sangkar baru. ”Caranya, saya cat pakai kuas. Saat itu belum pakai dempul dan lainnya. Ternyata ada tetangga yang tertarik dan lama-lama banyak orang yang minta sangkarnya dipermak,” ceritanya.
Wahyu mengawali usahanya pada 2024 dengan modal keterampilan otodidak. Melihat peluang pasar, dia kemudian menelusuri standar pembuatan sangkar, belajar melalui video tutorial di kanal YouTube, hingga akhirnya memproduksi sangkar mentahan. “Meski hasil awalnya belum terlalu sempurna, peminatnya sudah ada,” ujarnya.
Dengan memakai kayu jati, wahyu mengungkapkan kalau kayu jati merupakan bahan yang cocok untuk sangkar yang diproduksinya karena kekuatanya. Untuk bahan utamanya, dia peroleh dari temanya di kawasan hutan pegunungan Wilis. “Untuk model sangkar sendiri tergantung peminat dan pesanan. Kebanyakan permintaan kustom pada bagian mahkota sangkar, sabuk, ruji sangkar, serta decalnya,” tuturnya.
Untuk decal, Wahyu mengedit sendiri desainya dengan berbagai corak menyesuaikan permintaan konsumen. Biasanya, desain gambar yang dipesan seperti karakter tokoh wayang, nama pemilik atau peternakan hingga tokoh kartun atau anime.
Harga sangkar mentahan dibanderol sekitar Rp110 ribu. Namun, untuk kustom penuh, harganya bisa mencapai Rp500 hingga 600 ribu. Proses pengerjaan satu sangkar kustom membutuhkan waktu 3–4 hari melalui tahapan dari perlas, dempul, sending, foxi, cat, decal, hingga finishing.
Untuk pemasaran, Wahyu selama ini mengandalkan pemasaran online melalui media sosial, khususnya TikTok dan Shopee. Dia kerap mengunggah video sinematik sangkar buatannya hingga menjadi daya tarik pembeli dari berbagai daerah. ”Alhamdulillah, paling jauh pernah kirim ke Kalimantan, Surabaya, Jakarta, Pekalongan, Tuban, sampai Mojokerto,” ujar pria 28 tahun ini.
Dalam sebulan, dia bisa memproduksi sekitar 15 sangkar. Meski masih terkendala dengan alat yang belum lengkap serta proses pengerjaan yang cukup rumit yang memakan waktu, dia tetap optimistis dengan usahanya.
Dia berharap, ke depan bisa mengembangkan usaha sangkar burungnya menjadi lebih besar lagi. ”Target saya suatu saat bisa buka toko sendiri dan menjadikan usaha ini lebih maju,” pungkasnya. (*/sub) (*)